Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
LAPORAN bulanan yang disampaikan Badan Pusat Statistik pantas membuat kita tersadar. Begitu lemahnya produk ekspor yang kita miliki sehingga ketika harga komoditas terpuruk seperti sekarang, ekspor kita pun ikut terjerembap. Nilai ekspor kita tahun ini mencapai titik terendah. Hingga akhir Oktober, total ekspor kita tercatat US$140 miliar. Kalaupun dua bulan terakhir kita bisa mendorong ekspor hingga US$12 miliar per bulan, secara total nilai ekspor hanya akan berada pada kisaran US$160 miliar.
Itu terlalu rendah untuk ukuran negeri seperti Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan penduduk yang mencapai 250 juta jiwa. Berulang kali kita sampaikan, sulit dipahami apabila nilai ekspor kita bisa lebih rendah ketimbang Malaysia. Apalagi jika kita melihat Korea Selatan atau Jepang yang boleh dikatakan tidak memiliki sumber daya alam apa pun, tetapi ekspor mereka bisa di atas US$200 miliar.
Semua itu terjadi karena kita tidak cukup kuat mendorong lahirnya industri yang mempunyai nilai tambah tinggi. Kita setengah hati untuk menyambut datangnya investasi. Kita takut untuk memberikan insentif karena merasa sudah cukup memberikan kemudahan. Padahal, kenyataannya tidak banyak kemudahan yang diberikan. Salah satu contohnya ialah dalam pengembangan otomotif. Toyota Motor Corporation (TMC) telah memutuskan untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan serbaguna (multipurpose vehicle).
Kita bisa melahirkan banyak perusahaan pemasok kalau kita sungguhsungguh menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dunia. Thailand sudah merasakan itu ketika dijadikan basis produksi TMC untuk sedan. Pertanyaannya, apakah kita bersungguhsungguh membuat TMC nyaman di Indonesia? Meski sudah triliunan rupiah investasi ditanamkan di Indonesia, pihak TMC masih meragukan kesungguhan Indonesia. Paling mudah saja dalam pengembangan bahan bakar minyak ramah lingkungan.
Ketika dunia sudah sampai standar Euro6, kita masih Euro2. Akibatnya, untuk tes mesin bagi keperluan ekspor, pihak TMC harus mengimpor BBM dari luar negeri. Ketidakjelasan arah kebijakan industri membuat para pengusaha tidak memiliki pegangan dalam mengembangkan usaha mereka. Investasi yang dilakukan cenderung bersikap jangka pendek. Akibatnya, sulit untuk bisa membuat kita memiliki produk unggulan.
Dalam hal ini, Malaysia dan Thailand jauh lebih agresif. Bahkan Vietnam muncul sebagai kekuatan baru yang mengancam Indonesia. Semua itu bisa terjadi karena arah kebijakan pembangunan industri mereka lebih jelas dan pemerintah mereka memberikan semua yang dibutuhkan bagi terba ngunnya industri yang bisa dibanggakan. Kita masih ingat bagaimana ketika Panasonic ingin menjadikan Indonesia sebagai basis industri elektronik di Asia Tenggara.
Perdana Menteri Malaysia Mathathir Mohamad sampai terbang langsung ke Osaka untuk menemui pimpinan Matsushita. Ia menanyakan kemudahan yang diberikan Indonesia dan Mahathir memberikan kemudahan yang jauh lebih baik agar Panasonic mau memin dahkan rencana investasi mereka ke Malaysia. Kita harus memiliki cara kerja get things done seperti itu apabila ingin membuat Indonesia menjadi negara industri baru. Kita tidak perlu takut investor akan untung karena dengan mendapatkan untung, mereka semakin betah di Indonesia.
Mereka akan semakin bersemangat berinvestasi di sini. Kita pun ikut mendapatkan untung karena banyak warga masyarakat yang bisa mendapatkan pekerjaan, banyak pengusaha lokal yang bisa menjadi pemasok, dan negara mendapatkan pajak perusahaan 25% dari keuntungan itu. Indonesia pasti jauh lebih menarik daripada negara tetangga karena sumber daya alamnya yang jauh lebih kaya. Pasar kita pun besar karena ada 250 juta penduduk. Sekarang tinggal kita lebih cerdas untuk membangun industri yang memiliki nilai tambah agar ekspor kita tidak terus terpuruk seperti sekarang.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved