Headline

Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.

VOC

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
31/8/2016 05:31
VOC
(ANTARA FOTO/R. Rekotomo)

KETIKA pertama kali datang ke bumi Nusantara pada 1602, VOC bermaksud untuk berdagang. Rempahrempah yang melimpah di negeri ini merupakan bisnis yang menggiurkan. Ketamakan membuat mereka ingin menguasai Nusantara, apalagi ketika VOC kemudian bangkrut dan pengelolaan negeri ini diambil alih pemerintah Belanda. Belanda menjadikan negeri ini sebagai wilayah jajahan mereka.

Rakyat dijadikan sapi perahan. Seluruh tanah di negeri ini dianggap milik mereka dan rakyat diwajibkan untuk membayar upeti. Raja-raja di seluruh wilayah Nusantara dijadikan kepanjangan tangan untuk menarik upeti dari rakyat. Ketidakadilan itulah yang menggugah para pemimpin bangsa ini untuk bangkit melawan. Perjuangan sejak 1908 mencapai puncaknya 37 tahun kemudian ketika Bung Karno dan Bung Hatta atas nama rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaan.

Belanda tidak begitu saja mau mengakui kemerdekaan kita. Melalui dua kali agresi, mereka mencoba kembali berkuasa di negeri ini. Namun, para pejuang bangsa tidak lagi takut terhadap intimidasi Belanda. Dengan gagah berani mereka melakukan perlawanan. Akhirnya, Belanda menyerah dan melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag, 1949, mereka menyerahkan kedaulatan kepada bangsa Indonesia.

Setelah 71 tahun merdeka, kita harus sadar, tujuan kemerdekaan ialah untuk menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara harus hadir untuk melindungi kehidupan segenap warga dan tidak boleh menebarkan rasa takut seperti VOC dulu. Tepatlah kalau Presiden Joko Widodo memerintahkan jajaran Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak memberikan penjelasan soal amnesti pajak yang sedang digalakkan pemerintah.

Amnesti pajak bukanlah langkah negara untuk membuat rakyat takut dan khawatir. Pada awalnya amnesti pajak digulirkan untuk menarik uang-uang milik rakyat Indonesia yang disimpan di luar negeri. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro ketika itu menyebutkan, ada sekitar US$1 triliun uang yang disimpan di luar negeri. Uang itu dimanfaatkan negara lain untuk membangun negeri mereka. Kalau disimpan di Indonesia, uang-uang itu pasti akan bisa mempercepat pembangunan negeri ini.

Bersama DPR kemudian dibuatlah Undang-Undang Pengampunan Pajak. Begitu percaya dirinya dikatakan, akan ada uang segar yang kembali ke Indonesia sebesar Rp1.000 triliun dan pernyataan aset sebesar Rp4.000 triliun. Dengan perhitungan
tebusan 2% untuk dana segar dan 4% untuk pernyataan aset, negara akan mendapatkan tambahan penerimaan pajak sebesar Rp165 triliun. Jumlah itu bahkan ditetapkan sebagai penerimaan pada APBN Perubahan 2016.

Ternyata, kenyataan tak semanis janjinya. Uang simpanan di luar negeri itu tidak sebesar yang diperkirakan. Seretnya aliran dana amnesti pajak dari luar negeri membuat sasaran bergeser dari pemilik simpanan di luar negeri menjadi semua warga negara yang belum membayar pajak dan mendeklarasikan aset. Keruan saja muncul kehebohan baru. Semua orang merasa terteror oleh niatan pemerintah mengejar target penerimaan uang tebus amnesti pajak. Para pensiunan, petani, serta pengusaha mikro dan kecil ketakutan aset mereka disita karena tidak punya dana untuk menebus harta
tersebut.

Presiden Jokowi menangkap kegundahan masyarakat. Pemerintah tentu tidak mau disamakan dengan VOC yang memeras rakyat. Setelah kemerdekaan, kita semua memiliki hak dan kewajiban. Kita berhak untuk mendapatkan pelayanan dari negara, tetapi secara bersamaan memiliki kewajiban untuk membiayai pembangunan negeri ini.

Agar tidak menjadi kontraproduktif, kita harus kembali ke tujuan awal amnesti pajak. Ini bukan dimaksudkan bagi kebanyakan orang yang sudah membayar pajak, melainkan kepada mereka yang belum membayar dan terutama lagi kepada mereka yang memiliki simpanan harta di luar negeri untuk membantu pembangunan negeri ini.



Berita Lainnya
  • Penghargaan Banting Harga

    28/8/2025 05:00

    TAK cuma agak, negeri ini kiranya benar-benar laen. Ada banyak kelainan di sini, termasuk yang terkini, yakni ihwal bagi-bagi penghargaan kepada ratusan tokoh oleh Presiden Prabowo Subianto.

  • Rojali-Rohana Jadi Rosela

    27/8/2025 05:00

    AKHIR Juli lalu, dua kali saya menulis fenomena rojali dan rohana di rubrik Podium ini. Tulisan pertama, di edisi 26 Juli 2025, saya beri judul Rojali dan Rohana.

  • Dramaturgi Noel

    26/8/2025 05:00

    IBARAT penggalan lirik 'Kau yang mulai, kau yang mengakhiri' yang sangat populer dalam lagu Kegagalan Cinta karya Rhoma Irama (2005)

  • Noel Tabola-bale Sidak, Pemerasan

    25/8/2025 05:00

    CERDAS atau dungu seseorang bisa dilihat dari kesalahan yang dibuatnya. Orang cerdas membuat kesalahan baru, sedangkan orang dungu melakukan kesalahan itu-itu saja,

  • Noel dan Raya

    23/8/2025 05:00

    MUNGKIN Anda menganggap saya berlebihan menyandingkan dua nama itu dalam judul: Noel dan Raya. Tidak apa-apa.

  • Semrawut Rumah Rakyat

    22/8/2025 05:00

    SEBETULNYA, siapa sih yang lebih membu­tuhkan rumah, rakyat atau wakil rakyat di parlemen?

  • Kado Pahit Bernama Remisi

    21/8/2025 05:00

    TEMAN saya geram bukan kepalang.

  • Waspada Utang Negara

    20/8/2025 05:00

    UTANG sepertinya masih akan menjadi salah satu tulang punggung anggaran negara tahun depan. 

  • Mengakhiri Anomali

    19/8/2025 05:00

    BANGSA Indonesia baru saja merayakan 80 tahun usia kemerdekaan.

  • Topeng Arogansi Bopeng Kewarasan

    18/8/2025 05:00

    ADA persoalan serius, sangat serius, yang melilit sebagian kepala daerah. Persoalan yang dimaksud ialah topeng arogansi kekuasaan dipakai untuk menutupi buruknya akal sehat.

  • Ibadah bukan Ladang Rasuah

    16/8/2025 05:00

    LADANG ibadah malah dijadikan ladang korupsi.

  • Maaf

    14/8/2025 05:00

    KATA maaf jadi jualan dalam beberapa waktu belakangan. Ia diucapkan banyak pejabat dan bekas pejabat dengan beragam alasan dan tujuan.

  • Maksud Baik untuk Siapa?

    13/8/2025 05:00

    ADA pejabat yang meremehkan komunikasi. Karena itu, tindakan komunikasinya pun sembarangan, bahkan ada yang menganggap asal niatnya baik, hasilnya akan baik.

  • Ambalat dalam Sekam

    12/8/2025 05:00

    BERBICARA penuh semangat, menggebu-gebu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan akan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

  • Blokir Rekening di Ujung Lidah

    11/8/2025 05:00

    KEGUNDAHAN Ustaz Das’ad Latif bisa dipahami. Ia gundah karena rekeningnya diblokir.

  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.