Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Petral

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
20/5/2015 00:00
Petral
(Grafis/SENO)
SUDAH lama keberadaan Pertamina Trading Oil Limited--atau yang dikenal sebagai Petral--sebagai penyebab biaya tinggi pengadaan minyak dalam negeri itu digugat. Namun, baru Rabu (13/5) pemerintah berketetapan hati menutup operasi Petral sebagai pemasok tunggal kebutuhan minyak Pertamina. Tim Antimafia Migas yang dipimpin Faisal Basri sampai pada rekomendasi untuk membubarkan Petral karena perusahaan itu bukan membantu Pertamina, melainkan malah membebani. Margin yang diambil Petral terlalu besar dan akhirnya seluruh rakyat yang harus menanggung bebannya. Padahal, Petral--yang dulu namanya Perta Oil--dibentuk Presiden Soeharto untuk membantu Pertamina dalam pengadaan minyak.

Setelah krisis Pertamina yang membuat pemerintah harus menanggung beban utang, Presiden Soeharto berharap ada perusahaan yang bisa melakukan transaksi minyak tanpa harus menjadikan pemerintah sebagai jaminannya. Oleh karena itu, perusahaan dagang tersebut berkedudukan di Hong Kong. Harapannya, apabila terjadi sesuatu, tanggung jawab terbatas kepada perusahaan Hong Kong tersebut. Sebagai pemasok tunggal, Petral ternyata melenceng dari peran yang seharusnya.  Mereka tidak menjadi kepanjangan tangan yang membuat Pertamina lebih efisien, tetapi malah jadi sapi perah banyak pihak. Puncaknya ialah korupsi yang terjadi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada pemerintahan terakhir Susilo Bambang Yudhoyono. Direktur Pertamina yang baru Dwi Soetjipto menata ulang tata niaga pengadaan minyak pada perusahaan yang dipimpinnya.

Integrated Supply Chain Pertamina mengadakan sendiri pengadaan minyak bagi mereka. Posisi Petral tidak lagi sebagai perantara, tetapi kedudukan mereka sama dengan national oil company, multinational oil company lainnya yang menawarkan minyak kepada Pertamina. Dengan banyak pilihan penawaran, Pertamina bisa mendapatkan pembanding. Dalam tiga bulan pertama 2015 ini, menurut Dwi Soetjipto, Pertamina bisa menghemat lebih dari US$22 juta dari pengadaan minyak. Kasus Petral membukakan mata kita akan bahaya monopoli. Begitu mudah banyak masuk kepentingan dan Petral pun menjadi bancakan. Apalagi, bisnis minyak begitu menggiurkan dan akhirnya melahirkan ketamakan.

Kita hargai penataan yang dilakukan direksi baru Pertamina. Apalagi ada kesadaran dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said serta Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno untuk mendukung penataan ulang sistem yang dilakukan Pertamina. Kita berharap ada kesadaran untuk berhenti merugikan negara. Kita juga berharap perubahan di Pertamina bukan hangat-hangat cirit ayam. Ada konsistensi untuk menjaga perubahan yang sudah terjadi. Bahkan seluruh jajaran Pertamina mau untuk terus melakukan perubahan demi tercapainya perbaikan. Saat bertemu dengan para pemimpin redaksi media massa, Senin (11/5), Dirut Pertamina menggambarkan gagasan besar yang ingin dilakukan yang hanya bisa direalisasikan lewat transformasi besar di tubuh Pertamina. Itu agar Pertamina mampu sebagai lokomotif pembangunan negeri ini. Tantangan itu hanya bisa dijawab Pertamina sendiri. Apakah seluruh jajaran Pertamina sungguh-sungguh ikut berperan, sejarah yang membuktikan.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.