Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pertemanan dengan Koruptor

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
13/10/2016 05:31
Pertemanan dengan Koruptor
(Thinkstock)

PERTEMANAN urusan personal. Bukan urusan negara. Bukan urusan publik. Siapa berteman dengan siapa sepenuhnya berada dalam ranah pribadi dan tanggung jawab pribadi. Pernyataan itu menegaskan supremasi ruang privat. Bahkan, pernyataan itu sepertinya menyelesaikan batas-batas hubungan orang yang berteman yang sepatutnya dimaklumi, bahkan dihormati siapa pun.

Suatu hari saya menonton di sebuah televisi perihal seorang artis tertangkap tangan menggunakan narkoba. Temannya diwawancara via telepon. Apa kata sang teman? Temannya bilang dia tidak tahu bahwa temannya itu pengguna narkoba. Dia baru tahu justru setelah temannya itu tertangkap dan diberitakan di media. Terlepas Anda dan saya tidak percaya omongan temannya itu, bukan urusan kita bila kemudian temannya itu menjenguk temannya di rumah tahanan.

Bukan urusan orang lain karena mereka sama-sama warga negara biasa, sesama ‘partikelir’. Akan tetapi, urusan tentu menjadi besar jika dengan alasan yang sama, pertemanan, Wakil Presiden Jusuf Kalla menjenguk temannya di rumah tahanan karena tertangkap tangan sebagai pengguna narkoba. Masak tidak boleh menjenguk teman sendiri?

Apalagi teman itu bukan pengedar, bukan penyelundup, melainkan pasien yang perlu direhabilitasi. Jangan salah paham. Perlu penegasan, contoh itu fiktif, karangan saya belaka. Seandainya pun terjadi di alam nyata, kiranya Bapak Wapres Jusuf Kalla berpikir panjang untuk menjenguk sang teman yang terkait dengan narkoba. Patut ditengarai bahkan JK, yang di dirinya melekat jabatan penyelenggara negara, mungkin sama sekali tidak menjenguk temannya itu.

Berbeda dengan kasus korupsi. Faktual, bukan fiktif, atas nama pertemanan, Wapres Jusuf Kalla menjenguk di rumah tahanan mantan Ketua DPD Irman Gusman yang tertangkap tangan KPK. Sepertinya Wapres tidak perlu berpikir panjang untuk melakukannya. Masak tidak boleh menjenguk teman sendiri, koruptor sekalipun? Contoh fi ktif dan contoh faktual itu cuma mau menunjukkan para pejabat sangat keras terhadap narkoba, teman sekalipun.

Kenapa? Karena menyangkut narkoba terkandung aib besar. Bahkan, demikian malunya, tidak sedikit orang tua yang menyembunyikan fakta anak mereka pengguna narkoba. Sebaliknya koruptor tidak malu. Tidak jarang mereka tersenyum, melambaikan tangan, ketika berada di Kantor KPK. Bahasa tubuh mereka seakan hendak memperlihatkan kepada publik bahwa korupsi bukan aib besar.

Ditangkap KPK sepertinya hanya kesialan belaka. Kenapa? Karena korupsi di negeri ini dipandang merupakan kelakuan normal, sepanjang tidak tertangkap. Kenormalan hubungan pertemanan pun menjadi pembenar untuk menjenguk teman atau kolega yang ditangkap KPK. Timbul kritik, hal itu kontraproduktif terhadap kesungguhan memberantas korupsi.

Seorang pejabat menjenguk koruptor, atas nama pertemanan sekalipun, memperlihatkan sikap permisif terhadap korupsi. Pejabat negara mendapat berbagai privilese. Akan tetapi, mereka pun harus memikul yang tidak enak. Sampai derajat tertentu, mereka kehilangan privasi, kehilangan pertemanan.

Untuk itu, tidak bisa lain, sang pejabat harus keras terhadap diri sendiri. Sekental apa pun pertemanan, mereka harus keraskan diri untuk tak menjenguk sampai temannya yang korupsi itu divonis pengadilan. Bahkan, sampai berkekuatan hukum tetap.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.