Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR 10 tahun lalu batu bara menjadi komoditas yang menggiurkan. Semua orang berlomba mendapatkan konsesi pertambangan batu bara karena menguntungkan. Permintaan dunia begitu tinggi sehingga membuat harga melambung tinggi sempat di atas US$100 per ton. Banyak orang kaya mendadak karena bisnis batu bara.
Begitu menguntungkannya bisnis batu bara membuat perbankan pun tidak takut mengucurkan kredit. Namun, periode kejayaan batu bara tidak berlangsung lama. Kepedulian masyarakat dunia terhadap persoalan lingkungan membuat batu bara mulai ditinggalkan sebagai sumber energi. Tiongkok yang menjadi konsumen terbesar mulai mengganti ke energi yang lebih ramah lingkungan.
Perubahan yang berlangsung cepat ini mengimbas pengusaha batu bara, terutama para pemain yang masuk belakangan belum menikmati manisnya bisnis ini. Padahal, tidak sedikit investasi yang sudah mereka tanamkan. Persoalan inilah yang sekarang harus dihadapi perbankan. Kredit yang diberikan kepada pengusaha batu bara mulai bermasalah. Non performing loan perbankan untuk sektor ini meningkat mendekati angka 5%.
Terutama pengusaha di Kalimantan Timur, kini menghadapi kesulitan mengembalikan kredit. Pertumbuhan ekonomi di daerah itu masuk kategori merah. Tidak mengherankan apabila perbankan pun ikut terpukul. Pekerjaan rumah bagi perbankan bagaimana mengelola kredit bermasalah itu. Mereka harus mulai menyisihkan sebagian keuntungan untuk mengantisipasi kalau-kalau kredit itu macet. Kepusingan bukan hanya dihadapi perbankan, melainkan juga pemerintah. Pemerintah pusat harus kehilangan sumber penerimaan.
Terpuruknya harga komoditas membuat keuntungan perusahaan menurun tajam dan akibatnya penerimaan negara turun secara signifi kan. Potensi penurunan penerimaan pajak, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, bisa mencapai Rp219 triliun. Akibatnya, pemerintah terpaksa melakukan pemotongan anggaran, baik untuk kementerian dan lembaga negara maupun pemerintah daerah.
Pada Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah 2016, Senin lalu, Menkeu meminta pengertian para kepala daerah. Kepala daerah harus fokus pada program pembangunan infrastruktur dan pengurangan kemiskinan. Program lain ditunda dulu karena pemerintah akan mengurangi dana alokasi khusus dan umum. Pelajaran terpenting yang bisa kita petik, ekonomi tidak pernah berjalan linier. Pasti akan ada siklus dan kita harus hidup lebih hemat serta menggunakan
anggaran secara efektif dan efisien. Kita tidak bisa hidup jorjoran ketika keuangan negara sedang tertekan. Kita bisa mengalami seperti Yunani apabila lebih besar pasak daripada tiang.
Kedua, tidak bisa kita hanya mengandalkan sumber daya alam sebagai kekuatan. Kita harus mengolah sumber daya alam agar bernilai tambah. Untuk itu persiapan sumber daya manusia menjadi penting dan biaya riset serta pengembangan menjadi sebuah keharusan. Selama ini kita terlena oleh kekayaan alam. Di era Orde Baru kita mengandalkan minyak sebagai sumber penerimaan negara. Sepuluh tahun terakhir kita mengandalkan kepada komoditas tambang dan perkebunan.
Sebenarnya kita bisa menggunakan kehutanan dan perkebunan sebagai sebuah kekuatan karena keduanya bisa diperbarui. Kalau saja dikelola dengan prinsip keberlanjutan yang baik, tidak pernah akan ada habis-habisnya yang bisa kita dapatkan dari kehutanan dan perkebunan. Sayangnya, kita tidak punya arah yang jelas. Kita seringkali terlalu mudah didikte oleh pihak luar.
Pemerintah selalu cari selamat kalau sudah dikritik soal lingkungan. Bukan melakukan perbaikan ke dalam, tetapi kemudian melakukan pelarangan. Padahal, kalau pengelolaannya yang diperbaiki, nilai tambah yang didorong, dan riset serta pengembangan yang digalakkan, Indonesia bisa menjadi kekuatan besar di industri kehutanan dan perkebunan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved