Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Pelajaran dan Ujian

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
08/11/2016 06:00
Pelajaran dan Ujian
(MI/Ramdani)

AKSI massa 4/11 ialah ujian penting buat kita; bagi Indonesia, bagi umat Islam, bagi Jokowi.

Ia juga pelajaran penting bagi Ahok dan para pemimpin.

Jika saja polisi-TNI dan para pedemo tak disiplin, bentrokan hebat berisiko tinggi bisa tak terelakan.

Seketika itu Indonesia, umat Islam, dan Jokowi melisut namanya.

Untunglah tidak.

Jika diamsalkan sebuah panggung, aksi 4/11 ialah panggung terbuka.

Di atas panggung semuanya bisa dilihat dan ditafsirkan sesuai sudut pandang dan kepentingan masing-masing.

Akan tetapi, yang hakiki sesungguhnya tidak ke mana-mana.

Ia setia dalam posisinya semula.

Jujur saja saya tak bersetuju aksi serupa itu meski demokrasi memberi jalan lapang pada demonstrasi.

Belajar dari beberapa kali aksi massa, yang kerap meninggalkan jejak destruksi, kekhawatiran saya meninggi.

Terlebih lagi ini aksi bertajuk Bela Islam, yang melakukan aksi umat Islam, saya cemas aksi damai ini ada yang mencemari.

Karena membawa bendera Islam, ada tuntut-an akhlakul karimah (perilaku mulia) di situ.

Serupa aksi massa Partai Keadilan sebelum menjadi Partai Keadilan Sejahtera, dulu.

Setiap aksi selalu tertib, bersih, dan mengundang simpati.

Saya berharap waktu itu, aksi massa Partai Keadilan menjadi model aksi di Indonesia.

Sayang, aksi serupa itu kini tinggal kerinduan.

Di negeri dengan musyawarah menjadi nilai keunggulan (dalam Pancasila), sungguhkah kita tak berdaya untuk mencari solusi? Terbukti, aksi damai 4/11 hanya sebatas waktu magrib.

Waktu pukul 18.00 itu memang sesuai dengan UU No 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Namun, tak menemui kata sepakat. Gesekan tak terelakkan.

Aksi damai pun jadi tak sempurna.

Saya cemas karena sebelum 4/11 ada maklumat sayembara dari seseorang, di depan aparat negara, siapa yang bisa membunuh Ahok akan memberi hadiah Rp1 miliar.

Saya berharap aksi massa tak terjadi.

Terlebih Presiden Jokowi telah pula bersilaturahim dengan para pengurus MUI, NU, dan Muhammadiyah.

Jokowi berjanji tak akan mengintervensi kasus hukum dugaan penistaan agama dengan terlapor Ahok.

Persiden pun meminta para ulama memberikan nasihat kepada umat untuk menjaga NKRI. Namun, tekad aksi telah dibulatkan rupanya.

Benarkah ini jihad? Saya bertanya dalam hati.

Sebab, dugaan penistaan agama dengan terlapor Ahok masih belum bulat.

Ada kelompok yang meyakini Ahok penista, ada yang mengatakan Ahok tak menista.

Masing-masing punya basis argumentasi.

Ada pula yang mengatakan ucapan Ahok tentang Surat Almaidah 51 mengandung ambiguitas.

Ia kabur sebagai basis bukti.

Dalam hukum pidana Islam, kekaburan ialah syubhat.

Artinya, hukuman pidana harus ditangguhkan jika dasar buktinya kabur.

Ini juga senapas dengan hukum positif kita.

Kini dalam dambaan saya akan Islam Indonesia menjadi model Islam dunia yang toleran --tak seperti di Timur Tengah yang mudah membara--saya bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana jika yang mengucapkan Almaidah 51 ialah almarhum Gus Dur? Bagaimana pula jika Ahok mengucapkannya jauh sebelum pilkada atau Ahok bukan calon gubernur? Kenapa untuk seorang Ahok umat Islam menghabiskan energi begitu besar? Bukankah itu justru membesarkan Ahok?"

Aksi telah terjadi.

Ini juga pelajaran penting bagi Ahok dan para pemimpin kita bahwa tertib mulut bagian penting merawat demokrasi.

Namun, permintaan maafnya yang berkali-kali mestinya kita terima dengan tulus, seperti ajaran Nabi Muhammad SAW yang mahapemaaf itu.

Bahkan, saya bermimpi jalan musyawarah, bukan jalan hukum, bisa menyelesaikan kasus Ahok.

Sungguh akan banyak yang berbahagia.

Inilah jiwa besar umat Islam Indonesia.

Inilah Islam yang sesungguhnya.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan