Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

JK sebagai Ban Serep

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
27/10/2016 05:31
JK sebagai Ban Serep
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

WAKIL Ketua DPR Fadli Zon mengkritik keras Presiden Jokowi. Katanya, selama dua tahun Jokowi bekerja sendirian, one-man show. Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla ban serep saja. Ia seperti tidak terpakai. Padahal, katanya, JK memiliki kemampuan luar biasa dan berpengalaman dalam beberapa kali pemerintahan. Fadli Zon ialah salah seorang
pemimpin Partai Gerindra, partai oposisi.

Karena itu, wajarlah ia bersuara pedas mengecam Jokowi. Tak hanya lauk-pauk, hidup bernegara pun perlu yang pedas-pedas. Kritik yang dilontarkan Fadli Zon, wapres sebagai ban serep, kiranya topik yang selalu muncul dalam tiap pemerintahan setelah reformasi. Di zaman Pak Harto, tidak relevan mempersoalkan wapres sebagai ban serep. Wapres ada hanya demi kepantasan konstitusi, sekalipun wapresnya sekaliber Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan sekelas Adam Malik. Di zaman Bung Karno, presiden menjulang tinggi sendirian dengan impian-impian hebatnya, meninggalkan wapres sebesar dan sehebat Bung Hatta yang komit berdemokrasi. Dwitunggal pecah, Bung Hatta mengundurkan diri. Bung Karno terus sendirian tanpa wapres sampai ia digulingkan tentara dan Angkatan 66. Pada 1999, sekalipun modal politik PDIP lebih besar daripada modal politik PKB, Wapres Megawati Soekarnoputri ditinggalkan begitu saja oleh Gus Dur, sang presiden. Kala itu wapres ban serep betulan, yaitu betulan menggantikan ban utama yang dikempiskan, dilengserkan MPR.

Wapres yang bukan ban serep kiranya terjadi semasa pemerintahan SBY-JK (2004-2009). JK bergerak tangkas mengambil kepu tusan. Dalam suatu kesempatan, seorang mantan menteri di masa itu bercerita, untuk urusan urgen, yang memerlukan ke putusan cepat, ia datang ke JK. Mengapa JK sehebat itu? Selain faktor umur, 60-an, JK ditengarai punya saham dan modal yang sama signifi kannya dengan SBY dalam memenangi pilpres.

Akan tetapi, wapres macam itu tidak pas lagi untuk masa kekuasaan SBY berikutnya. Boediono yang tahu diri sebagai wakil, lebih pas. Tidak aneh kalau ada yang menilai ia ban serep. Untunglah tidak terjadi ‘kecelakaan’ konstitusional sehingga wapres tidak menjadi ban serep betulan menggantikan ban utama. SBY mulus menjadi presiden RI selama 10 tahun.
JK yang sekarang, 74, sebagai wapres, bukan wapres yang dulu.

Hemat saya, partai pengusung Jokowi menjadikannya wapres karena senioritasnya dalam kancah nasional. Lagi pula, Jokowi memang cepat mengambil keputusan. Untuk itu, menteri tidak perlu lagi datang ke wapres sekalipun orangnya sama. Tulisan ini memang membela Jokowi-JK. Bahkan, hemat saya, selama isi konstitusi mengenai kedudukan dan fungsi wapres
tidak diubah, selama itu pula topik wapres sebagai ban serep se akan abadi. Kenapa? Karena memang, dari sudut pandang konstitusi, wapres sepenuhnya terhormat sebagai ban serep.

Wapres semata membantu presiden. Bantuan itu tidak perlu harus terlihat oleh publik, apalagi terlihat oleh oposisi. Bukti lain, konstitusi tidak membagi kekuasaan presiden di an tara mereka berdua. Presiden ialah kepala pemerintahan dan kepala negara, tetapi tidak ada wakil kepala pemerintahan dan wakil kepala negara. Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara. Kekuasaan itu dipegang presiden. Konstitusi tidak memandang wapres perlu membantunya, apalagi wajib membantunya.

Di mobil saya, seperti milik orang lain, ban serep ialah ban yang per lu dan penting. Kesehatannya harus terjaga. Dia tidak boleh bocor, apalagi dibiarkan kempis. Dia harus gagah terhormat di tempatnya, sebab sial tertusuk paku bisa terjadi kapan saja. Saya tidak ingin kekuasaan presiden kempis, apalagi dikempiskan, gara-gara ban serep hendak dijadikan ban utama. Tidak boleh lagi ada ‘paku-paku’ yang menumbangkan presiden di te ngah jalan, seperti yang menumbangkan Bung Karno, Pak Harto, dan Gus Dur.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan