Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI

SUATU hari di April 2013, Presiden Amerika Serikat Barack Obama berkumpul bersama empat mantan presiden di Dallas, Texas.
Mereka berdiri ber-urutan; Obama, George W Bush, Bill Clinton, George HW Bush, dan Jimmy Carter. Mereka hadir dalam peresmian Perpustakaan dan Museum Kepresidenan George W Bush.
Bush, mantan presiden ke-13 AS, yang mendirikan perpustakaan itu.
Ini tentu untuk kesekian kali mereka tampil bersama, dan wajah mereka selalu ceria.
Setiap presiden, kata Bush, harus mengabdi pada perjuangan yang lebih besar dari kepentingan mereka sendiri.
Bush (2001-2009) yang digantikan Obama ialah presiden AS yang mewariskan perang Afghanistan dan Irak. Kebijakan Bush dikoreksi total oleh Obama.
Namun, hari itu Obama memuji sang pendahulunya sebagai tokoh yang tabah menghadapi tragedi yang amat memilukan dan memalukan.
Ia juga memuji Clinton dan Carter, presiden yang amat peduli dalam memerangi AIDS dan malaria di Afrika.
"Angin politik bertiup ke kiri dan kanan. Hasil jajak pendapat naik dan turun. Pendukung datang dan pergi. Tapi pada akhirnya, para pemimpin akan didefinisikan keyakinan yang mereka pegang," kata Bush dalam sambutannya.
Ia mengakhiri jabatannya di tengah ekonomi Amerika yang nyaris ambruk.
Kecaman dari dalam dan luar negeri datang silih berganti.
Bahkan, pengadilan Malaysia menjatuhkan hukuman; Bush sebagai penjahat perang, Namun, pemerintahan Bush tak jatuh hingga suksesi.
Ada kultur kebersamaan yang kental sesama mantan presiden Amerika yang telah terbangun.
Saya tak tahu, menjadi presiden Indonesia beruntung atau sebaliknya sebab kemalangan kerap mengiringinya.
Soekarno, sang proklamator kemerdekaan, dijatuhkan.
Soeharto yang mengantikannya, juga sama-sama punya tragis sendiri.
Ia dijatuhkan mahasiswa.
Juga tak ada kebersamaan antara Soeharto dan BJ Habibie.
Habibie berkuasa dengan goyangan dari Baris-an Nasional.
Poros Tengah seperti membalasnya, pemimpin partai pemenang Pemilu 1999, Megawati Soekarnoputri, dijegal menjadi presiden, dan dimajukanlah Abdurrahman Wahid.
Berikutnya, Abdurahman Wahid dijatuhkan parlemen dan naiklah Megawati.
Gus Dur dan Mega, yang semula serupa adik-kakak, retak jadinya.
Megawati digantikan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan langsung pada 2004 dan 2008.
Hubungan Mega-Yudhoyono juga buruk.
Kini, di tengah suasana nasional yang menegang akibat dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, para elite partai silih berganti saling bertemu untuk mendinginkan suhu.
Jokowi bersafari ke banyak ulama, juga para pemimpin partai. Presiden memang menjadi sasaran caci maki, bahkan ada suara untuk memakzulkan.
Hubungan Jokowi-Yudhoyono memang mene-gang setelah perang pernyataan demonstrasi hingga 'Lebaran Kuda' versus 'aktor politik di belakang aksi massa'.
Namun, sekelas para kepala negara, 'perang terbuka' mestinya harus dihindari.
Politik memang telah ditarik dalam gelanggang ini.
Akibat tekanan massa, Ahok pun ditetapkan sebagai tersangka.
Namun, perang di media sosial justru kian memanas, seolah-olah 'umat Islam' versus pembela NKRI pada posisi berhadap-hadapan. Tentu ini ujian bagi pemerintahan Jokowi.
Jika sistem demokrasi Amerika yang liberal saja mempunyai etika bersatu bagi mantan kepala negaranya, kita yang berfondasi Pancasila justru saling berseteru.
Kebiasaan jatuh-menjatuhkan presiden yang sah secara konstitusional mesti disudahi.
Tunggulah lima tahun.
Jika tidak, akan menjadi kebiasaan yang terus berlanjut. Di saat bangsa lain bersaing untuk kemajuan, kita justru menghabiskan energi untuk saling menghabisi.
Inilah momen terbaik untuk Jokowi, Yudhoyono, Megawati, dan BJ Habibie duduk bersama.
Inilah gotong royong! Kata yang amat dimuliakan Megawati, yang berarti antara lain bahu-membahu, bekerja sama, dan berangkulan. Kita sungguh menunggu, dan semoga tak menunggu godot.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved