Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Impor

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
10/9/2016 05:31
Impor
(FOTO ANTARA/Aditya E.S. Wicaksono)

APAKAH Indonesia berada dalam kondisi krisis? Jawabnya tentu tidak. Perekonomian kita masih tumbuh positif pada Kuartal II lalu. Neraca pembayaran juga dalam kondisi baik. Defisit neraca transaksi berjalan berada pada tingkat yang terkendali dan bahkan cenderung menurun. Namun, bukan berarti kita tidak perlu waspada. Di samping ketidakpastian perekonomian global, anggaran negara kita berada dalam posisi tertekan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terpaksa melakukan pemotongan anggaran dalam jumlah besar untuk mengantipasi bolongnya sisi penerimaan. Anggaran kementerian dan lembaga dan juga dana transfer ke daerah diminta untuk diturunkan lagi. Dalam posisi seperti ini memang kita harus mengendalikan pengeluaran. Jangan sampai kita lebih besar pasak daripada tiang.

Penghematan bukan hanya dalam pengeluaran pemerintah, tetapi juga dalam penggunaan devisa. Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono mengkhawatirkan sikap kita yang mudah untuk mengimpor. Sebentar-sebentar impor. Padahal, kalau digerakkan kemampuan ekonomi dalam negeri terlebih dahulu, bukan hanya devisa yang bisa dihemat, tetapi menggeliatnya kegiatan ekonomi dalam negeri.

Terutama impor yang kita sayangkan ialah impor kebutuhan pangan. Impor ini bukan hanya sekadar habis dan tidak menyisakan apa-apa kecuali kotoran, tetapi meninggalkan kekuatan kita sebagai negara agraris. Sekarang ini kita membuka lagi impor untuk daging kerbau dari India. Tidak tanggung-tanggung DPR pun menyetujui dan mengizinkan Perum Bulog mengimpor daging kerbau sampai 80 ribu ton.

Dengan harga impor daging kerbau Rp48 ribu per kilogram, artinya kita harus menyediakan devisa sekitar Rp6 triliun. Dengan bisnis sebesar itu tidak heran apabila Duta Besar India Nengcha Lhouvum hadir langsung dalam acara Economic Challenges, Selasa (6/9) malam lalu karena membahas daging kerbau India. Bagi India, bisnis US$500 juta per tahun tentu merupakan peluang yang bagus.

Bukan hanya dunia usaha mereka yang akan bergairah, melainkan peternak di negeri itu punya kesempatan kerja yang luar biasa. Lalu apa yang kita dapatkan dari impor itu? Pertama, keinginan Presiden Joko Widodo untuk membuat harga daging di bawah Rp80 ribu per kg memang bisa tercapai. Kedua, seperti dikatakan Wakil Ketua Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi, pemenuhan protein hewani masyarakat bisa terpenuhi.

Tetapi selebihnya tidak ada. Coba kalau dana Rp6 triliun itu dipakai untuk membangun industri peternakan di Indonesia, ribuan orang akan bisa bekerja di bidang ini. Dari sana tidak hanya bisa lahir pengusaha peternakan yang andal, tetapi riset peternakan pun bisa berkembang. Kita teringat ketika Presiden Soeharto dikritik karena terlalu banyak berutang dari luar negeri.

Saking kesalnya Presiden Soeharto mengatakan, utang luar negeri itu dipakai untuk membangun infrastruktur yang membuat masyarakat bisa menjadi lebih produktif. Bukan dipakai untuk membeli makanan yang kemudian hanya menjadi kotoran. Kita harus berpikir ulang dalam melakukan impor. Sama dengan kita mengekspor produk dalam bentuk bahan mentah, kita sebenarnya hanya memberikan bangsa lain mempunyai pekerjaan dan menikmati nilai tambah.

Sementara kita di sini terbelenggu dalam persoalan pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan sosial. Kita selalu diingatkan, negeri ini mempunyai kekayaan alam yang luar biasa. Masyarakatnya pun cepat untuk belajar apabila diberikan pengarahan yang benar. Sayangnya berpuluh tahun kita tidak memiliki arah kebijakan yang memberdayakan kekuatan dari bangsa ini.

Tidaklah keliru apabila dikatakan, kemajuan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan alam yang dimilikinya. Namun, ditentukan oleh seberapa banyak manusia yang tercerahkan bisa mencerdaskan bangsanya.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.