Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sebuah kedai kopi di Stasiun Gambir, saya ambil sebuah buku di rak dekat kasir.
Boleh juga ini kedai, menyediakan bacaan, umumnya buku-buku agama.
Sambil menikmati kopi yang beraroma, saya buka buku berjudul Islam Akhlak Mulia,
Renungan-Renungan di Tengah Malam Sunyi yang ditulis mantan hakim agung Bismar Siregar.
Mendiang Bismar, saya tahu, sosok pengadil yang bersahaja, tapi tegak lurus dalam prinsip, alim, dan konsisten dalam beragama, serta berkhidmat kepada negara.
Buku yang berisi kumpulan tulisan ini diberi kata pengantar oleh KH Ali Yafie, tokoh NU dan Ketua MUI (1990-2000).
Ini tentu biasa saja.
Buku yang berbicara tentang Islam diberi kata pengantar oleh ulama.
Yang tak biasa, penulis epilog buku ini Arswendo Atmowiloto.
Banyak yang kaget.
Bukankah mantan pemimpin redaksi Tabloid Monitor ini pernah menggegerkan dengan jajak pendapat yang dinilai menyinggung umat Islam?
Alasan Bismar memilih wartawan dan penulis fiksi ini ialah biar ada yang berbeda. Orang sastra biasa-nya punya kejujuran.
Bismar secara pribadi tak mengenal Arswendo.
Saya menduga Bismar tengah memberi contoh bahwa Islam tak mendendam.
Islam, sesuai ajaran Nabi Muhammad, ialah pemaaf, penyayang.
"Sayangilah sesama seperti menyayangi dirimu."
Dalam sebuah tulisan berjudul Aku Asing di Tengah Umat, Bismar menceritakan keprihatinannya terhadap sebagian umat Islam yang mudah sekali menghujat, mudah marah, memaksakan kehendak, merasa paling benar, dan seperti dendam dibiarkan berkembang.
Ia melihat kian banyak orang memakai baju Islam, tapi hatinya belum.
Bismar menganggap komunis serupa setan.
Namun, ia merasa amat berbahagia ketika dalam sebuah acara bisa duduk bersama Pramoedya Ananta Toer.
Pram sebagai Ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat yang merupakan organisasi underbouw PKI.
Menurut Bismar, keluarga PKI telah dihukum begitu rupa, termasuk bersih lingkungan.
Karena itu. tak selayaknya ditambah beban mereka.
Hari-hari ini sebagian umat Islam tak saja saling hujat, tapi juga begitu mudahnya mengafirkan pihak lain.
Menganggap Islam merekalah yang paling benar.
Agama pun dengan mudah dibaurkan dengan politik agar mujarab menawarkan daya tarik.
Media sosial menjadi palagan paling gaduh untuk saling menjatuhkan.
Karena itu, saya rindu ulama dengan dakwahnya yang sejuk, seperti KH Muttaqien, Buya HAMKA, dan Yunan Nasution.
Merekalah para pembimbing umat yang suaranya tak membuat bising, tak membuat gejolak di jiwa.
HAMKA, misalnya, pendengarnya lintas agama.
Dalam rindu ulama-sejuk serupa itu, Ahad siang lalu, media sosial membawa warta buruk.
Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, dilempar bom molotov.
Beberapa anak balita terluka.
Bahkan, kemarin dini hari, salah satu korban, Intan Olivia Marbun, akhirnya meninggal dunia.
Dengan luka bakar di sekujur tubuhnya, bocah berusia 2,5 tahun itu terlalu berat untuk bisa bertahan hidup.
Napas saya pun jadi tersengal.
Dalam kondisi seperti itu, apakah demonstrasi Bela Islam jilid III akan tetap digelar pada 25 November?
Kenapa hukum tak diberi tempat agar ia bekerja dengan terhormat?
Ahok juga siap dipenjara jika hukum menyatakannya bersalah.
Tak adakah rasa cemas aksi massa itu bisa dimanfaatkan para penebar teror yang lain?
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved