Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Tidak Ada Kampanye ialah Kampanyeku

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
10/10/2016 05:31
Tidak Ada Kampanye ialah Kampanyeku
(Thinkstock)

KAMPANYE jelas kegiatan politik yang mahal. Barang siapa menghabiskan porsi besar keuangan dan waktunya untuk berkampanye, tak berlebihan berkesimpulan, orang itu sebetulnya belum 'bunyi' benar di tingkat warga. Belum bunyi sehingga perlu dibunyikan senyaring-nyaringnya, sekencang-kencangnya, seluas-luasnya.

Orang itu harus dibuat dan membuat dirinya sedemikian rupa mencorong dalam perang udara. Subjektif, buat saya, semakin gencar calon kepala daerah berkampanye menjajakan dirinya, yang baik-baik, yang manis-manis, yang mengesankan populis, semakin menimbulkan keraguan, apakah ia layak dipilih. Entahlah, hemat saya, orang itu ditengarai belum melakukan pekerjaan internalnya yang paling dasar, yaitu meyakinkan diri sendiri, bahwa ia mampu menjadi kepala daerah.

Ia masih perlu poles sana, poles sini. Nyanyi sini, nyanyi sana. Tentu, koar sini, koar sana. Ketidakpercayaan diri itu, buat sebagian, akibat sedikitnya, bahkan karena sama sekali tak punya jam terbang dalam fungsi-fungsi kepublikan yang berhubungan langsung dengan warga. Rekam jejaknya miskin. Karena itu, siapa dirinya, dalam konteks untuk menjadi gubernur/bupati/wali kota, harus dikampanyekan habis-habisan.

Ketidakpercayaan diri itu juga terekspresikan dalam menghadapi persaingan dengan mengumandangkan negative campaign. Tiap orang punya kelemahan. Faktual, selalu dapat ditunjukkan dan disebarluaskan daftar kekurangan tiap calon kepala daerah. Akan tetapi, apa hebatnya seorang pemimpin yang lebih pandai menunjukkan kelemahan lawan ketimbang kelemahan dirinya?

Kampanye negatif tidak dianjurkan, tapi juga tidak diharamkan. Tidak dianjurkan karena terlalu kencang menyuarakan daftar negatif lawan dapat berbuah bumerang. Semut di seberang lautan tampak, gajah di depan mata tak kelihatan. Orang yang dipilih kiranya yang berani menunjukkan kelemahannya serta berkemampuan memperbaikinya. Jangan pilih orang yang mampu dengan manis menyembunyikan atau memoles kekurangannya dan ketika topengnya terbuka, menyalahkan orang lain.

Orang itu jelas bukan pemimpin yang dicari dan dibutuhkan. Yang haram ialah black campaign, kampanye hitam. Menjatuhkan lawan dengan cara memanipulasi fakta sehingga lawan menjadi hitam kelam. Perbuatan jahat memanipulasi fakta itu kini dipermudah kemajuan teknologi informasi. Misalnya, fitnah jahat dapat diproduksi sedemikian rupa sehingga yang tampak dan terdengar di video seakan fakta sebenarnya.

Padahal, bohong besar, fitnah kejam. Timbul pertanyaan idealistis, bisakah tiap kontestan berkelakuan elegan? Kemenanganku bukan dengan membinasakan lawan, menghancurkan lawan? Kemenanganku buat kehidupan warga yang lebih baik, tapi bukan dengan bernyanyi di atas 'bangkai lawan'? Kampanye mahal ongkosnya. Untuk menebusnya, yang bersangkutan berkemungkinan besar korupsi setelah menjadi kepala daerah.

Semakin jorjoran biaya yang dihabiskan, semakin jorjoran korupsi. Jika ada calon kepala daerah yang berpendirian, tak ada kampanye ialah kampanyeku, kayaknya dialah yang patut dipilih. Tapi siapa dia? Orang itu barangkali belum lahir, atau lahir terlalu cepat sehingga tidak terpilih. Masih jauh panggang dari api, bahkan mission of impossible.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.