Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Setelah 2 Tahun

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/10/2016 05:31
Setelah 2 Tahun
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/)

JOKOWI tidak bekerja sendirian untuk bisa terpilih menjadi presiden. Ada Wakil Presiden Jusuf Kalla yang membantu Jokowi memenangi debat dengan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Ada Partai NasDem yang menggenapi suara Jokowi untuk bisa maju sebagai calon presiden. Ada jutaan tangan lain yang membantu Jokowi agar bisa berkantor di Istana Merdeka. Jokowi tidak pernah boleh melupakan mereka yang membantu dirinya untuk menjadi presiden.

Mereka tidak membutuhkan imbalan apa pun dari Jokowi. Mereka hanya berharap agar Jokowi tidak gagal menjadi presiden. Untuk itu, Jokowi harus mendengar suara mereka yang tulus membantu dirinya menjadi presiden. Jangan mentang-mentang sudah menjadi presiden lalu lupa berkomunikasi dengan pendukungnya. Memang atas nama hak prerogatif, Presiden bisa melakukan apa pun yang ia suka. Namun, jangan lupa semua keputusannya harus bermuara
kepada pemenuhan janji dua tahun lalu, yakni terciptanya Indonesia yang lebih baik.

Kekuasaan bukan hanya untuk kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan itu amanah untuk membuat Indonesia lebih sejahtera. Kemakmuran itu hanya bisa dicapai kalau Presiden membangun sebuah tim kerja yang kuat, kabinet yang bisa dipercaya, pemerintahan yang bisa menggerakkan seluruh rakyat untuk mencapai tujuan bersama. Penunjukan menteri dan wakil menteri energi dan sumber daya mineral yang baru menunjukkan Presiden merasa bisa berjalan sendiri.

Ia merasa tidak perlu berkonsultasi dengan Wapres, tidak perlu masukan dari partai pendukungnya. Tanpa ada penjelasan, Presiden menunjuk orang
yang dua bulan lalu diberhentikannya sebagai menteri dan orang yang jelas-jelas salah dilantik karena berkewarganegaraan Amerika Serikat. Presiden memang boleh mengangkat siapa pun yang ia suka. Akan tetapi, pengangkatan seorang pejabat publik harus dipercaya publik karena keputusannya akan berpengaruh kepada publik.

Bagaimana orang yang sudah diragukan integritasnya, sudah melakukan pembohongan publik, dan membuat sejarah buruk adanya orang asing yang dilantik menjadi anggota kabinet, masih dipercaya menjadi wakil menteri. Jabatan menteri dan wakil menteri ESDM bukan sekadar jabatan politik, melainkan juga jabatan teknis. Kementerian ini terlalu lama hanya dilihat dari kacamata politik. Padahal yang lebih diperlukan ialah hal teknis karena ini berkaitan dengan ketersediaan energi yang kita perlukan untuk membangun.

Apalagi sekarang ini kita dihadapkan kepada ancaman besar. Nyaris tidak adanya investasi baru di bidang eksplorasi membuat kita tidak pernah bisa menambah cadangan energi. Tanpa adanya penemuan baru, sudah pasti produksi minyak dan gas kita akan menurun. Padahal derap pembangunan yang dilakukan pasti membuat kebutuhan energi meningkat. Kehadiran pimpinan baru di Kementerian ESDM seharusnya memenuhi tantangan itu. Kita membutuhkan orang yang paham masalah dan mampu bertindak agar segera terjadi investasi di eksplorasi.

Seorang eksekutif perusahaan migas menyayangkan tidak adanya orang yang paham sektor tambang dan energi di sekitar Presiden. Akibatnya input yang diberikan tidak sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi Indonesia. Seakan-akan kondisinya normal, padahal kenyataannya krisis besar menghadang kita.

Penunjukan pejabat yang tidak memahami persoalan tambang dan energi akan membuat para investor semakin wait and see. Padahal ketika kemarin Presiden mengubah begitu saja hasil kajian puluhan tahun pengelolaan Blok Masela, kepercayaan investor untuk berbisnis di Indonesia sudah menurun. Tepat pada dua tahun pemerintahannya, Presiden Jokowi membuat langkah yang membebani dirinya sendiri. Semoga ada pembelajaran yang bisa dipetik Jokowi agar tiga tahun yang tersisa tidak terbuang hanya untuk memancing kontroversi baru.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan