Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI

ATMOSFER pertarungan pilkada Jakarta yang semula bernuansa SARA kiranya berubah menjadi berkompetisi dalam harmoni.
Tiga pasang bakal calon gubernur-wakil gubernur berswafoto ria bersama seraya mengembangkan senyum.
Harian ini kemarin mengekspresikannya dalam kepala berita yang sejuk, 'Lawan tapi Berkawan'.
Ibu kota negara ini diuntungkan beragamnya pilihan dan beranekanya koalisi partai pengusung calon kepala daerah.
Dalam perspektif itu, tidaklah sepenuhnya benar Pilkada Jakarta 2017 merupakan perpanjangan atau penerusan Pilpres 2014, dalam arti meneruskan hanya dua pasang calon dengan koalisi yang sama.
Sebaliknya, pilkada Jakarta sepertinya petunjuk awal perubahan konstelasi dan komposisi koalisi partai sebagai investasi setiap koalisi untuk kandidat Pilpres 2019.
Perkara yang belum di depan mata, tetapi bukan pula tahun yang terlalu jauh untuk dibayangkan dan dicandrakan.
Spekulasi itu sehat bagi demokrasi dan investasi itu perlu disambut baik sebab bangsa ini tidak kelebihan pemimpin.
Lagi pula, bukankah perkara logis belaka bila petahana diusung kembali, tak terkecuali Jokowi?
Karena itu, logis pula bila aksi melahirkan reaksi, memunculkan pikiran untuk menjadikan pilkada Jakarta sebagai ajang 'penetasan' dan 'pementasan' sekaligus.
Bukankah Jokowi pun dientaskan dan dibawa ke pentas nasional dari posisi Gubernur Jakarta?
Apa pun dinamika yang terjadi, satu hal tidak berubah, yaitu mencari figur yang mampu membendung dan menumbangkan elektabilitas Ahok.
Suka atau tidak suka, 10 tahun cakrawala kepemimpinan di negeri ini diwarnai pencitraan kepemimpinan yang santun.
Figur Ahok mencelat keluar dari kesantunan itu. Anehnya, karakternya itu malah membangkitkan elektabilitas yang tinggi.
Apa pasal?
Jawabnya, manakah yang orang pilih, gubernur yang mulutnya jorok, tapi kelakuannya bersih ataukah gubernur yang mulutnya santun, tapi kelakuannya jorok alias malingan, nyolongan, korupsi?
Sebuah kontras terhadap Ahok wajar dicari dan akhirnya terjawab. Pertama dalam jumlah.
Semula diperkirakan Ahok bakal dikeroyok, hanya dua pasang bertarung head to head, ternyata tiga pasang.
Pilkada Jakarta otomatis diperkaya keragaman pilihan, yang dengan sendirinya mencairkan dikotomi pilihan berbasiskan agama, keyakinan, diganti dengan nalar.
Yang kedua figur yang ditampilkan kurang lebih Gubernur Jakarta yang muda dan intelek.
Agus Yudhoyono, Anies Baswedan, juga Sandiaga Uno, semuanya lulusan sekolah AS beneran, bukan sekolah ecek-ecek.
Boleh diasumsikan mereka makhluk rasional dan konseptual.
Turunannya keyakinan digantikan dengan nalar.
Akan tetapi, hemat saya, dasar pencalonan mereka yang paling kuat mereka menjanjikan perubahan dalam gaya memimpin.
Sebetulnya, pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno kurang lebih merupakan varian saja dari nada dasar yang sama, yaitu nada santun.
Kendati diusung koalisi partai yang berbeda, kedua pasangan merupakan produk pencarian figur yang sama: kontras terhadap gaya kepemimpinan Ahok.
Yang penting, sesuai dengan harapan, pilkada Jakarta yang merupakan ibu kota negara menawarkan kompetisi yang menguak cakrawala bahwa yang dipertandingkan nalar, bukan keyakinan. Ahok-Djarot petahana yang berkinerja baik.
Karena itu, program alternatif yang diperdebatkan pasangan calon kiranya menjadi narasi besar dalam diskusi publik, yang turut memengaruhi pilihan warga.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved