Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TEMA besar Kita Indonesia, kemarin, digelorakan melalui acara jalan pagi di kawasan bebas kendaraan bermotor, Jakarta Pusat. Ratusan ribu warga berpartisipasi, berlangsung aman dan damai. Aman dan damai menjadi capaian penting bagi bangsa ini. Seperti terasa mundur, bahwa setelah 71 tahun merdeka, kita masih berurusan dengan aman dan damai. Sejujurnya, itulah yang terjadi.
Bahkan, spirit kebangsaan perlu dicanangkan dan dikawal dalam aman dan damai. Semua itu bermula dari pilkada Jakarta, yang membawa ke permukaan secara dramatis berbagai persoalan bangsa yang rupanya belum selesai sekalipun kita hidup dalam negara tergolong demokrasi terbesar di dunia. Ancaman perpecahan anak bangsa membuat Panglima TNI harus tampil ke depan bersama Kapolri.
Hal yang menunjukkan seriusnya persoalan disintegrasi di tingkat warga yang plural. Pengerahan ratusan ribu warga telah usai, berlangsung aman dan damai. Akan tetapi, sebuah persoalan besar menanti untuk diselesaikan, yaitu kepercayaan kepada pengadilan. Pertama, pengadilan perkara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) secara terbuka. Publik berharap bakal menyaksikan majelis hakim yang berani menunjukkan kemerdekaan mereka.
Apa pun putusannya kiranya dapat memuaskan semua kalangan, baik yang kontra maupun yang pro kepada Ahok. Kedua, pengadilan perkara perihal menantang legitimasi pemerintahan yang sah. Yang terjadi bukan dalam peranan sebagai oposisi di parlemen, melainkan perbuatan melawan hukum, yaitu makar. Dalam urusan itu, publik pun menanti perkaranya diadili secara terbuka.
Apa pun putusan pengadilan, kembali keberanian hakim yang merdeka menjadi penentu. Siapa pun berkuasa harus dikontrol. Oposisi melakukan checks and balances di parlemen. Di alam demokrasi, upaya menjatuhkan presiden di tengah jalan bukan pilihan. Gerakan menggulingkan pemerintah kiranya telah menjadi masa lalu. Bahkan, masa lalu yang mati. Cukuplah tiga presiden jabatannya diakhiri dengan cara tidak enak.
Selanjutnya hendaknya berakhir karena pemilu. Ketiga, ihwal menegakkan fakta publik yang apa adanya di pengadilan. Ada fakta diduga telah ‘disunting’ lalu disebarluaskan melalui teknologi informasi sehingga menimbulkan kebencian. Media sosial pun digunakan untuk menebar ujaran kebencian. Perkaranya pun hendaknya segera diadili secara terbuka. Putusan hakim yang berani, merdeka mengambil putusan, kiranya dapat memberi pelajaran untuk siapa pun agar tak semaunya menggunakan media sosial.
Dalam semua perkara itu, memang dipertaruhkan apa yang tercantum dalam konstitusi, bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Juga yang menyangkut hak asasi manusia, bahwa setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif.
Karena itu, mestinya tidak boleh ada tekanan terhadap jalannya sidang, baik oleh kekuasaan negara maupun tekanan komunal, seperti berupa massa berdemonstrasi yang dapat memengaruhi kekuasaan kehakiman. Sudah tentu, orang berharap, Komisi Yudisial tegak perkasa, berani mengawasi hakim sehingga supremasi hukum berjaya. Ahok sebagai perkara hukum jelas tempatnya, yakni di pengadilan. Ahok sebagai calon gubernur juga jelas tempatnya, yakni di kotak suara. Keduanya baru dapat dikaitkan setelah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved