Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Energi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
14/9/2016 05:31
Energi
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

RAPAT Kerja Komisi VII DPR dengan Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas pekan lalu mengungkapkan ancaman krisis energi yang kita akan hadapi. SKK Migas melihat target lifting minyak tahun depan yang ditetapkan 815 ribu barel per hari tidak akan bisa tercapai. Maksimal produksi minyak kita hanya 780 ribu barel per hari. Bahkan SKK Migas melihat produksi minyak dalam negeri akan terus menurun hingga maksimal 550 ribu barel per hari pada 2020. Penyebabnya ialah harga minyak dunia yang rendah sehingga tertundanya investasi baru untuk eksplorasi minyak.

Namun, Pelaksana Tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Luhut Pandjaitan dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR tetap optimistis target lifting minyak 2017 akan bisa tercapai. Pemerintah dan DPR sepakat menetapkan lifting migas 1,965 juta barrel equivalent minyak per hari, dengan 815 ribu barel disumbangkan dari minyak.

Kita harus memberikan perhatian serius pada persoalan energi karena hal ini vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan industri di Indonesia. Kita tidak mungkin akan bisa menjadi negara industri baru apabila tidak ditopang ketersediaan energi yang memadai. Kita tidak bisa asal-asalan dalam menyiapkan kebutuhan itu. Sudah menjadi hukum besi, setiap 1% pertumbuhan ekonomi membutuhkan 1,5% tambahan pasokan energi.

Kenyataannya sejak 1994 produksi minyak nasional terus menurun. Setelah puncak produksi sekitar 1,5 juta barel per hari, tahun depan produksi minyak kita turun lebih 50%. Beruntung produksi gas kita meningkat. Hanya saja pasokan gas itu tidak bisa terus diharapkan meningkat. Tanpa ada investasi baru di sektor hulu, produksi gas akan terus menurun. Contoh paling nyata produksi gas Total EP di Kalimantan Timur yang terus menurun dan membutuhkan eksplorasi baru agar kita bisa melakukan eksploitasi untuk meningkatkan produksi.

Kita tidak boleh lupa, investasi migas bukan hanya mahal, melainkan juga butuh waktu lama. Blok gas Masela, misalnya, sudah dieksplorasi sejak 1990-an, tetapi baru sekarang kita bisa temukan dan ketahui jumlahnya. Untuk bisa kemudian dikeluarkan dari perut bumi, blok gas di Maluku itu butuh waktu hingga 2024. Untuk itulah, perencanaan eksplorasi minyak harus dilakukan mulai sekarang. Kita tidak bisa menunda karena kondisi yang kita hadapi sudah krisis. Apalagi pemerintah begitu menggebu untuk mendorong masuknya investasi. Tiga belas paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah membawa konsekuensi bagi penyediaan energinya.

Investasi di sektor migas tidak mungkin mengandalkan APBN. Bahkan berpuluh-puluh tahun kita mengandalkan investasi asing untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi. Sekarang, Indonesia berada pada urutan ke-113 dari 126 negara dalam daya tarik untuk berinvestasi di sektor migas. Dengan kondisi seperti itu diperlukan konsep yang lebih strategis. Pendekatan seperti apa yang hendak kita tawarkan agar daya saing Indonesia lebih meningkat? Apakah kita masih akan menggunakan strategi cost recovery seperti yang diterapkan zaman Ibnu Sutowo?

Ataukah kita menawarkan konsep baru yang lebih cocok dengan kebutuhan zaman? Konsep itu bahkan harus disesuaikan dengan pengembangan energi yang hendak kita lakukan. Kita tahu sudah ada konsep bauran energi hingga 2025 yang disesuaikan dengan tanggung jawab Indonesia untuk mengurangi emisi gas buang. Dalam pertemuan COP21 di Paris, kita sudah memasang janji yang tinggi untuk menurunkan kontribusi emisi gas buang. Boro-boro kita menyiapkan langkah ke arah sana, konsep untuk menjawab krisis energi saja masih tidak jelas.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.