Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Banjir dan Kecerdasan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
31/10/2016 05:31
Banjir dan Kecerdasan
(ANTARA FOTO/HO/Agus Bebeng)

BANJIR yang melanda Bandung menimbulkan keprihatinan besar setidaknya karena dua hal pokok. Pertama, di situ markas orang-orang hebat di bidang teknologi. Kedua, di situ ada wali kota hebat yang kian hari kian merebut hati publik. Banjir dapat diatasi dengan teknologi, apakah itu mengeruk sungai, membangun drainase, membuat waduk, membuat resapan air. Sebutlah apa saja yang diperlukan dari sudut pandang teknologi, semuanya dengan mudah terjawab di Bandung.

Kenapa? Karena di kota itu menjulang tinggi ITB, pusat kecerdasan teknologi, baik ilmu maupun aplikasinya. Di situ bukan hanya lahir insinyur dalam arti pertukangan tingkat tinggi. Di kampus itu mengabdi pemikir-pemikir ilmu dan teknologi yang tahu betul kenapa Bandung dilanda banjir, bahkan dapat ‘membacanya’ sebelum terjadi. Sesungguhnya, banjir urusan ‘kecil’. Karena itu, secara subjektif, saya terusik oleh perkara besar. Apakah tidak ada relasi antara center of excellence, pusat kecerdasan yang bernama ITB itu, dan lingkungannya, dan kotanya, dan ekosistemnya?

Saya alumnus UGM. Saya pun terusik oleh perkara besar, melihat Kota Yogyakarta semrawut. Selalu tercetus pertanyaan yang sama, kenapa pusat kecerdasan itu seperti tiada berhubungan, apalagi ‘bersaudara’, dengan kota kediamannya? Perguruan tinggi kiranya tidak boleh diandaikan punya hubungan kecerdasan dengan kota tempat tinggalnya sebagai sebuah sistem. Keduanya berjalan sendiri-sendiri. Bahkan dengan kecuekan masing-masing. Pemerintah kota sebuah dunia, perguruan tinggi pun sebuah dunia.

Bahwa keduanya ‘bertemu’ di dalam sebuah dunia yang sama yang bernama banjir, itu cuma sebuah peristiwa kebetulan. Keduanya pun sepertinya tidak saling ‘bersapa’ untuk memikirkannya, untuk meng atasinya. Wali kota Bandung Ridwan Kamil pujaan publik, bahkan publik di luar Bandung. Wali kota itu mengaku bingung perihal banjir yang terjadi di Jalan Pagarsih. Katanya, Pemerintah Kota Ban dung telah memperbesar saluran air di kiri dan kanan jalan itu, dengan lebar masing-masing 2 x 2 meter.

Tapi kenapa air bisa meluap ke jalan? Wali Kota tidak bisa menjawabnya. Wali kota Ridwan Kamil dengan jujur bahkan berkata, “Kami juga tidak terlalu paham secara ilmiah karena berbulan-bulan juga kan enggak banjir. Tetapi, pas kemarin, ada situasi yang menyebabkan itu.” (Kompas.com, Selasa, 25/10). Pak Wali tidak bisa menjawabnya. Kenapa tidak ‘bertanya’? Bukankah di Bandung banyak warga kota bergelar doktor dan profesor yang bisa ‘menjawabnya’? Sebaliknya, apakah pusat kecerdasan itu hanya akan ‘bersuara’ bila ‘ditanya’ pusat kecerdasan di pemerintahan kota?

Kota Bandung ialah sebuah pusat peradaban, dulu maupun sekarang. Kota itu pusat kecerdasan, dulu dan sekarang. Namun, layak dipersoalkan, bagaimana besok, apalagi lusa. Banjir yang melanda kota itu, apalagi kalau terjadi lagi dan lagi, menyuruh semua pernyataan perihal kecerdasan itu harus dipikirkan ulang karena kedua kecerdasan itu tidak saling berhubungan, saling cuek.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.