Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA sejak 1979 memiliki tol. Sekarang panjang tol bahkan sudah bertambah jauh. Namun, perja lanan yang kita tempuh bukan semakin tidak ada hambatan, melainkan sebaliknya malah bertambah macet. Perjalanan dari Jakarta ke Bogor, Jawa Barat, misalny a, du lu bisa ditempuh dalam waktu hanya setengah jam karena begitu lancarnya. Namun, sekarang kita harus bersiap untuk perjalanan antarkota itu minimal 2 jam.
Apabila perjalanan dilakukan dari Bogor ke Jakarta dan itu terjadi di akhir pekan, kita bisa lebih dari 3 jam berada di Tol Jagorawi. Jawaban yang paling mudah dari persoalan itu ialah karena volume kendaraan yang meningkat setiap tahunnya. Namun, kalau kita perhatikan dengan saksama, penyebab lamanya waktu tempuh bukanlah jumlah kendaraan, melainkan tata cara penggunaan tol.
Jumlah kendaraan di Jerman atau Amerika Serikat, misalnya, jauh lebih banyak daripada di Indonesia. Banyaknya jalur jalan yang tersedia di kedua negara tersebut tidak lebih banyak daripada jalur yang ada di Indonesia. Namun, mengapa kita jarang mengalami kemacetan di sana? Itu disebabkan para pengguna jalan di kedua negara tersebut berlaku disiplin. Yang namanya bus atau truk tidak pernah keluar jalur paling kanan (karena di kedua negara itu setirnya ada di kiri).
Bus atau truk hanya keluar jalur apabila hendak mendahului. Demikian pula mobil-mobil yang lain. Kalau kecepatan rendah, mereka akan berada di jalur paling kanan. Mereka hanya bergerak ke kiri kalau hendak mendahului kendaraan di depan. Namun, coba kita perhatikan kendaraan yang lalu lalang di tol di seluruh Indonesia. Truk-truk besar dengan kecepatan lambat sering berjalan di jalur tengah.
Apalagi yang namanya bus, seperti raja jalanan, berjalan di jalur kanan dengan kecepatan tinggi. Mobil-mobil lain juga tidak disiplin mengunakan jalur. Mobil dengan kecepatan rendah berada di jalur kanan. Akibatnya kendaraan berkecepatan tinggi harus mendahului dari kiri. Bahkan tidak jarang kita melihat kendaraan melaju dengan kencang di bahu jalan.
Padahal, kita tahu bahwa bahu jalan hanya bisa dipakai untuk kondisi darurat.
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Syamsul Bahri mengakui, disiplin berlalu lintas termasuk di tol masih rendah. Edukasi penggunaan tol berada di tangan operator, termasuk Jasa Marga. Sayangnya Jasa Marga dan operator tol lainnya tidak melakukan edukasi tersebut. Para operator hanya sibuk memungut tarif tol, sementara kewajiban lainnya tidak dijalankan. Bahkan operator merasa tidak bertanggung jawab ketika terjadi kemacetan di tol.
Kritik kepada para operator tol bukan tidak pernah disampaikan. Saat menjabat menteri BUMN, Dahlan Iskan pernah membebaskan para pengguna tol untuk tidak perlu membayar karena kemacetan yang terjadi. Sepanjang para operator tol tidak pernah mengubah pelayanan mereka, jalan berbayar itu tidak pernah menjadi jalan bebas hambatan. Para pengguna sering kali dirugikan dua kali karena sudah membayar tarif tol, tetapi mereka tetap terjebak oleh kemacetan.
Hal yang penting menjadi perhatian ialah pembangunan tol tidak meningkatkan efisiensi ekonomi nasional. Padahal, keberadaan jalan berbayar itu dimaksudkan untuk meningkatkan efi siensi. Perjalanan diharapkan bisa lebih lancar sehingga tidak banyak bahan bakar minyak yang harus terbuang di jalan. Oleh sebab itu, kita harus kembali kepada
tujuan pembangunan tol.
Agar tujuan bisa tercapai, para operator harus lebih aktif melakukan edukasi. Tidak cukup hanya memasang petunjuk ‘Gunakan Lajur Kiri’ atau ‘Lajur Kanan untuk Mendahului’, tetapi juga mengajarkan bagaimana berkendaraan yang baik di tol itu dilakukan. Ini persoalan manajerial tol. Sekarang ini seper tinya kita masuk ke zaman yang modern, tetapi perilaku berkendaraan di tol sebenarnya masih tradisional. Kita tidak ubahnya seperti o rang kaya yang tidak memiliki sopan santun.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved