Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Indonesia Incorporated

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
29/10/2016 06:00
Indonesia Incorporated
(ANTARA/Ahmad Subaidi)

SUDAH lama istilah ini didengungkan, tetapi sulit bagi kita untuk melaksanakannya. Begitu susahnya kita melakukan sinergi di antara kekuatan ekonomi yang ada. Kita tidak bisa menetapkan kapan kompetisi itu dijalankan dan kapan kooperasi itu dilakukan.

Tepatlah salah satu bahasan dalam Rembuk Nasional 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, yakni membangun sinergi di antara badan usaha milik negara, swasta, dan usaha mikro, kecil, dan menengah. Negara harus hadir untuk mendorong sinergi itu agar bisa terjadi.

Sejak 1988 kita menetapkan pembangunan negara ini tidak lagi bertumpu pada negara. Semua negara memang mengalihkan peran pembangunan ekonomi ke swasta. Tiongkok yang menerapkan sistem sosialisme bahkan memilih jalan itu untuk sistem ekonomi mereka. Dengan itu, negara mendorong lahirnya wirausaha.

Dengan paradigma tersebut, pembangunan pertama ditawarkan kepada swasta untuk melaksanakannya. Baru kalau swasta tidak sanggup, peran itu dimintakan kepada BUMN. Apabila BUMN tidak sanggup juga, barulah APBN yang dipergunakan untuk pembangunan.

Kita sebenarnya sudah menerapkan pendekatan itu. Bandar udara di Yahukimo, misalnya, dibangun dengan menggunakan APBN. Demikian pula pembangunan pelabuhan laut di Indonesia Timur. Semua itu dilakukan karena baik swasta maupun BUMN tidak mungkin membangun infrastruktur yang frekuensi perdagangannya masih rendah. Namun, untuk pembangunan jalan tol, pemerintah menawarkannya kepada swasta. Demikian pula dengan pembangkit tenaga listrik.

Baru ketika swasta tidak sanggup, BUMN yang mengerjakan seperti tol di Bali atau sekarang kereta api cepat Bandung-Jakarta.

Hanya, kita sering tidak konsisten. Kadang masih berpikiran negaralah yang harus melakukan pembangunan. Padahal, kebijakan besarnya bisa ditentukan negara, tetapi pelaksanaannya dilakukan swasta.

Salah satu yang membuat Tiongkok bisa cepat membangun karena negara berpikir cerdas. Negara menetapkan bentuk pembangunan yang ingin dicapai. Patokannya, pembangunan itu bisa dirasakan dan dinikmati semua orang. Pelaku pembangunannya bisa siapa saja. Istilah yang dipakai Pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping, "Tidak peduli kucing itu warnanya hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.

"Memang sering kali muncul godaan bagi pemegang kekuasaan. Dalam pelaksanaannya, peluang itu diberikan kepada kroni. Oleh karena itu, penting bagi pemegang kekuasaan untuk lepas dari konflik kepentingan. Aturan main harus berlaku sama bagi setiap orang dan yang dilihat tingkat profesionalisme dan kompetensinya.

Pengalaman di Korea Selatan, negara memiliki database setiap badan usaha. Pemerintah bahkan memahami bisnis model dan tingkat profitabilitasnya. Perusahaan boleh mendapatkan untung, tetapi jangan menjadi monster yang mencekik rakyat. Negara yang membuat aturan main agar semua dapat diuntungkan.

Ketika negara mampu menjadi pengayom, bukan hanya sinergi antarkekuatan ekonomi yang bisa kita optimalkan. Pembangunan pun bisa kita percepat. Ketika ada divestasi asing yang dilakukan, swasta nasional bisa diminta mengambil alih. Kita apresiasi langkah pemerintah, misalnya, yang memberi kesempatan kepada Medco untuk mengambil alih tambang milik Newmont di Nusa Tenggara Barat. Ketika sekarang ada divestasi pembangkit listrik tenaga panas bumi milik Chevron, sebaiknya kesempatan pertama diberikan kepada swasta. Dengan cara seperti itu, tidak perlu ada tabrakan antara BUMN dan swasta. BUMN bahkan bisa fokus menggunakan sumber daya untuk membangun yang lain. Itulah esensi dari Indonesia incorporated.

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan