Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
INI tulisan saya yang kedua di forum ini mengenai Ahok-Djarot, sebagai pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jakarta, setelah tulisan yang pertama (15/8). Kala itu PDIP belum berkeputusan resmi mengusung Ahok-Djarot. Pokok pikiran tulisan yang pertama itu ialah pasangan Ahok-Djarot kiranya pasangan yang pas untuk dicalonkan kembali memimpin Jakarta. Sebagai petahana, bila terpilih, mereka bisa langsung tancap gas melanjutkan apa-apa yang selama ini telah mereka kerjakan dan rencanakan untuk ibu kota negara yang jauh lebih baik.
Fakta memprihatinkan ialah tidak banyak pasangan petahana kembali berpasangan dalam pilkada berikutnya. Umumnya pekong’, pecah kongsi. Bahkan, bulan madu kemesraan hanya seumur jagung. Selebihnya kepala daerah meninggalkan wakilnya seperti laskar tak berguna. Sang wakil sakit hati, kemudian menjadi pesaing yang tangguh. Fakta ‘pekong’ itu menunjukkan, di satu pihak ketidakmampuan kepala daerah berbagi peranan, di lain pihak sang wakil tidak tahu diri sebagai wakil.
Tidak berlebihan untuk mengatakan lebih sulit menjadi wakil daripada bos. Barang siapa yang bernama orang muda lulus sebagai wakil, orang nomor 2 yang mumpuni, kiranya suksesi berwajah dan bersubstansi regenerasi bakal berjalan efektif. Sekalipun Ahok-Djarot bukan pasangan orisinal dalam pilkada sebelumnya mereka menggantikan posisi Jokowi-Ahok, karena Jokowi terpilih menjadi presiden keutuhan mereka sebagai petahana merupakan modal yang besar dan contoh yang baik. Pemerintahan DKI Jakarta diurus dengan sigap, cekatan, dan bersih, telah dimulai oleh Jokowi-Ahok, kemudian dilanjutkan oleh Ahok-Djarot.
Mereka berani melawan legislatif yang pikirannya sarat proyek. Menjelang injury time, PDIP akhirnya resmi mengusung Ahok-Djarot. Bukan persoalan besar karena segala sesuatu indah pada waktunya. Bukan pula persoalan besar, apakah Ahok itu melamar atau dilamar PDIP. Bangsa ini tidak kelebihan pemimpin, tidak pula kelebihan gubernur bagus, karena itu tidak punya kemewahan untuk berkutat dan berkukuh dalam perkara lamar-melamar. Dalam spirit itulah PDIP mengusung
Ahok, bersama NasDem, Hanura, dan Golkar, yang telah lebih dulu mengusungnya.
PDIP memberlakukan kontrak politik kepada Ahok. Apa yang salah? Apa pula yang baru? Dalam politik, aneh benar mengusung tanpa paham ‘apa dan siapa’ yang diusung, bak membeli kucing dalam karung. Apakah who’s who itu juga berlaku untuk seorang berkarakter seperti Ahok, fi gur yang terlalu gamblang untuk dibaca? Jawabnya, siapa pun yang diusung, apa pun karakternya, harus menjunjung tinggi komitmen membangun masyarakat, bangsa, dan negara.
Apakah wujudnya lisan, ataukah hitam di atas putih berupa kontrak politik, mangga kersa. Yang masih belum terjawab hingga Selasa (20/9), siapa saingan Ahok-Djarot. Belum jelas, Sandiaga Uno bakal berpasangan dengan siapa. Juga belum jelas, apakah Yusril Ihza Mahendra jadi diusung. Kalau jadi, siapa pula wakilnya. Semua itu menunjukkan hebatnya dinamika politik lokal, yang berspektrum nasional.
Warga Jakarta tentu dapat bersabar, menantikan kejutan politik, yaitu Ahok-Djarot mendapat kompetitor yang setanding dalam visi dan misi membangun Jakarta, sebagai ibu kota negara. Bukan jualan kebencian, bukan jualan SARA yang bikin negara dan bangsa ini mundur.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved