Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI massa 4/11 ialah ujian penting buat kita; bagi Indonesia, bagi umat Islam, bagi Jokowi.
Ia juga pelajaran penting bagi Ahok dan para pemimpin.
Jika saja polisi-TNI dan para pedemo tak disiplin, bentrokan hebat berisiko tinggi bisa tak terelakan.
Seketika itu Indonesia, umat Islam, dan Jokowi melisut namanya.
Untunglah tidak.
Jika diamsalkan sebuah panggung, aksi 4/11 ialah panggung terbuka.
Di atas panggung semuanya bisa dilihat dan ditafsirkan sesuai sudut pandang dan kepentingan masing-masing.
Akan tetapi, yang hakiki sesungguhnya tidak ke mana-mana.
Ia setia dalam posisinya semula.
Jujur saja saya tak bersetuju aksi serupa itu meski demokrasi memberi jalan lapang pada demonstrasi.
Belajar dari beberapa kali aksi massa, yang kerap meninggalkan jejak destruksi, kekhawatiran saya meninggi.
Terlebih lagi ini aksi bertajuk Bela Islam, yang melakukan aksi umat Islam, saya cemas aksi damai ini ada yang mencemari.
Karena membawa bendera Islam, ada tuntut-an akhlakul karimah (perilaku mulia) di situ.
Serupa aksi massa Partai Keadilan sebelum menjadi Partai Keadilan Sejahtera, dulu.
Setiap aksi selalu tertib, bersih, dan mengundang simpati.
Saya berharap waktu itu, aksi massa Partai Keadilan menjadi model aksi di Indonesia.
Sayang, aksi serupa itu kini tinggal kerinduan.
Di negeri dengan musyawarah menjadi nilai keunggulan (dalam Pancasila), sungguhkah kita tak berdaya untuk mencari solusi? Terbukti, aksi damai 4/11 hanya sebatas waktu magrib.
Waktu pukul 18.00 itu memang sesuai dengan UU No 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
Namun, tak menemui kata sepakat. Gesekan tak terelakkan.
Aksi damai pun jadi tak sempurna.
Saya cemas karena sebelum 4/11 ada maklumat sayembara dari seseorang, di depan aparat negara, siapa yang bisa membunuh Ahok akan memberi hadiah Rp1 miliar.
Saya berharap aksi massa tak terjadi.
Terlebih Presiden Jokowi telah pula bersilaturahim dengan para pengurus MUI, NU, dan Muhammadiyah.
Jokowi berjanji tak akan mengintervensi kasus hukum dugaan penistaan agama dengan terlapor Ahok.
Persiden pun meminta para ulama memberikan nasihat kepada umat untuk menjaga NKRI. Namun, tekad aksi telah dibulatkan rupanya.
Benarkah ini jihad? Saya bertanya dalam hati.
Sebab, dugaan penistaan agama dengan terlapor Ahok masih belum bulat.
Ada kelompok yang meyakini Ahok penista, ada yang mengatakan Ahok tak menista.
Masing-masing punya basis argumentasi.
Ada pula yang mengatakan ucapan Ahok tentang Surat Almaidah 51 mengandung ambiguitas.
Ia kabur sebagai basis bukti.
Dalam hukum pidana Islam, kekaburan ialah syubhat.
Artinya, hukuman pidana harus ditangguhkan jika dasar buktinya kabur.
Ini juga senapas dengan hukum positif kita.
Kini dalam dambaan saya akan Islam Indonesia menjadi model Islam dunia yang toleran --tak seperti di Timur Tengah yang mudah membara--saya bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana jika yang mengucapkan Almaidah 51 ialah almarhum Gus Dur? Bagaimana pula jika Ahok mengucapkannya jauh sebelum pilkada atau Ahok bukan calon gubernur? Kenapa untuk seorang Ahok umat Islam menghabiskan energi begitu besar? Bukankah itu justru membesarkan Ahok?"
Aksi telah terjadi.
Ini juga pelajaran penting bagi Ahok dan para pemimpin kita bahwa tertib mulut bagian penting merawat demokrasi.
Namun, permintaan maafnya yang berkali-kali mestinya kita terima dengan tulus, seperti ajaran Nabi Muhammad SAW yang mahapemaaf itu.
Bahkan, saya bermimpi jalan musyawarah, bukan jalan hukum, bisa menyelesaikan kasus Ahok.
Sungguh akan banyak yang berbahagia.
Inilah jiwa besar umat Islam Indonesia.
Inilah Islam yang sesungguhnya.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved