Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TERSANGKA koruptor yang mengenakan rompi warna jingga itu tertawa amat lepas. Saat duduk di mobil tahanan, Guntur Manurung, sang tersangka itu, terlihat amat ceria seusai diperiksa KPK tiga hari lalu. Ia seperti tak tertekan, tak memikul beban. Mungkin ia belajar dari para pendahulunya, orang-orang rantai kasus rasywah. Ada bekas menteri, presiden partai, dirjen, anggota dewan di Senayan, kepala daerah, yang kerap tertawa seusai diperiksa KPK sebagai tersangka.
Benarkah tawa itu bukti mereka tak tertekan? Tak menghadapi beban? Ada yang menafsirkan tawa dan senyum mereka mengejek KPK, menghina kita. Mengejek hukum yang di mata mereka bisa ditransaksikan. “Mereka (tersangka dan terpidana korupsi) tertawa, mungkin mereka bahagia karena uang jarahan banyak. Namun, kami yang menyaksikan amat sakit hati,” kata Ny Lia dari Makassar. Ia rajin me nanggapi acara TV di Jakarta, terlebih jika membahas korupsi.
Namun, benarkah mereka tak tertekan? Benar kah mereka tak punya rasa malu? Siapa tahu tertawa atau senyum bagian dari cara mengatasi tekanan dan rasa malu? Tertawa mungkin sebagai ruang pelepasan. Ada juga, ketika namanya diumumkan sebagai tersangka, ia langsung sakit. Bahkan, kemudian meninggal tanpa pernah merasakan duduk di ruang mahkamah.
Yang pasti, meskipun menurut lembaga Transparency International (TI) indeks persepsi korupsi Indonesia dari tahun ke tahun membaik, sesungguhnya pejabat kita tak takut korupsi. Bahkan, lembaga seperti MA diterpa kasus berkali-kali. Bagaimana kita menyikapi para hakim tipikor yang justru tertangkap tangan seperti di Bengkulu? Bagaimana pula Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam jadi tersangka korupsi karena penyalahgunaan izin tambang, padahal sudah banyak kasus serupa?
Bagaimana kita menyikapi gaya hidup Kepala Subdirektorat Kasasi Perdata Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata MA, Andri Tristianto Sutrisna, yang bergaji sekitar Rp30 juta, tapi memiliki rumah mewah yang cicilannya per bulan Rp70 juta? Ada begitu banyak pejabat yang punya harta di mana-mana, dan dianggap biasa-biasa saja.
Dari mana pula Sekretaris MA Nurhadi bisa membeli rumah di Jalan Hang Lekir yang besar dan bertanah amat luas? Jika tak terkena sebuah kasus, gaya hidup mewah pejabat kita dianggap biasa. Siapa pejabat yang berani menjalani pemeriksaan terbalik terhadap seluruh kekayaan mereka?
Wajarlah ada yang mengatakan senyum dan tawa para koruptor ialah ejekan dan perlawanan serius terhadap hukum. Ini bukti konkret gagalnya negara mempermalukan koruptor. Guru Besar UI bidang psikologi politik Hamdi Muluk memastikan fenomena koruptor senyum tanpa malu itu hanya terjadi di Indonesia. Padahal, pelaku korupsi di Indonesia berpakaian khusus tahanan.
Namun, tidak juga menunjukkan sikap terhina, menyesal, ataupun takut sebab korupsi belum dianggap kejahatan luar biasa, seperti narkoba dan terorisme. Alihalih merunduk, mereka malah berjalan gagah, penuh senyum, tawa, dan melambaikan tangan. Sebuah aksi yang tak salah jika diterjemahkan, “Kabar kami baik-baik saja. Kami bahagia.”
Rupanya jaket warna jingga tak cukup berarti untuk membuat efek jera para pencuri harta negara. Mungkin rompi jingga plus tangan terborgol, hukuman yang berat (pemiskinan), bisa menjadi ‘paket’ yang bisa membuat nyali para koruptor menciut. Mungkin! Tertawa hak setiap warga, juga koruptor. Namun, betul kata Ny Lia, setiap melihat aksi para koruptor dengan aneka tawa, ada jutaan orang yang tersakiti hatinya. Semakin sering koruptor tertawa semakin banyak hati yang tersakiti.
Tawa dan lambaian tangan ekspresi dan aksi yang jamak diartikan kabar gembira. Penjahat korupsi kok berkabar gembira? Perlakuan terhadap koruptor yang keras dan tangan hukum yang bekerja kian tegak lurus salah satu cara yang mungkin bisa mengobati hati rakyat yang terluka. Namun, sejauh korupsi disikapi dengan cara-cara biasa-biasa saja, pasti akan lebih banyak penjahat yang ceria, lebih banyak lagi yang tersenyum dan tertawa.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved