Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ISTRI saya tertawa sinis setelah menyimak sabdatama atau perintah tertinggi Sultan Hamengku Buwono X. Bukan karena putri sulung Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, berganti nama menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram, tanda ia akan menggantikan takhta. Bukan!
Ia sinis karena penjelasan Sultan tentang dawuh tersebut berkaitan dengan wahyu, dengan wangsit. Sultan tak kuasa menolaknya karena ini kehendak Gusti Allah. Kerajaan Yogyakarta dan Sultan itu milik Gusti Allah. Jadi, semua terserah sang Ilahi.
"Tak masuk akal. Hari begini masih ada wahyu untuk kekuasaan dunia? Alangkah enak bersembunyi di balik wahyu, wilayah yang amat personal dan tak bisa dibuktikan," kata istri saya.
Saya terkejut karena tak menyangka ia menilai sedalam itu. Karena ini wahyu, Sultan kelahiran 2 April 1946 yang berkuasa sejak 7 Maret 1989 itu meminta perintahnya disikapi dengan olah rasa. Jangan dengan olah pikir.
Permintaan itu juga diulangi Putri Pembayun. Olah pikir bisa sesat dan oleh rasa bikin lega. Kenyataannya para rayi Sultan memprotes siasat wahyu itu.
Titik beratnya pada kekhawatiran rusaknya mazhab suksesi Mataram yang dipertahankan ratusan tahun, yakni adanya putri mahkota. Akan tetapi, bagaimana kita menyoal prerogatif raja berkuasa?
Sabdatama sebelumnya, Ngarsa Dalem minta pada keluarga kerajaan dan masyarakat Yogyakarta agar tak campur tangan urusan ahli waris takhta. Ini semacam sabda bertingkat atau persiapan jalan untuk putri mahkota, dan itu wewenangnya!
Saya kira ini bukan sinisme terhadap suksesi ala monarki dan pemujaan terhadap demokrasi. Monarki konstitusional juga melahirkan sisi terpuji.
Sementara itu, demokrasi dengan politik yang oligarkis bisa membuat kita frustrasi. Ia membuat demokrasi jadi fasik! Juga bukan sinis pada perasaan dan memojokkan pikiran.
Pikiran yang berkelindan dengan ketamakan bisa membawa destruksi, sementara perasaan bisa jadi embrio kepekaan. Ini soal kepantasan!
Buktinya kedudukan raja Yogya sekaligus gubernur justru dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2012 tentang Daerah Istimewa Yogyakarta.
Monarki dalam demokrasi dihargai. Sabdatama-nya pun dipatuhi. Namun, ketika sabda itu berbau siasat wangsit, bagaimana kita bisa menyelisik wilayah gaib yang amat personal itu?
Saya jadi teringat tulisan penulis Kamerun, Daniel Etounga-Manguelle, 'Perlukah Afrika Sebuah Program Penyesuaian Budaya?'. Ia membedah kekuasaan di Afrika yang lekat dengan budaya ilmu gaib.
Para presiden Afrika, tulisnya, akan selalu dikelilingi para pentolan ilmu gaib. Tak ada yang benar-benar penting dalam politik Afrika tanpa pertolongan para dukun.
Mereka membuat nubuat dan menentukan seseorang menjadi penguasa dan menentukan para pemimpin bertahan atau sebaliknya. Nyatanya lebih banyak nubuat agar terus bertahan. Bagi orang ramai, hal gaib dalam suksesi kekuasaan yang profan ini agaknya dipandang berpotensi jadi siasat manipulatif. Ia serupa takhayul.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved