Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KINI Amerika Serikat mengalami paradoks yang paling nyata, Donald Trump menjadi presiden. "Untuk punya seseorang sejenis manusia liar ini (Donald Trump), dengan jarinya menekan tombol dapat menghancurkan dunia atau membuat keputusan dengan pengaruh yang luas adalah sebuah prospek yang benar-benar menakutkan," kata Noam Chomsky.
Menurut ahli tata bahasa generatif dari Institut Teknologi Massachusetts itu, perang dunia kian membayangi dan Amerika Serikat ancaman terbesar itu. Sumber ancaman perdamaian dunia itu bukan siapa-siapa, Amerika Serikat. Trump yang oleh Chomsky disebut 'badut dalam sirkus' kian membuat kehancuran dunia kian mendekati kenyataan. Mahaguru bahasa kelahiran Philadelphia, 7 Desember 1928, itu memang paling depan mengkritisi elite negerinya.
Trump ialah elite yang menurut Chomsky paling tak layak memimpin Amerika Serikat. Trump tak hanya diragukan partainya sendiri, Republik, tapi juga para pemilihnya. Seorang pemilih di Arizona yang diwawancarai media Jerman, misalnya, berharap Trump menang, tapi tak mengira itu bisa terwujud. Trump, yang amat percaya diri, rasialis, tua, dan mulutnya serupa comberan, menang telak dengan 290 suara elektoral.
Hillary Clinton, politikus penuh bakat, inklusif, terpelajar, dan lebih muda, akhirnya tumbang, hanya memperoleh 218 suara elektoral. Nujum Amerika Serikat untuk mempunyai presiden perempuan pertama, setelah dua pemilu terdahulu dimenangi Obama yang Afro-Amerika, pupus sudah. Ternyata daya jelajah media massa, kedalaman lembaga survei, dan nujum para analis politik tak mampu menangkap perasaan terdalam rakyat Amerika Serikat yang bimbang akan masa depan. Mereka lebih memanjakan Clinton.
Trump tahu rasa khawatir penduduk akan imigran Timur Tengah, misalnya, ia tangkap dan menjadi menu kampanyenya yang membuat dunia terperangah! Sikap Trump yang tidak mencerminkan nilai dasar Amerika Serikat yang memberi tempat hidup kepada semua warga negara justru mengena. Meski Clinton telah mengucapkan selamat kepada rivalnya itu dan meminta seluruh pendukungnya untuk bersatu melihat masa depan negeri, ribuan orang di banyak kota turun ke jalan.
Mereka tak mengakui presiden badut itu. Banyak pendukung Clinton bahkan menghancurkan televisi yang tengah menyiarkan pidato Trump. Rakyat menganggap Trump serupa bom waktu. Amerika Serikat bisa kapan saja meledak. Betulkah Trump tengah membawa Amerika Serikat menunju tubir jurang? Bukankah Trump yang rasialis dan provokatif itu sesungguhnya tengah menerapkan teori dagang ketika kampanye?
Yakni, saudagar yang tengah manawarkan barang dagangannya dengan promosi yang mengena, yang berbeda, yang memang cocok bagi kalangan yang bimbang. Pidato kemenangannya, yakni janji segera menyembuhkan luka-luka akibat persaingan dan perpecahan, bukti era jualan selesai dan era membangun negeri dimulai. Amerika Serikat dengan tradisi pemilihan presiden yang panjang, dikemas serupa panggung teater, siapa pun pemenangnya, entah Republik ataupun Demokrat, sesungguhnya setali tiga uang.
Mereka mengemas demokrasi sebagai barang dagangan. Ia sesungguhnya alat untuk menghegemoni negeri-negeri lemah. Terlalu banyak contoh, terlalu banyak fakta. Chomsky benar. "Amerika Serikat menggunakan kekuatan dan menerapkan perang ekonomi seturut kehendak mereka." Sebagai imperium abad ke-20 dan ke-21, Amerika Serikat dan Israel, kata Chomsky, bisa kapan saja mengebiri hukum internasional.
Jadi, kemenangan Trump sesungguhnya serupa minuman dengan kemasan baru, isinya tak berbeda. Karena itu, siapa pun pemenangnya tak perlu disambut dengan harapan melambung atau pesimisme kelewat dalam. Yang terbaik, dengan Amerika, tetaplah waspada!
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved