Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

2M

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
05/9/2016 06:00
2M
(ANTARA/Sigid Kurniawan)

GOLKAR menunjukkan kegesitan mereka belajar dari kesalahan.

Bukan kesalahan kecil, melainkan kesalahan besar, yaitu tidak turut mengusung Jokowi dalam Pilpres 2014.

Bahkan, seperti khawatir ketinggalan sepur, jauh hari sebelum Pilpres 2019 dilaksanakan, Golkar di bawah kepemimpinan Setya Novanto telah memproklamasikan bakal mengusung Jokowi untuk menjadi presiden masa jabatan kedua (2019-2024).

Setya Novanto menginstruksikan pengurus DPD tingkat 1 dan DPD tingkat 2 untuk memasang foto-foto kegiatan Jokowi.

"Kalau sudah dipasang di daerah-daerah, ini tentu akan memberi warna yang lain," kata Novanto.

Tak hanya memasang foto kegiatan Jokowi.

Novanto pun menyeru pengurus Golkar untuk juga memasang spanduk, baliho, dan billboard sebagai upaya meningkatkan elektabilitas Jokowi.

Lebih jauh lagi, Setya Novanto mewacanakan siapa bakal menjadi cawapres mendampingi Jokowi. Mereka ialah dua perempuan, yaitu Sri Mulyani dan Khofifah Indar Parawansa, dan seorang pria, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Begitulah, Golkar menjadi partai yang agresif. Bukan hanya terhadap Jokowi, melainkan juga terhadap Ahok, sebagai calon Gubernur Jakarta dalam Pilkada 2017.

Kiranya tidak berlebihan untuk mengatakan, di tengah ketidakjelasan sikap PDI Perjuangan, Golkar sepertinya hendak memberi kesan kepada publik sebagai pengusung Ahok yang paling 'militan' dibanding NasDem dan Hanura.

Apakah salah Golkar bertingkah seperti itu? Tentu saja tidak. Partai itu tidak salah tingkah.

Bahkan, kalaupun salah tingkah, bukan persoalan di mata siapa pun yang rasional.

Dari segi suasana kebatinan Golkar sendiri, memang aneh Golkar berada di luar kekuasaan. Apalagi menjadi oposisi.

Batinnya bilang, "Sakitnya di sini." Mana tahan?

Lagi pula, tiap partai memerlukan sedikitnya '2M', yaitu manuver dan momentum.

Golkar menggunakan keduanya.

Momentum berubah haluan meninggalkan Koalisi Merah Putih, sekalian dimanfaatkan bermanuver ke Pemilu 2019, mendukung Jokowi.

Saat itu, untuk pertama kali pilpres dan pileg diselenggarakan serentak.

Karena itu, semua partai tanpa kecuali sesungguhnya tidak punya lagi kemewahan waktu untuk berlama-lama menimang-nimang, mengelus-elus capres.

Energi partai difokuskan untuk menyeleksi calon legislatif di semua tingkatan.

Pilihan terbijak tentu saja mengusung petahana, terlebih bagi Golkar yang pada 2014 keliru.

Bahkan, salah besar, tidak mengusung dan mendukung Jokowi.

Gerakan Golkar mengusung Ahok juga kiranya layak dipandang sebagai pemanfaatan 2M, manuver dan momentum.

Pilkada Jakarta 2017 momentum yang terlalu strategis untuk disia-siakan partai mana pun.

Elektabilitas Ahok yang tinggi dan kepemimpinannya yang fenomenal jelas terlalu berharga untuk disia-siakan partai berpahamkan kebangsaan.

Tak terasa, Pilkada Jakarta 2017 sudah dekat.

Karena itu, apa pun ceritanya, tetap menarik menanti 2M-nya PDIP.

Manuver apa yang akan dimainkannya dan dalam momentum apa itu dilakukan?

Tentu saja, ihwal 2M bakal kian seksi menyangkut 2019.

Dalam urusan besar pilpres, kiranya tidak ada 2M yang terlalu dini.

Bahkan, menyangkut 3M, yaitu manuver, momentum, dan money.

Bisakah pilpres tanpa uang?

Jawabannya, M yang keempat, 'mimpi' kali....



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.