Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA memang tak dihuni para malaikat, tetapi juga (tak boleh) dikuasai para bandit dan durjana. Kita tetap ingin dunia dihuni para manusia yang jiwa-jiwanya hidup, bukan jiwa-jiwa 'menemui ajal' seperti dalam novel Jiwa-Jiwa Mati karya pujangga Nikolai Gogol. Jiwa yang tidak menghidupi kemanusiaan.
Amerika Serikat, pernah punya seorang bandit sekaliber Alphonse Gabriel Capone (Al Capone), yang membuat para penegak hukum jeri. Ia memang punya darah mafioso Italia. Pembunuhan sadis ialah reputasinya. Ia akhirnya masuk penjara Alcatraz, tapi bukan karena pembunuhan dan perampokan. Inilah durjana terbesar abad ke-20. Kredonya jelas.
"Untuk mendapatkan keuntungan banyak, selain dengan kata manis, juga perlu senjata yang menyalak." Al Capone memang punya bakat genetis, yakni mafioso Italia. Mafia Italia mempunyai aturan perilaku internal yang sangat kuat, l'omerta. Keluarga mafioso mempunyai kedudukan istimewa sebagai manusia terhormat (men of honor). Mereka meyakini apa yang dilakukan demi kehormatan keluarga. Nilai yang mereka anut jelas: "Ambilah keuntungan sebanyak-banyaknya dari orang lain yang ada di luar keluargamu pada setiap kesempatan. Jika tidak, mereka akan akan mengambil keuntungan terlebih dahulu darimu."
Para mafioso mereka melakukan kejahatan tanpa menyadari mereka salah. Seperti juga terjadi di Somalia, para bajak laut itu merupakan idaman para keluarga yang punya anak gadis. Menikah dengan para penjahat laut jauh lebih pasti, lebih bergengsi. Mungkin realitas mafioso dan para lanun di Somalia itulah yang disebut Hannah Arendt sebagai kejahatan yang banal (?).
Kejahatan yang pelakunya tak merasa bersalah. Mereka merasa benar, bahkan mulia. Dalam cara yang berbeda, para bandit ekonomi di Indonesia, para koruptor yang punya gairah luar biasa dalam merampok uang negara, dengan menyalahgunakan kekuasaan, sesungguhnya ini contoh serupa seperti yang dikatakan Arendt. Dengan melihat fakta-fakta yang silih berganti dengan gaya hidup mereka yang gemerlap, seperti bekas Gubernur Banten Ratu Atut, yang tubuhnya dibalut busana serbamahal, motif apa jika bukan ingin menunjukkan kemuliaan?
Motif apa lagi jika orang berjual beli perkara dilakukannya di Tanah Suci ketika pergi haji, seperti besan bekas Sekjen Mahkamah Agung Nurhadi, kalau bukan kemuliaan sebagai orang alim? Apa yang bisa kita jelaskan jika dua menteri agama terlibat korupsi perkara haji, kalau bukan kealiman? Mereka merasa mulia sebab yang mereka melakukannya sebagai pembesar Kementerian Agama.
Mereka tak berprinsip sebaliknya, justru karena ibadah agama sakral, maka jangan dilakukan dengan cara-cara cemar. Tembok-tembok kita untuk menahan laku korupsi hampir semuanya telah jebol. Dari partai apa pun, dari perguruan tinggi unggul atau biasa-biasa saja, mereka yang punya kecerdasan intelektual tinggi maupun yang rendah, dari keluarga yang sekuler atau yang agamis, yang awam hukum ataupun penegak hukum, semuanya mempunyai potensi yang sama.
Mereka serupa benteng-benteng yang luruh. Tertangkap tangannya Bupati Banyuasin yang muda usia, Yan Anton Ferdian, yang hanya beberapa hari setelah KPK menetapkan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam sebagai tersangka korupsi, dan begitu banyak kasus korupsi yang bertubi-tubi, bukti mereka melakukannya dengan rasa tak bersalah.
Dari banyak kasus korupsi umumnya diwujudkan dengan rumah megah, kendaraan mewah, tanah (bahkan ada yang begitu dermawan), dan tak ada rasa bersalah. Pajangan harta seperti itu bukti amat nyata betapa mereka merasa mulia. Itulah jiwa-jiwa mati. Jiwa-jiwa yang tak punya lagi kepekaan soal kepantasan. Itulah kenapa korupsi terus silih berganti.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved