Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pungli

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
15/10/2016 06:00
Pungli
(MI/Panca Syurkani)

PUNGUTAN liar (pungli) menjadi isu yang tiba-tiba mencuat.

Presiden Joko Widodo datang langsung ke Kemenhub untuk melihat pegawai golongan 2D mengutip uang dari pengeluaran surat perjalanan pelaut.

Uang yang didapat tiga pegawai sekitar Rp17 juta.

Operasi tangkap tangan terjadi saat pemerintah membentuk satgas pemberantasan pungli.

Tindakan mengutip uang bagi pengurusan berbagai perizinan menjadi penyebab ekonomi biaya tinggi.

World Economic Forum baru saja mengeluarkan daftar daya saing di 136 negara. Peringkat Indonesia turun empat tingkat.

Dua penyebab utamanya ialah korupsi dan inefisiensi birokrasi.

Sejak era Orde Lama, pungli memang sudah menjadi penyakit.

Berbagai upaya pemberantasan sudah dilakukan.

Namun, pungli hanya hilang saat operasi.

Setelah itu kambuh lagi, bahkan semakin parah.

Sekarang saat berbagai kemudahan coba diberikan pun, pungli tetap menjadi keseharian kita.

Pelayanan prima hanya bagi pejabat.

Bagi warga biasa tidak ada kemudahan.

Pemeonya tetap, "Kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?"

Saat Jokowi menggagas revolusi mental, muncul harapan akan adanya perubahan.

Namun, itu tidak pernah terjadi.

Semua hanya kulit luar, hanya slogan, tidak pernah terjadi perubahan sikap dan perilaku.

Yang lebih menakutkan ialah munculnya konspirasi antara aparat dan preman.

Truk-truk pengangkut sembako yang hilir mudik harus diberi semacam stiker bila tidak ingin diganggu dalam perjalanan.

Untuk mendapatkan stiker 'pengamanan', sopir harus merogoh kantong.

Apakah gebrakan terakhir ini akan memberikan hasil yang berbeda?

Sepanjang tidak ada perubahan aturan main dan tidak ada konsistensi dalam pemberantasan pungli, semua akan kembali seperti semula.

Pungli terjadi karena tidak jelasnya aturan main.

Dalam urusan perizinan, misalnya, tidak pernah jelas berapa meja yang harus dilalui dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

BKPM pernah mencoba memangkas izin aturan di sektor pertambangan dan migas.

Namun, mereka tidak bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan dengan pemangkasan meja.

Sepanjang tidak pernah ada kejelasan waktu, di situlah permainan terjadi.

Bagi masyarakat yang penting izin keluar, soal biaya mereka tutup mata.

Kini, salah-salah masyarakat bisa kena tindakan hukum, padahal mereka membutuhkan kecepatan karena 'waktu adalah uang'.

Bisakah pemerintah membuat kepastian dalam pengurusan izin?

Bila ingin revolusi mental jalan, perbaikan sikap pelayanan wajib.

Kepada birokrasi harus ditanamkan sikap bahwa kemudahan dan kecepatan pelayanan modal meraih kemajuan.

Ketika negara maju, kemampuan untuk semakin menyejahterakan birokrasi kian besar.

Sayangnya, mentalitas kita tidak pernah mau sabar. Semua cenderung ingin cepat menikmati hasil.

Peningkatan kesejahteraan esok itu terlalu lama. Semua mau merasakannya hari ini.

Sesungguhnya ada cara untuk mengubah mentalitas birokrasi kalau kita mau melakukan seperti Singapura.

Negara mengambil orang-orang terbaik untuk menjadi birokrat.

Beri mereka renumerasi rata-rata 10% di atas pegawai swasta.

Namun, bagi yang menyalahgunakan wewenang, tiada ampun.

Tiongkok kini menjalankan kebijakan seperti itu.

Presiden Xi Jinping tidak memberi ampun kepada mereka yang membebani perekonomian.

Anggota politbiro bahkan dipenjara jika terbukti memperkaya diri sendiri.

Konsistensi itulah yang tidak pernah kita miliki.

Sikap kita hanya 'anget-anget cirit ayam'.

Lusa pun kita sudah lupa dengan persoalan pungli.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.