Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
MAKAR belum lenyap dari pikiran segelintir anak bangsa, tepatnya dari pikiran pihak-pihak tertentu. Padahal, dari kacamata konstitusi, itu pikiran sesat. Makar di negara demokratis, kiranya termasuk keganjilan dunia. Koran Suara Mer deka, Selasa (22/11) Legi, menurunkan kepala berita sangat gamblang, di halaman depan, ‘Polri dan TNI Endus Upaya Makar’. Dengan didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Kanavian mengatakan ada pihak-pihak tertentu yang telah menyusun rencana makar.
Mereka menyusun sejumlah agenda besar antara lain menduduki Gedung DPR dan MPR serta menyusup dalam acara unjuk rasa yang akan dilaksanakan pada 25 November dan 2 Desember 2016. Kapolri menegaskan, menduduki Gedung DPR merupakan perbuatan melanggar hukum dan masuk kategori tindak pidana makar. Menduduki Gedung DPR berbeda dengan mendatangi Gedung DPR. Menduduki berarti menaklukkan, merebut, dan menguasai, bahkan menjajah dengan kekerasan.
Itulah sebutan yang dipakai suatu masa dalam sejarah, yaitu masa pendudukan Jepang. Singkat, 3,5 tahun, tapi sadis. Sebaliknya, mendatangi Gedung DPR bermaksud untuk mengadu kepada wakil rakyat karena percaya. Menduduki Gedung DPR bukan saja tidak percaya, melainkan juga perbuatan menista lembaga negara, lembaga legislatif. Karena itu, di luar kewarasan konstitusi, kalau ada anggota DPR senang Gedung DPR diduduki pihak-pihak tertentu.
Lebih tak waras lagi kalau perbuatan menduduki Gedung DPR itu justru dikehendaki terjadi oleh anggota DPR, bahkan pimpinannya. Seharusnya semua anggota DPR menunjukkan muruah dan martabatnya terhadap siapa pun yang bermaksud menduduki Gedung DPR. Mereka harusnya pasang jiwa dan raga bersama TNI dan Polri mengawal Gedung DPR, tempat
mereka selaku penyelenggara negara bersidang mengambil keputusan-keputusan besar dan terhormat, demi rakyat, bangsa, dan negara.
Menyedihkan bila patriotisme itu tidak menyala-nyala di dada wakil rakyat yang terhormat. Menyedihkan bila anggota parlemen hasil pemi lu tidak bertindak melawan parlemen jalanan yang berencana menduduki gedung parlemen yang sah. Lebih menyedihkan lagi kalau ada di antara mereka justru ikut menjadi tukang kipas agar pendudukan Gedung DPR itu terjadi.
Semua itu nyanyian untuk anggota DPR, hasil pilihan rakyat. Rakyat sendiri, yang empunya mandat, apa yang mesti dilakukan? Sabar, ada waktunya mencabut mandat. Tunggu pemilu, lima tahun sekali. Bagi anak bangsa yang menentang makar, tidak usah naik darah. Tidak usah marah, tidak usah memaki, tidak usah mengumpat. Tidak usah menambah panjang daftar penderita stroke. Lebarkan dada, lapangkan pikiran, katakan dalam hati, “Kurang kerjaan, hari gini masih kepikiran makar.”
Jalani hidup ini dengan semua kewarasannya. Petani ke sawah, nelayan ke laut. Pedagang ke pasar, pegawai ke kantor. Mahasiswa ke kampus. Bagi yang biasa beryoga, beryogalah, bagi yang biasa berjoging, berjoginglah. Teruskan, jangan terganggu. Pernapasan dan aliran darah tetap perlu lancar mengalir. Ajakan makar melalui media sosial juga tak perlu ditanggapi, terlebih membalasnya dengan ujaran kebencian.
Hemat energi batin, jangan dibuang-buang untuk membenci sesama anak bangsa. Kembangkan seyum, seraya membatin, “Emang gue pikirin.” Media sosial untuk silaturahim. Pakailah untuk memperluas persaudaraan atau merekatkan kembali silaturahim yang terputus. Bukan untuk menghasut. Betapa indahnya, berkat media sosial, banyak pensiunan bertemu dengan teman-teman semasa SD, lebih 50 tahun lalu.
Saya sendiri, tiap Senin dan Kamis, gara-gara Podium ini, makar terhadap diri sendiri. Makar, mana karyamu. Mana? Seorang teman, sesekali mengajak makar, mari karokean. Afektivitas, rasa sayang sesama anak bangsa, bahkan universal sesama ciptaan Tuhan, harus dipelihara, bukan dirusak. Yang rakyat restui ialah negara tidak boleh kalah oleh pihak-pihak tertentu. Jika keseimbangan terganggu, rakyat terbelah, negara harus campur tangan. Faktanya, dengan caranya, Presiden Jokowi menunjukkan kepemimpinannya.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved