Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BANJIR yang melanda Bandung menimbulkan keprihatinan besar setidaknya karena dua hal pokok. Pertama, di situ markas orang-orang hebat di bidang teknologi. Kedua, di situ ada wali kota hebat yang kian hari kian merebut hati publik. Banjir dapat diatasi dengan teknologi, apakah itu mengeruk sungai, membangun drainase, membuat waduk, membuat resapan air. Sebutlah apa saja yang diperlukan dari sudut pandang teknologi, semuanya dengan mudah terjawab di Bandung.
Kenapa? Karena di kota itu menjulang tinggi ITB, pusat kecerdasan teknologi, baik ilmu maupun aplikasinya. Di situ bukan hanya lahir insinyur dalam arti pertukangan tingkat tinggi. Di kampus itu mengabdi pemikir-pemikir ilmu dan teknologi yang tahu betul kenapa Bandung dilanda banjir, bahkan dapat ‘membacanya’ sebelum terjadi. Sesungguhnya, banjir urusan ‘kecil’. Karena itu, secara subjektif, saya terusik oleh perkara besar. Apakah tidak ada relasi antara center of excellence, pusat kecerdasan yang bernama ITB itu, dan lingkungannya, dan kotanya, dan ekosistemnya?
Saya alumnus UGM. Saya pun terusik oleh perkara besar, melihat Kota Yogyakarta semrawut. Selalu tercetus pertanyaan yang sama, kenapa pusat kecerdasan itu seperti tiada berhubungan, apalagi ‘bersaudara’, dengan kota kediamannya? Perguruan tinggi kiranya tidak boleh diandaikan punya hubungan kecerdasan dengan kota tempat tinggalnya sebagai sebuah sistem. Keduanya berjalan sendiri-sendiri. Bahkan dengan kecuekan masing-masing. Pemerintah kota sebuah dunia, perguruan tinggi pun sebuah dunia.
Bahwa keduanya ‘bertemu’ di dalam sebuah dunia yang sama yang bernama banjir, itu cuma sebuah peristiwa kebetulan. Keduanya pun sepertinya tidak saling ‘bersapa’ untuk memikirkannya, untuk meng atasinya. Wali kota Bandung Ridwan Kamil pujaan publik, bahkan publik di luar Bandung. Wali kota itu mengaku bingung perihal banjir yang terjadi di Jalan Pagarsih. Katanya, Pemerintah Kota Ban dung telah memperbesar saluran air di kiri dan kanan jalan itu, dengan lebar masing-masing 2 x 2 meter.
Tapi kenapa air bisa meluap ke jalan? Wali Kota tidak bisa menjawabnya. Wali kota Ridwan Kamil dengan jujur bahkan berkata, “Kami juga tidak terlalu paham secara ilmiah karena berbulan-bulan juga kan enggak banjir. Tetapi, pas kemarin, ada situasi yang menyebabkan itu.” (Kompas.com, Selasa, 25/10). Pak Wali tidak bisa menjawabnya. Kenapa tidak ‘bertanya’? Bukankah di Bandung banyak warga kota bergelar doktor dan profesor yang bisa ‘menjawabnya’? Sebaliknya, apakah pusat kecerdasan itu hanya akan ‘bersuara’ bila ‘ditanya’ pusat kecerdasan di pemerintahan kota?
Kota Bandung ialah sebuah pusat peradaban, dulu maupun sekarang. Kota itu pusat kecerdasan, dulu dan sekarang. Namun, layak dipersoalkan, bagaimana besok, apalagi lusa. Banjir yang melanda kota itu, apalagi kalau terjadi lagi dan lagi, menyuruh semua pernyataan perihal kecerdasan itu harus dipikirkan ulang karena kedua kecerdasan itu tidak saling berhubungan, saling cuek.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved