Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Nasib Kebudayaan

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
18/10/2016 05:31
Nasib Kebudayaan
(ANTARA FOTO/Wira Suryantala)

MARI berbincang tentang kebudayaan yang tersisihkan. Selalu ada ambivalensi negeri mencintai kebudayaan versus realitasnya. Mulai sa ja dengan fakta ini, banyak sutradara film kita menyimpan master film mereka di berbagai negara. Di negeri sendiri tak ada tempat aman dan nyaman. Sinematek Indonesia yang didirikan Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani pada 1975 dan merupakan arsip film pertama di Asia Tenggara kini amat memprihatinkan.

Sutradara Garin Nugroho dan produser Mira Lesmana termasuk yang menyimpan sebagian master film mereka di berbagai negara itu. Menyimpan master film di berbagai negara yang memahami arti penting kebudayaan tidak saja aman, tetapi justru dibayar. Imbalannya, pihak lembaga penyimpan bisa memutar film-film Indonesia untuk tujuan nonkomersial. Film ialah produk intelektual dan tak ‘merasa nyaman’ di rumah sendiri sungguh menyedihkan.

Jika kita membutuhkan, harus mendatangi mereka, ke berbagai negara. Itu bukti kita sebagai pemilik kebudayaan tak bertanggung jawab! Fakta lain telantarnya Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Itu telah berlangsung lama. Setiap ada gubernur baru Ibu Kota, para pengelola dokumentasi sastra itu hanya bisa berdoa ada kemurahan hati pejabat yang memahami sastra. Tanpa dana negara, berat pusat dokumentasi sastra itu hidup. Apa untuk urusan itu kita juga mengiba ke luar negeri?

Beberapa tahun lalu kita membaca, betapa naskah-naskah lama kita, terutama asal Melayu Riau, telah menjadi milik para kolektor Malaysia dan Singapura. Sebagian benda-benda itu kini telah menjadi penghuni Lembaga Kebudayaan Singapura. Mereka mengatakan daripada disimpan di Indonesia toh rusak juga. Perkataan menyakitkan. Kita tertampar, tetapi apakah negara merasa tertampar? Negara tak peduli! Yang menyedihkan negara tak hadir untuk menginventarisasi berapa sesungguhnya jumlah naskah lama yang kini masih ada.

Berapa pula naskah-naskah lama yang telah ‘berpindah tuan’ ke luar negeri? Kini Perpustakaan Leiden Belanda, kabarnya, menyimpan 18 ribu naskah Nusantara. Sejumlah benda sejarah milik kita kini tersebar di Belanda, Inggris, Austria, bahkan sampai ke Rusia. Di Inggris misalnya, ada sekitar 6.000 koleksi, dan di Australia sekitar 3.000 benda etnografi Indonesia. Dulu pada 1978 ada upaya diplomasi agar mereka mengembalikan benda-benda budaya kita. Naskah Nagarakretagama, arca Prajnaparamitha, pelana kuda Pangeran Diponegoro, dan lain-lain bisa kembali.

Terungkaplah pada perhelatan World Cultural Forum di Bali pekan silam, betapa kearifan lokal di Korea Selatan dan Tiongkok punya peran penting dalam membangun bangsa. Mo dernisasi tak menghilangkan tradisi dan kebudayaan masyarakat. Di kita, modernisasi kerap menjadi tukang jagal tradisi. Apa yang di alami Kepala Desa Mollo, NTT, Aleta Baun, sungguh tragis. Untuk mempertahankan tanah adat dari gempuran eksplorasi pertambangan, ia harus hidup penuh derita. Ia diancam dan di bacok.

Ia perlu 13 tahun untuk memperjuangkan hak-hak warga. Aleta Baun salah satu contoh. Salim Kancil, aktivis antitambang, di Lumajang, bahkan dibunuh. Fakta-fakta itu meperkuat bukti betapa aktivitas ekonomi seolah dibiarkan menjadi mesin pembunuh mereka yang menjaga bumi. Begitu banyak pemilik modal menjadi loba ketika menghadapi mereka yang setia merawat kearifan dan tradisi.

World Cultural Forum pun merekomendasikan bahwa kebudayaan yang selama ini terpinggirkanakan menjadi dasar utama pem bangunan berkelanjutan. Akan tetapi, maaf kepada pemerintahan Jokowi-JK, saya ragu Anda berkomitmen tentang ini sebab publik juga be lum tahu bagaimana sesungguhnya visi Anda tentang kebudayaan. Revolusi mental, Nawa Cita, pembangunan karakter bangsa, bu daya maritim, bagi saya jadi entah apa maknanya.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan