Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Penghargaan Banting Harga

28/8/2025 05:00
Penghargaan Banting Harga
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TAK cuma agak, negeri ini kiranya benar-benar laen. Ada banyak kelainan di sini, termasuk yang terkini, yakni ihwal bagi-bagi penghargaan kepada ratusan tokoh oleh Presiden Prabowo Subianto.

Kelainan berarti ada yang janggal, tidak normal. Pun dengan penganugerahan beragam jenis bintang yang dihelat di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8). Penghargaan yang berbarengan dengan unjuk rasa di Gedung DPR, tak terlalu jauh dari istana, oleh elemen masyarakat.

Di istana yang sejuk, para penerima penghargaan full senyum. Hati mereka adem, berbunga-bunga. Yang memberikan senang, yang menerima apalagi. Di DPR sebaliknya. Hati demonstran panas, bergejolak. Marah karena elite semaunya melonjakkan pendapatan anggota dewan di tengah kian sulitnya rakyat mengais penghasilan.

Penganugerahan tanda kehormatan dan bintang jasa sebenarnya lazim. Setiap presiden suka melakukannya. Giliran kali ini untuk Pak Prabowo. Tak tanggung-tanggung, 141 orang dia kasih medali. Mereka lintas generasi, lintas profesi, lintas 'pengabdian'. Bintang untuk mereka beraneka, mulai Bintang Republik Indonesia Utama, Bintang Mahaputera Adipurna, Bintang Mahaputera, Bintang Jasa, Bintang Kemanusiaan, Bintang Budaya Parama Dharma, hingga Bintang Sakti.

Tentu di antara mereka, tak sedikit yang memang layak mendapat bintang. Mereka tulus mengabdi, nyata-nyata berjasa kepada Republik ini. Namun, tak semuanya. Ada yang pengabdiannya diragukan, sumbangsihnya dipertanyakan, jasanya dipersoalkan. Itulah yang membuat seremoni kali ini menjadi lain, tak normal.

Di antara yang diragukan, dipertanyakan, dan dipersoalkan itu ialah anggota Kabinet Merah Putih, anak buah Presiden Prabowo. Jumlahnya belasan. Ada menteri, ada wakil menteri. Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, misalnya, mendapatkan Bintang Republik Indonesia Utama. Bintang Mahaputera Adipurna disematkan di dada Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Energi Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Mensos Saifullah Yusuf, serta Mentan Andi Amran Sulaiman

Lalu, Bintang Mahaputera Utama diberikan kepada Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menlu Sugiono, dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Pantaskah mereka mendapat bintang? Itulah pertanyaan besar di kepala rakyat yang sudah mumet memikirkan beban hidup. Pertanyaan yang wajar, sangat wajar, jika menimbang peran, prestasi, dan jasa mereka. Mereka praktis baru bekerja delapan bulan di Kabinet Merah Putih. Kriteria model apa yang digunakan pemerintah untuk menilai bahwa mereka punya jasa luar biasa sehingga patut menerima penghargaan luar biasa?

Apakah kebijakan konyol terkait dengan penjualan gas melon dulu hingga rakyat kalang kabut untuk mendapatkan, bahkan sampai ada yang meninggal, dianggap prestasi? Apakah situs judol yang hingga sekarang masih menjadi ancaman dianggap pencapaian? Apakah mahalnya harga beras sementara katanya surplus merupakan keberhasilan luar biasa?

Itu belum seberapa. Ada pertanyaan, ada persoalan yang lebih 'membagongkan' lantaran di antara penerima bintang jasa ada bekas koruptor. Namanya Burhanuddin Abdullah. Mantan Gubernur Bank Indonesia itu mendapatkan Bintang Mahaputera Adipradana. Bintang Mahaputera ialah tanda kehormatan tertinggi kedua setelah Bintang Republik.

Burhanuddin dianggap berjasa luar biasa menjaga stabilitas moneter dan memperkuat sistem perbankan internasional. Baginya, itu bintang kedua setelah Bintang Mahaputera Utama pada 2007.

Soal jasa Burhanuddin boleh diperdebatkan. Akan tetapi, kelamnya rekam jejak kiranya sulit dijadikan silang pendapat. Dia mantan terpidana kasus korupsi, musuh besar bangsa ini. Pada Oktober 2008, dia divonis 5 tahun penjara dalam perkara rasuah aliran dana BI Rp100 miliar kepada para mantan petinggi BI dan anggota DPR. Di tingkat banding, hukuman itu diperberat menjadi 5,5 tahun, dan di kasasi dipangkas hampir setengahnya.

Selepas penjara, Burhanuddin dipercaya sebagai Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran di Pilpres 2024. Dia juga ketua tim pakar dan inisiator Danantara. Dia pun menjadi komisaris independen PT PLN dan dia baru saja mendapat anugerah Bintang Mahaputera untuk kali kedua.

Sebagai pemegang medali itu, dia berhak dikubur di taman makam pahlawan jika meninggal nanti. Kiranya hanya di sini, di Indonesia ini, mantan koruptor diberi penghormatan sebegitu dahsyatnya.

Pemikir kebangsaan Yudi Latif termasuk yang menyoal pembagian bintang jasa oleh Prabowo. Kata dia, Bintang Mahaputera sejak semula diciptakan sebagai mahkota kenegaraan, tanda bahwa Republik tahu cara menghormati putra terbaik bangsa. Namun, sejarah berbalik arah.

Yudi bilang, Bintang Mahaputera yang dulu dipersembahkan untuk para pemikul beban Republik kini kerap jatuh menjadi sekadar bros pesta politik.

Dulu, bintang itu menghiasi dada Jenderal Soedirman, panglima gerilya yang dengan paru-paru separuh tetap memimpin perang mempertahankan Republik. Dulu, bintang itu bersinar di dada M Natsir, perdana menteri yang dengan mosi integral menyatukan kembali Indonesia dalam bentuk NKRI. Dulu, ia juga pernah bercahaya di dada Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional yang dengan Taman Siswa-nya mencetak generasi merdeka. Namun, kini?

Sebagai tanda jasa, berbagai macam bintang tersebut tak ternilai harganya. Auranya kuat nian. Namun, sekali lagi, itu dulu. Sekarang, penghargaan-penghargaan itu banting harga. Serendah-serendahnya hingga nyaris tak lagi berharga.



Berita Lainnya
  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.