Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
BEGITU membaca berita SBY mendatangi Menko Polhukam Wiranto (Selasa, 1/10), spontan terlontar komentar dari mulut saya, “Turun gunung nih ye....” Tapi buat apa SBY turun gunung? Aneh benar bagi ke cerdasan publik, Wiranto-SBY berbicara perihal bulu tangkis. Wiranto me mang baru terpilih menjadi Ketua Umum PBSI. Namun, di zaman masih menjadi presiden sekalipun, SBY tidak heboh-heboh amat memperhatikan terpilihnya Ketua Umum PBSI yang baru.
Hubungan Wiranto-SBY pun bukan hubungan yang dekat-dekat amat, bahkan pernah bersaing dalam pilpres. Karena itu, pertemuan Wiranto-SBY itu patut diendus karena urusan besar. Malamnya, SBY malah membuat berita lebih menarik lagi. Ia mengunjungi JK di kediaman resmi wakil presiden. Terjadilah pertemuan empat mata, yang tidak diketahui publik entah
apa isinya. Pertemuan yang aneh.
Setelah SBY tidak lagi menggandeng JK sebagai wapres, hemat saya, praktis hubungan mereka hubungan yang biasa-biasa saja. Bukan hubungan yang hangat, bukan pula dingin. Bahwa tiba-tiba seperti mesra kembali, patut pula diendus karena urusan besar. Terlebih, karena dalam sehari itu (Selasa, 1 November 2016), SBY melakukan dua kunjungan yang ‘abnormal’. Normalnya ialah SBY menjadikan kediamannya di Cikeas sebagai pusat kekuasaan tersendiri, ‘sebuah puncak gunung’, tempat ia menerima para tokoh.
Itulah sebabnya, saya spontan membahasakan kunjungannya ke Wiranto dan JK, sebagai turun gunung. Tapi apa ge rangan penyebabnya? Perkara besar apakah yang membuat ia turun gunung? Kemarin, semuanya dijawab sendiri oleh SBY di Cikeas, kembali ke SBY yang seasli-aslinya. Dua urusan besar yang disampaikannya di situ ialah perihal demonstrasi yang ramai diperbincangkan bakal digelar besok (4/11), serta ihwal intelijen. Soal demonstrasi, antara lain, ia bicara bahwa unjuk rasa bukan kejahatan politik.
Unjuk rasa bagian dari demokrasi, asalkan tidak anarkistis. Pendapat standar, normatif. Yang menyita perhatian dan membuat orang terheran-heran, ketika SBY bicara mengenai intelijen, berkali-kali, antara lain, katanya, intelijen harus akurat, jangan berkembang menjadi intelijen yang ngawur dan main tuduh. Katanya lagi, intelijen dulu juga tidak mu dah melaporkan kepadanya sesuatu yang tidak akurat.
“Dulu saya tidak pernah dengan mudah menuduh ada orang besar mendanai aksi-aksi unjuk rasa, ada orang besar menggerakkan unjuk rasa.” Suka atau tidak suka, pernyataannya itu justru mengarahkan publik bertanya-tanya, ada apa dengan SBY? Siapa orang besar yang dituduh mendanai demontrasi itu? Tidakkah SBY sendiri orang besar itu? Ia lalu bicara tentang rekomendasi Tim Pencari Fakta Kasus Munir, yang katanya bola sekarang di tangan Presiden Jokowi.
Panjang lebar ia menyebut fitnah kekayaannya Rp9 triliun. Juga tentang rumah pemberian negara, yang luas tanahnya kurang 1.500 m2, tapi disebutsebut 3.000 m2 persegi bahkan 5.000 m2. Semua pernyataan dari Cikeas itu disertai nada yang tinggi, yang sedikit banyak diekspresikan dalam suasana kebatinan yang keruh. Terjadi sejumlah selip kata, yang disebutnya sendiri karena kurang minum. Padahal, SBY merupakan tokoh yang tutur katanya teratur dan pikirannya runtut. Ia pun beberapa kali mencopot dan membersihkan kacamatanya.
Semua itu menimbulkan pertanyaan, ada apa dengan SBY? Maaf, jawabnya SBY masih jauh dari madeg pandito ratu, ‘menyepi’ hanya untuk memberi nasihat kepada yang membutuhkan. Sepuluh tahun menjadi presiden, terlama di alam demokrasi, tetapi ia masih diliputi dan dikeruhkan oleh hiruk pikuk kekuasaan. Sesungguhnya, sekali lagi maaf, ia malah kian menjauh dari figur negarawan.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved