Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI

PERJALANAN haji telah membuka cakrawala berpikir saya dengan menganugerahkan cara pandang baru selama dua pekan di Tanah Suci.
Saya melihat hal yang tidak pernah saya lihat selama 39 tahun hidup di AS.
Saya melihat semua ras dan warna kulit bersaudara dan beribadah kepada satu Tuhan tanpa menyekutukanNya.
Benar pada masa lalu saya bersikap benci pada semua orang kulit putih namun saya tidak merasa bersalah dengan sikap itu lagi,
karena sekarang saya tahu bahwa ada orang kulit putih yang ikhlas dan mau bersaudara dengan orang negro'.
Demikian Malcolm X menulis dalam biografinya The Autobiography of Malcolm X, As Told to Alex Haley (1992).
Menurut pria kelahiran Omaha, AS, 19 Mei 1924 itu, Islam menunjukkan kepadanya bahwa kebencian membabi buta kepada semua orang kulit putih sungguh sikap tak islami.
Seperti halnya jika sikap yang sama dilakukan orang kulit putih terhadap orang negro.
Labbaik Allahumma labbaik....
Haji telah mentransformasi jiwa dan pikiran Malcolm X. Kulit putih yang telah merasuki bawah sadarnya sebagai manusia paling jahanam di muka bumi mulai melisut.
Memang kebencian itu bukan datang dari langit.
Empat abad kaum negro hidup dalam kubangan rasialisme kelam di negeri yang menjunjung tinggi demokrasi.
Ketika Malcolm masih dalam kandungan, pasukan berkuda Ku Klux Klan kerap meneror rumahnya seraya mengacungkan senjata.
Ayah Malcolm, Earl Little, pendeta Gereja Baptis, aktif dalam UNIA (Asosiasi Perbaikan Kaum Negro Sedunia).
Wajar ia menjadi sasaran empuk pasukan pembasmi kaum negro.
Rumahnya pun kemudian dibakar dan Little dibunuh ketika Malcolm enam tahun.
Sempurnalah derita itu: negro, miskin, dan yatim.
Kesaksian hidupnya, seperti umumnya negro yang hidup dalam ghetto-ghetto yang kumuh, terlibat kriminalitas, dan narkotika merupakan ekspresi rasa frustrasi tak tertahankan.
Malcolm akhirnya meringkuk di penjara selama tujuh tahun.
Penjara kemudian menjadi universitasnya.
Ia belajar agama (Islam), sejarah, sastra, bahasa, dan filsafat. Intelektualitasnya terasah.
Setelah bebas, ia bergabung dengan Nation of Islam (NOI) yang dipimpin Elijah Mohammad.
Selama lebih dari satu dekade, ia menjadi mubalig di organisasi itu dan dikenal sebagai pendakwah karismatik.
Untuk memberi efek derita kaum negro, Malcolm selalu merujuk pada buku Black Like Me karya James Baldwin dan John Griffin.
Griffin ialah kulit putih yang menghitamkan diri menjadi negro selama dua bulan.
Dua bulan menjadi negro saja, derita sudah tak tertahankan.
Apalagi negro asli yang dihina selama empat abad.
Ketika naik haji, ia melihat betapa sesama manusia (muslim) benar-benar bersaudara.
Ia terpesona dengan kehidupan di Tanah Suci, yang kontras dengan negerinya yang rasial.
Terlebih, ketika ia menjadi tamu Raja Arab Saudi Pangeran Faisal.
Baginya tak masuk akal, seorang yang di negerinya kenyang hinaan bisa menjadi tamu raja.
Namun, ironi telah menjadi takdirnya.
Ia dibunuh tiga kulit hitam di New York pada 21 Februari 1965.
Kini, berjuta-juta muslim berhaji ke Tanah Suci.
Transformasi jiwa dan pikiran Malcolm X agaknya perlu digemakan kembali.
Bahwa sesama muslim bersaudara.
Jika sesama muslim bersaudara, haji mestinya menjadi inspirasi perdamaian di Timur Tengah.
Jika haji yang menjadi bukti nyata persaudaraan tak mampu merekatkan kemanusiaan, berhaji menjadi kehilangan pelajarannya yang paling autentik.
Di dalam negeri, kini kian terasa merapuhnya solidaritas dan menguatnya individualitas.
Jiwa altruistis melisut dan nafsu serakah menguat.
Kian mudah kaum beragama menyatakan diri paling benar dan mengafirkan mereka yang tak sepaham.
Transformasi Malcolm X setelah berhaji agaknya perlu dibaca kembali.
Bahwa berhaji kian meneguhkan untuk mencintai sesama.
Bahwa Islam rahmat bagi alam semesta.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved