Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Korupsi Pajak

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
26/11/2016 05:31
Korupsi Pajak
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

BELUM habis pujian kita berikan kepada aparat Direktorat Jenderal Pajak yang bekerja luar biasa pada periode pertama pelaksanaan amnesti pajak. Tanpa mengenal lelah mereka melayani dengan baik semua yang akan mengikuti program amnesti pajak. Hasilnya, periode pertama mampu mendapatkan deklarasi pajak sekitar Rp3.500 triliun dan uang tebus sebesar Rp97 triliun. Semua kerja keras itu seperti tersapu ketika petugas Ditjen Pajak tertangkap tangan melakukan korupsi.

Handang Soekarno ditangkap KPK menerima uang tunai US$148.500 dari Direktur Utama PT EK Prima Ekspor Indonesia Rajesh Rajamohanan Nair. Dugaan sementara, perusahaan itu mempunyai utang pajak Rp87 miliar. Handang mencoba membantu menghapuskan pajak itu dengan memanfaatkan amnesti pajak. Sebagai imbalannya, Handang mendapatkan bayaran 10% dari utang pajak yang seharusnya dibayarkan. Tindakan tercela itu tentunya menyakiti aparat pajak yang sudah bekerja baik.

Perbuatan itu juga menyakiti masyarakat yang sudah patuh memenuhi kewajibannya dan mendukung upaya pemerintah memperbaiki data wajib pajak melalui amnesti pajak. Perbuatan Handang meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pajak. Sulit untuk dipercaya, pajak merupakan alat untuk menopang pembangunan sekaligus alat mendistribusikan kemakmuran.

Ternyata perilaku aparat pajak belum berubah untuk menjadikan profesinya sebagai alat memperkaya diri. Hal ini tentunya akan menyulitkan pemerintah untuk bisa mencapai target perolehan pajak. Sampai minggu ketiga November, penerimaan pajak baru sekitar Rp950 triliun. Semakin mustahil untuk bisa mendapatkan Rp400 triliun dalam lima pekan terakhir ini.

Tidak mengherankan apabila Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terpukul dan kecewa. Di tengah upaya reformasi yang dilakukan, khususnya memperbaiki sistem perpajakan, mengevaluasi besaran pajak, serta memperbaiki birokrasi perpajakan, ternyata ada tindakan tercela yang dilakukan aparatnya. Di samping upaya perbaikan dari tata kelola, tidak keliru untuk mengevaluasi tarif pajak.

Jangan-jangan tarif pajak yang berlaku sekarang menyebabkan rendahnya kepatuhan. Ketidakrelaan terhadap besarnya pajak membuat orang mencari jalan mengakalinya. Tindakan tercela ini tidak mungkin terjadi karena satu pihak. It takes two to tango. Perbuatan ini sudah berulang-ulang. Kasus Gayus Tambunan muncul karena ada keinginan untuk merekayasa pajak yang harus dibayarkan.

Dengan tarif pajak perusahaan 25% sekarang ini, akhirnya banyak rekayasa yang dilakukan. Banyak orang Indonesia membuat perusahaan di luar negeri. Mereka kemudian melakukan transfer pricing agar bisa mendapatkan tarif pajak yang lebih murah. Singapura merupakan negara yang membuka kesempatan pengusaha Indonesia memanfaatkan celah. Orang memilih Singapura karena lebih pasti dan pajak perusahaannya lebih rendah.

Pajak perusahaan di Singapura sekarang ini 17% dan pengusaha masih bisa mendapatkan insentif sehingga pajak bersihnya 8,4%. Kita tidak menutup mata, seperti dikatakan Menkeu, Indonesia berbeda dengan Singapura. Kita membutuhkan biaya yang jauh lebih besar daripada Singapura untuk membangun infrastruktur. Namun, kita lihat Presiden Terpilih AS Donald Trump tidak hanya mengandalkan pajak untuk membangun infrastruktur di negaranya.

Setelah dilantik nanti Trump akan menurunkan pajak perusahaan dari 35% menjadi 15%. Apa yang ingin didapatkan Trump? Investasi yang akan masuk ke AS. Dengan investasi yang lebih besar, peran pembangunan bisa dialihkan dari negara ke swasta. Dengan banyaknya bisnis yang dikembangkan, masyarakat AS akan bisa mendapatkan pekerjaan. Dengan itulah negara kemudian bisa mendapat kompensasi penerimaan pajak.

Republik Irlandia sudah membuktikan penurunan tarif pajak memberi manfaat bagi percepatan pembangunan. Mengapa kita tidak memikirkan itu sebagai alternatif sekaligus mencegah potensi terjadinya penyalahgunaan wewenang?



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan