Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Kasus Rasywah Rp13 T Digantung

18/5/2015 00:00
Kasus Rasywah Rp13 T Digantung
(MI/IMMANUEL ANTONIUS)
KEJAHATAN korupsi di Indonesia memang mengkhawatirkan. Pemerintah seharusnya punya mekanisme pengelolaan uang hasil korupsi yang harus disita oleh negara (rasywah) dan dikembalikan ke kas negara.

Dalam dua tahun (2012-2013) saja uang rasywah tercatat Rp13,146 triliun. Menurut koordinator Bidang Hukum dan Divisi Monitoring Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho, dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan Tahun 2012 dan 2013 yang disampaikan 30 Mei 2014, Kejaksaan memiliki piutang pengganti uang korupsi dalam perkara korupsi sebesar Rp13.146 triliun.

"Di bidang pidana khusus sebesar Rp3,5 triliun dan perdata sebesar Rp9,6 triliun," kata dia di Jakarta, kemarin. Uang pengganti ialah uang hasil korupsi yang dibayarkan oleh terpidana dalam perkara korupsi berdasarkan putusan yang berkekuatan hukum tetap.

Untuk itu ICW berharap Kejaksaan Agung lebih optimal dan serius dalam melaksanakan eksekusi uang pengganti dalam perkara korupsi yang jumlah nominalnya tidak kecil tersebut. " Seharusnya satuan tugas khusus (satgasus) tindak pidana korupsi yang dibentuk Jaksa Agung M Prasetyo juga diberi tugas menyelesaikan masalah ini," ujar Emerson.

Menurut dia, pekerjaan jaksa setelah tahap penuntutan dan putusan persidangan yang berkekuatan hukum tetap, tidak hanya mengeksekusi terpidana, tetapi juga uang penggantinya. " Ini seharusnya juga menjadi fokus Kejaksaan Agung untuk segera diselesaikan, " cetusnya.

Dihubungi terpisah, Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan tersebut sudah dijadikan agenda kejaksaan untuk dituntaskan segera. "Itu memang PR kami meski angka tersebut sebagai akumulasi dari masa sebelum saya," ujarnya,

Jaksa Agung menegaskan Kejaksaan Agung dipastikan melakukan penagihan secara intensif supaya segera lunas.

Dia pun berjanji ke depan, penundaan pembayaran rasywah tidak boleh terulang. "Maka sekarang setiap ganti rugi dan terkait piutang terpidana korupsi harus segera dibayar dengan penagihan secara intensif oleh pihak kejaksaan supaya tidak terjadi lagi masalah serupa."

Tertib administrasi
Tidak segera dilakukannya eksekusi uang rasywah oleh Kejaksaan Agung sejak 2012 merupakan cermin buruk dari sistem administrasi keuangan negara. Dalam hal ini Keja­gung selaku aparat penegak hukum sekaligus eksekutor.

Pakar hukum tata negara Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf menyayangkan begitu besarnya angka uang rasywah itu. "Kalau tidak dilakukan, negara akan dirugikan terus dan dipermainkan oleh koruptor yang merasa tidak apa-apa dipenjara yang penting uang hasil korupsi tidak diambil," ujarnya.

Asep menjelaskan ada tiga kendala uang pengganti tidak segera dieksekusi, Pertama, alat bukti eksekusi yang kurang kuat sehingga jaksa eksekutor merasa ragu. Kedua, kurangnya keahlian dan kompetensi yang dimiliki jaksa eksekutor karena minimnya pendidikan serta pelatihan yang diberikan kepada tim eksekutor. Terakhir, yang menjadi rahasia umum ialah kerap ada permainan antara jaksa dan terpidana korupsi sehingga membuat harta yang seharusnya mudah dieksekusi menjadi berlarut-larut. "Memang tidak bisa dimungkiri ada dugaan main mata akhirnya tidak maksimal," cetusnya.(Cah/Nyu/P-2)

[email protected]  




Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.