Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
TERKEJUT memang gejala indrawi yang normal. Namun, sejak banyak orang bercitra baik berlaku korup, sa ya tak terkejut lagi jika ada kasus serupa itu. Termasuk jika suatu saat aparat lembaga antirasywah menangkap sosok berwajah aulia, amat alim, terpelajar, santun, dan selalu memberi advis bagi khalayak. Dalam khazanah Me layu tak ba nyak peribahasa yang menggu nakan kata terkejut.
Dua di antaranya, ‘Bagai kerbau terkejut oleh gong’ yang berarti tercengangcengang keheranan. Yang berikutnya, ‘Takut pada ular, terkejut pada bengka rung’. Artinya, karena takut pada orang yang berkuasa, takut pula pada keluarganya. Ini pasti mental rendah diri. Menristek dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, terkejut setelah Ketua KPK Agus Rahardjo mengungkapkan ada indikasi suap atas pemilihan rektor di beberapa kampus negeri.
Tentu peribahasa yang pertama itulah yang menggambarkan keheranan Menteri Nasir. Saya justru terkejut karena Nasir terkejut atas permainan fulus di kampus. Saya heran, sudah dua tahun menjadi menteri, ia tak tahu permainan kotor di institusinya itu. Padahal, politik uang di kampus bukan berita baru. Sejak 2006, ada 13 rektor tersandung korupsi, beberapa telah pula dibui.
Mestinya Nasir ketika baru menjadi menteri menginvestigasi kampus yang terindikasi jorok, main politik uang, dalam suksesi. Mestinya, menyapu lantai kotor ialah agenda pertama Pak Menteri. Alangkah bahayanya jika para petinggi kampus lancung lakunya, cacat integritasnya. Kini, politik uang memang telah menjadi virus yang menyebar ke mana-mana. Bahkan, untuk kelas ketua ormas pemuda di sebuah kota, ada yang berani membayar tunai Rp1 miliar.
Pemilihan kepala desa dengan fulus miliaran, telah pula terjadi di banyak tempat. Jalan kotor ini dianggap kelaziman belaka. Kembali soal suksesi rektor, sudah jadi galib rupanya, ada tim sukses, juru kampanye, dan tentu fulus. Mereka itulah yang nanti duduk di kabinet sang rektor terpilih. Seperti diungkap Ombudsman Republik Indonesia, ada dugaan suap yang dilakukan tujuh kampus negeri dalam pemilihan rektor.
Ada indikasi keterlibatan salah satu petinggi partai politik dan oknum di kantor Nasir. Bahkan, di beberapa kampus telah ada penyerahan uang Rp1,5 miliar-Rp5 miliar. Kian hancurlah pendidikan tinggi kita. Jika menteri mempunyai hak 35% suara dan senat 65% dalam pemilihan rektor sesuai UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, ternyata bisa
‘dijualbelikan’, KPK harus segera beraksi.
Dengan pemilihan rektor yang kotor, apa yang bisa dipikirkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan? Energi dan siasatnya pastilah habis untuk mencari fulus yang digelontorkan menuju tangga rektor. Padahal, kampus mestinya bersemboyan: Veritas, probitas, iustitia (Kebenaran, kejujuran, keadilan)? Jika tritunggal nilai itu telah sirna di kampus, apa yang tersisa?
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved