Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Demokrasi Kritis

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
01/11/2016 05:31
Demokrasi Kritis
(ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

SETIAP dalam keramaian perhelatan politik, saya selalu punya harapan dan kecemasan yang bertaut. Harapan karena demokrasi kita masih muda, tengah bersemi dan tumbuh. Namun, juga khawatir karena demokrasi diperlakukan serupa tujuan; melulu kebisingan dan kegaduhan. Melulu bagaimana memenangi pertarungan, tetapi sedikit yang berlanjut merawat kemenangan. Jika keramaian politik itu ialah pemilihan calon kepala daerah, 'pesta' telah dimulai ketika nama-nama para calon diumumkan ke publik oleh partai politik.

Harga diri partai bertambah karena punya calon untuk maju dan bertarung. Terlebih jika sang kandidat namanya bersinar, partai boleh merasa paling berjasa, meski terakhir memberi dukungan. Para kandidat memulai pesta karena terpilih di antara sekian banyak nama. Terlebih mengalahkan nama-nama besar yang telah beredar tetapi tak dipinang partai. Bagi nama baru, mereka mulai memantas-mantas diri memimpin sebuah wilayah. Bagi calon petahana yang rakus, bisa jadi terus menghitung-hitung pundi-pundi di periode berikut jabatannya.

Bagi kandidat pemula, ia mesti rajin menambal ihwal diri yang kurang. Yang senyumnya masam berupaya agar manis. Yang tak tak pernah tahu harga sembako mulai sering ke pasar. Yang selama ini alergi makan pinggir jalan biasakan lidahnya merakyat. Pada 15 Februari 2017, itulah penentuannya. Sebanyak 101 pilkada serentak digelar, melanjutkan pilkada 2015 yang berjumlah 169. Di antara ratusan pasangan calon kepala daerah, di situ ada Abdullah Puteh. Berpasangan dengan Sayed Mustafa, ia maju sebagai calon gubernur Aceh dari jalur independen.

Puteh terpidana kasus korupsi pengadaan helikopter, ditahan sejak 2004. Ia divonis 10 tahun penjara, tetapi mendapat banyak pengurangan hukuman. Puteh bebas pada November 2009. Berkat 'jasa' Mahkamah Konstitusi, mantan terpidana yang telah lima tahun bebas boleh menjadi calon kepala daerah sepanjang narapidana yang bersangkutan jujur di depan publik. Selain Puteh, pilkada 2017 juga diikuti tiga calon bupati petahana yang juga tersangka korupsi, dan satu terpidana pencemaran nama baik.

Kini penentuan terakhir benar-benar ada di tangan rakyat, para pemilih. Boediono ketika dikukuhkan menjadi guru besar Fakultas Ekonomi UGM, sebelum menjadi wakil presiden, mengingatkan demokrasi kita sungguh masih kritis. Di negara-negara yang berpenghasilan per kapita US$1.500-US$3.000, katanya, demokrasi bisa bertahan rata-rata 18 tahun. Batas kritis bagi demokrasi ialah penghasilan sekitar US$6.600. Indonesia kini masih di bawah US$4.000.

Itu artinya masih dalam masa kritis. Para politikus, terlebih mereka yang terpilih itulah mestinya yang menjadi concern utama. Menyelamatkan demokrasi agar panjang usia dengan memakmurkan rakyat. Jadi, sesungguhnya tak ada pesta selama jumlah kemiskinan masih tinggi.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan