Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Guru Tua

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
06/12/2016 05:00
Guru Tua
(ANTARA/Mohamad Hamzah)

WAHAI bendera kehormatan dan kebesaran bangsa, berkibarlah di angkasa Nusantara yang bumi dan gunung-gunungnya menghijau kaya dan jaya.

Setiap bangsa mempunyai lambang kemuliaan dan kebesarannya masing-masing, dan lambang kebesaran kami bangsa Indonesia adalah Merah-Putih.

Wahai Bung Karno, Anda bahagia dan jaya dengan kebijakanmu dan kearifanmu, jayalah bangsa dan terhindar dari malapetaka dan derita.

Itulah Syair Kemerdekaan Republik Indonesia yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab karya Habib Sayed Idrus bin Salim Aldjufrie yang populer namanya sebagai Guru Tua.

Syair ini ditulis untuk menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia. Habib Sayed ialah seorang pecinta Republik sejak semula.

Guru Tua lahir di Taris, Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892.

Pengagum Bung Karno ini wafat pada 22 Desember 1969.

Sosok yang ilmunya dalam ini mendirikan lembaga pendidikan Alkhairaat di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 30 Juni 1930.

Di kota ini pula kini Alkhairaat memiliki perguruan tinggi, rumah sakit umum, toko, dan radio.

Pendeknya, di Indonesia Timur, Alkhairaat ialah lokomotif pendidikan.

Lembaga ini berkembang pesat, memiliki 1.560 madrasah/sekolah taman kanak-kanak hingga SLTA.

Ia juga memiliki 35 pondok pesantren.

Sekolah dan pesantren itu tersebar di 35 cabang, umumnya di wilayah Indonesia Timur, termasuk Papua.

Lembaga ini juga mempunyai perwakilan di Malaysia, Brunei Darussalam, dan beberapa negara.

Ulama yang pertama kali datang ke Indonesia pada usia 17 tahun ini tak gampang memberi fatwa.

Hanya sekali ia mengeluarkan fatwa, yakni fatwa untuk meneguhkan Indonesia yang masih muda.

Begini fatwanya, "Kita harus tetap berdiri di belakang Bung Karno untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan terjebak oleh bujuk dan rayuan gerakan separatis dari utara (Permesta) dan selatan (DI/TII). Kita tetap berkiblat ke Jakarta."

Urusan setia kepada Jakarta waktu itu tidak sederhana.

Namun, bagi Guru Tua, ini Republik Indonesia merupakan pilihan utama.

Justru dalam kondisi Indonesia tengah kritis karena banyaknya pemberontakan, ia teguh belaka.

Meski banyak pihak merasa daerah dianaktirikan oleh pusat, ia tidak mengambil manfaat untuk berkhianat.

Indonesia adalah tanah airnya untuk selamanya setelah tempat kelahirannya dikuasai imperialis Barat.

Namun yang hebat, Alkhairaat tetap netral dari politik.

Kita tahu beberapa elite organisasi ini pernah berada di beberapa partai, seperti Fadel Muhammad di Golkar, Rendy Lamadjido di PDIP, Salim Segaf Al-Jufrie, cucu Guru Tua, di PKS, dan almarhum KH Idrus Al-Habsy di PBB.

Mereka tetap padu-padan dalam beragam warna politik.

Sejak awal sang Guru memang telah mengajarkan demokrasiIa adalah ulama yang jembar cakrawala pikirnya, dan menyadari bahwa pilihan politik muskil dipaksa menjadi tunggal.

Namanya sejak 2014 telah menggantikan nama bandara Palu, Mutiara.

Ia juga tengah diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Di bulan Desember yang penuh hujan tapi udara politik terasa panas, saya ingin mengenang 'sang Habib dari Timur' yang cintanya pada Republik tak pernah bergeser di segala masa.

Di bulan haul sang ulama ini, saya rasa afirmasi 'Indonesia adalah Merah Putih' masih punya fibrasi.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.