Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Neraca Jokowi

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
20/10/2016 05:31
Neraca Jokowi
(Ilustrasi)

HARI ini tepat dua tahun Jokowi-JK menjadi pre siden dan wakil presiden, memimpin negara dan bangsa ini. Apakah yang telah mereka capai? Presiden Jokowi sendiri berterus terang mengakui masih banyak masalah yang belum selesai. Sebagian masalah yang harus diselesaikan Jokowi-JK bukan masalah yang sama se kali baru, yang terja di di masa pemerintahan mereka.

Kebanyakan masalah merupakan warisan. Bahkan, warisan dari masa silam yang jauh ke belakang. Semua kasus pelanggaran HAM, misalnya, merupakan masalah warisan. Kasus Trisakti 1998, contohnya, dari zaman Pak Harto. Contoh lain, Munir meninggal di ujung pemerintahan Megawati (7 September 2004). Tim Pencari Fakta dibentuk di masa SBY (23 Desember 2004). Alih-alih masalah terselesaikan, yang elementer dalam pemerintahan saja tidak beres, yaitu laporan tim pencari fakta kasus Munir raib entah ke mana.

Masalah KTP-E pun warisan dari pemerintahan sebelumnya. Data banyak warga telah lengkap sejak program itu dilansir, tetapi KTP-E mereka tak kunjung terbit sampai rakyat memilih presiden baru. KTP-E bahkan dililit korupsi. Pemerintahan Jokowi harus lekas dan tangkas menyelesaikan masalah KTP-E itu sehingga tak ada lagi penduduk tanpa KTP-E. Daftar masalah ke belakang itu bisa diperpanjang, tetapi sebaiknya dihentikan sampai di situ.

Kenapa? Melihat ke belakang, ‘buang badan’, melemparkan masalah ke pemerintahan di masa lalu, bukan sikap terpuji. Menyalahkan presiden di masa lalu kiranya hanya dilakukan pemimpin cengeng. Sebaliknya pun serupa, bila presiden di masa lalu suka mengintipintip, mencari-cari kelemahan dan kekurangan presiden yang sedang berkuasa. Dua tahun berkuasa belum cukup waktu untuk menghakimi sebuah pemerintahan.

Akan tetapi, dua tahun kiranya waktu yang lebih dari cukup untuk rakyat ‘membaca’ dan merasakan, ke mana negara ini hendak dibawa. Dua tahun bahkan waktu yang lebih dari cukup untuk rakyat menilai, apakah negara ini memang dikemudikan presiden, atau seakan-akan dikemudikan, padahal dibiarkan jalan sendiri, autopilot. Presiden Jokowi bergiat dalam membangun dan membenahi infrastruktur.

Salah satu yang paling sering dikecamnya ialah pelayanan di pelabuhan, khususnya dwelling time. Kini, di bawah Menteri Perhubungan Budi Karya, dwelling time di Pelabuhan Belawan, Medan, bahkan bisa tiga hari. Presiden Jokowi terkesan memaksakan pembukaan Terminal 3 Soekarno-Hatta, tetapi kini orang dapat menikmati keunggulan terminal itu. Sejak mulai dioperasikan pada 9 Agustus 2016, saya lebih dari 10 kali datang dan pergi melalui terminal itu sehingga merasakan benar kemajuannya.

Penduduk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua tentu ingin merasakan kemerdekaan Republik ini dalam hal transportasi darat. Berada di satu daratan, tapi antarprovinsi, bahkan antarkabupaten di provinsi yang sama, tak terhubungkan di darat. Setelah lebih 70 tahun merdeka, konektivitas itu terwujud. Siapa pun yang melihat trans-Papua, contohnya, bakal terbelalak matanya, termasuk mata kaum oposisi yang paling kritis dan sinis sekalipun.

Di akhir pemerintahannya (2019), Presiden Jokowi kiranya bakal dikenang sebagai presiden pertama yang membangun mimpi besar infrastruktur itu. Apakah Jokowi sempurna? Tidak. Karena itu, ia harus diingatkan. Kiranya cukup sudah menggunakan hak prerogatif bongkar pasang kabinet. Terlebih lagi, cukuplah seorang Arcandra Tahar yang di mata Presiden tak ada duanya.

Hal lain mengenai hukuman mati. Bila Presiden berpandangan hukuman mati tak lagi sesuai dengan aspirasi HAM, sebaiknya semua permintaan grasi hukuman mati dikabulkan menjadi hukuman seumur hidup. Dengan demikian, sekalipun hukuman mati masih tertera dalam hukum positif, dengan kewenangannya Presiden dapat ‘meniadakannya’. Bagaimana dengan mereka yang telah ditolak grasinya? Demi kepastian hukum, demi konsistensi Presiden, eksekusi hendaknya dilaksanakan.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan