Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Elite Politik di Jalanan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
24/10/2016 05:31
Elite Politik di Jalanan
(MI/ARYA MANGGALA)

KIRANYA sangat aneh bagi siapa pun yang berpartai politik, terlebih pendiri partai politik, masih perlu turun ke jalan, berdemonstrasi untuk memperjuangkan kepentingannya. Apa pun kepentingan itu. Aneh, karena turun ke jalan berdemonstrasi antara lain menunjukkan bahwa mereka lebih percaya kepada parlemen jalanan. Bukan kepada DPR.

Bila parlemen jalanan lebih dipercaya, buat apa repot-repot berpartai? Buat apa bertarung di pemilu untuk meraih kursi sebanyak-banyaknya di DPR? Jalanan sebagai ruang publik bukan pula pengganti bilik suara. Berbondong- bondonglah ke sana, bersuaralah sekencang-kencangnya dan setajamtajamnya di sana, tapi bukan di situ suara rakyat dihitung dan disahkan.

Karena itu, elite politik mestinya mengambil peranan untuk mengajak warga lebih berorientasi ke bilik suara ketimbang berdemo. Di situlah suaranya berharga, turut menentukan. Tentu saja ada kalangan yang berpandangan berdemonstrasi lebih merupakan pilihan daripada menyalurkannya ke DPR atau ke bilik suara. Berdemonstrasi itu hak warga yang diatur dalam perundang-undangan.

Akan tetapi, hal itu lebih masuk akal bila disuarakan dan dilakukan kalangan yang tidak berpartai atau tidak percaya kepada partai. Dari perspektif itu, elite partai mestinya membaca demonstrasi sebagai ‘umpan balik’, salah satu petunjuk bahwa ada yang salah, bahkan mungkin malah banyak yang salah, yang harus diperbaiki. Misalnya, kenapa kaum buruh terus berdemonstrasi setiap 1 Mei untuk mengartikulasikan kepentingan mereka?

Kiranya hal itu dapat dibaca sebagai bentuk ketidakpercayaan kepada DPR khususnya, partai umumnya. Pilihan yang lebih menantang ialah kaum buruh kembali mencoba mendirikan partai buruh. Namun, bila kembali bernasib sama seperti sebelumnya, partai tersebut tidak cukup meraih suara untuk sampai di DPR, baiklah kaum buruh mempertimbangkan
untuk memercayai partai yang eksis.

Terus terang, saya tidak tahu lebih dalam apa alasan Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siradj, ketika dalam acara Hari Santri Nasional berkata, melarang keras warga nahdiyin melakukan demonstrasi. Aksi menyampaikan aspirasi lewat cara demo dinilainya sama sekali tidak menguntungkan. “Apel santri seperti ini boleh. Demo tidak boleh. Warga NU tidak punya keuntungan, hanya rawan jadi fitnah,” katanya. (Media Indonesia, 23/10) Kiranya pendapat itu dicanangkan berkaitan dengan penyelenggaraan pilkada Jakarta.

Ia mengajak kalangan nahdiyin menjaga keamanan dan ketertiban. Santri dan ulama harus menjadi garda terdepan menangkal segala isu SARA yang marak terjadi. Semua itu ajakan yang memenuhi harapan agar elite bangsa ikut menenangkan rakyat. Elite politik berperan membangun dan memelihara keadaban politik. Pilkada ialah hajat warga lima tahunan memilih calon kepala daerah yang terbaik, yang mestinya dipenuhi dan disemarakkan gairah dan kegembiraan persaudaraan, bukan
permusuhan dan kebencian.

Dalam pilkada Jakarta, semua partai ikut mengusung calon gubernur. Tidak ada partai yang absen. Tidak pula ada calon perseorangan yang diusung warga Ibu Kota semata karena tidak percaya kepada partai. Karena itu, sangat aneh bila ada elite politik mendo rong bahkan ikut berdemonstrasi untuk menekan salah seorang kandidat.

Tiga pasang calon kepala daerah Jakarta, sedikit atau banyak mewakili persamaan dan perbedaan di tengah warga. Pilkada bukan sarana untuk menggemuruhkan pertentangan, melainkan untuk mengabsahkan dan mengesahkan pilihan bersama. Karena itu, baiklah semuanya diputuskan bersama di bilik suara, bukan di jalanan .



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan