Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
TANPA terasa tinggal tersisa tiga pekan 2016 ini akan kita lewati. Pertanyaan besar, apa yang sudah kita lakukan sepanjang tahun ini? Apakah kita sudah memanfaatkan secara optimal bagi perbaikan kehidupan keluarga kita dan juga bangsa ini? Begitu banyak waktu yang diberikan agar kita bisa meraih kebaikan. Namun, jujur harus kita katakan, banyak waktu yang kita tidak pergunakan untuk kegiatan yang produktif.
Setidaknya sebulan terakhir ini, kita terlibat dalam kontroversi yang nyaris tiada berakhir. Syukurlah kita masih bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa mengelola perbedaan secara bermartabat. Tidak seperti bangsa-bangsa lain yang perbedaan di antara mereka berakhir dengan pertumpahan darah, kita menyelesaikan perbedaan dengan elegan. Pantaslah bila bangsa lain memuji apa yang kita sudah pertontonkan. Bagaimana Jumat lalu orang bisa berkumpul dengan jumlah yang begitu besar, tetapi semua bisa begitu disiplin. Mereka tidak hanya khusyuk berdoa, tetapi juga mampu menjaga kebersihan kota.
Tidak usah heran apabila peristiwa itu tidak berpengaruh kepada pasar modal maupun pasar uang. Bahkan kita melihat penguatan kembali indeks harga saham gabungan setelah terpuruk sejak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS. Kalau aksi seperti Jumat lalu bisa kita gunakan untuk membangun negeri ini, pasti hasilnya akan luar biasa. Salah satu yang membuat bangsa Jepang atau Korea bisa maju ialah karena mereka memiliki disiplin tinggi. Ditambah sistem yang
kuat, mereka menjadi negara industri maju.
Itulah yang sebenarnya kita dambakan. Indonesia menjadi negara industri maju. Dengan modal sumber daya alam yang luar biasa, kita seharusnya bisa lebih maju daripada bangsa Jepang atau Korea. Namun, karena kita tidak pernah memanfaatkan kekuatan manusia, kita bahkan tertinggal jauh dari bangsa Singapura. Untuk itulah kita perlu melakukan revolusi pada sisi manusia. Bagaimana kita menjadi bangsa yang mampu membangun disiplin dan etos kerja.
Dengan itulah maka kita akan bisa menghasilkan produk dan bahkan mengembangkannya menjadi produk yang berkualitas lebih tinggi lagi. Sayang 71 tahun kita merdeka, kita hanya mengandalkan sumber daya alam sebagai sumber kemajuan. Ketika sekarang harga komoditas terpuruk, perekonomian kita pun terpuruk. Kita seperti kehilangan daya untuk bisa memajukan negeri ini. Setelah peristiwa 2 Desember lalu seharusnya tidak ada keraguan bagi kita untuk membangun disiplin dan etos kerja. Kalau pemimpin bangsa ini bisa mengelola dengan lebih tepat, kita bisa bangkit untuk mengatasi ketertinggalan dan meraih masa depan yang lebih baik.
Ada pemikiran yang dilontarkan mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Tanri Abeng untuk menjadikan desa sebagai kekuatan ekonomi. Dengan menggerakkan 56 juta petani, nelayan, serta usaha kecil dan menengah, kita tidak hanya akan mendapatkan pertumbuhan, tapi juga secara bersamaan melakukan pemerataan. Dengan pendekatan itu, stabilitas yang kita dapatkan akan lebih solid. Selama ini kita lebih terfokus mengejar pertumbuhan semata. Akibatnya pembangunan memang
bisa dipacu, tetapi begitu banyak warga yang tertinggal.
Ketika kekecewaan itu semakin memuncak, rasa ketidakadilan itu mencuat. Pelajaran penting yang kita dapatkan, marilah membangun negeri yang bisa menyejahterakan kita bersama. Jangan biarkan kesenjangan itu semakin melebar. Negara harus hadir untuk memberikan pemihakan kepada yang tertinggal. Jangan hanya kelompok yang sudah beruntung terus mendapatkan privilese.
Kedamaian pasti akan bisa kita dapatkan apabila semua pihak menikmati hasil pembangunan ini. Ketika semua merasakan kemajuan, pasti tidak mudah untuk kecewa. Pemerintah pun bisa terus fokus untuk membangun negeri ini karena stabilitas akan membuat orang tidak ragu untuk menanamkan modal di Indonesia.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved