Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Prestasi Vs Ironi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
26/8/2016 05:31
Prestasi Vs Ironi
(AP/TATAN SYUFLANA)

TRADISI emas bulu tangkis Olimpiade terajut kembali. Adalah Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet) pahlawannya. Mereka menyambung emas yang putus pada Olimpiade 2012. Mereka sekaligus mengukir sejarah, yakni pertama kali ganda campuran bulu tangkis merebut emas olahraga akbar sejagat itu. Palagan Riocentro Pavillon 4, Rio de Janeiro, menjadi saksi keperkasaan Owi/Butet mengempaskan duet Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dua gim langsung.

Gloria jawara yang diraih tepat di hari kemerdekaan itu menjadi kian istimewa. Perlu disebut, di Olimpiade ini, Malaysia menempatkan tiga finalis, tetapi tak satu pun meraih emas. Kita yang hanya menempatkan satu finalis langsung berjaya. "Akan kian tenggelamlah Indonesia jika tiga finalis Malaysia semuanya mendapat emas," kata mantan pebulu tangkis Chandra Wijaya dalam di Metro TV.

Namun, di tengah sambutan emas bulu tangkis hingga ke Istana Merdeka, saya teringat Liem Swie King. Salah satu legenda bulu tangkis 1970-an/1980-an yang sempat menyimpan rapat prestasi hebatnya pada putra-putrinya. Juga 'Pengantin Olimpiade 1992', Susi Susanti-Alan Budi Kusuma, yang lebih tegas lagi. Mereka melarang anak-anaknya menapaki karier bulu tangkis.

Karena tidak ada jaminan masa depan. Padahal, selain peraih emas Olimpiade, Susi peraih lima kali juara All England, berkali-kali juara dunia, berkali-kali pula juara di berbagai negara. Di era 1990-an, Susi ialah penguasa tunggal putri badminton dunia. Dengan begitu banyak prestasi Susi, juga Liem, mestinya amat banyak keistimewaan dan tentu imbalan (materi).

Ternyata prestasi tinggi tak berkorelasi dengan jaminan masa depan. Menurut Susi, bagi atlet, tangga menuju prestasi puncak tak mudah. Akan tetapi, setelah berprestasi tinggi pun, negara abai. Bersama Alan, sang suami, Susi merintis bisnis. Bagaimana mantan atlet yang tak terampil berbisnis? Memang tak semua atlet seperti King dan Susi.

Namun, cerita mereka menjadi contoh ironis. Prestasi tinggi bisa suram hidupnya kalau tak jatuh bangun mencari penghidupan sendiri. Tak sedikit cerita pilu atlet kenamaan yang kemudian hidupnya merana. Kita sedih, ketika menyaksikan Owi/Butet berjaya, ada ironi, yakni seorang mantan atlet dayung wanita kelas dunia, menjadi penyapu jalanan di Jawa Tengah.

Padahal, kisah sukses atlet ialah cerita panjang yang berliku, jatuh bangun, menyisihkan segala kepentingan pribadi. Hidupnya penuh jadwal ketat latihan dan pertandingan. Umumnya mereka mengorbankan pendidikan formal. Sementara masa prestasi puncak atlet maksimal 10 tahun, tetapi proses menuju puncak ialah perjalanan panjang yang melelahkan. Saya membayangkan kebanggaan ketika Indonesia Raya dinyanyikan di Rio Janeiro, sambutan meriah Owi-Butet, juga atlet angkat besi peraih perak, Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan, akan menjadi tak bermakna jika penghargaan pada atlet tak jelas.

Bonus besar bagai para peraih medali, juga rencana tunjangan bulanan, saya melihat sesuatu yang bisa meningkatkan motivasi atlet dan calon atlet. Namun, itu sesuatu yang belum di tangan. Tentu sebagai kebijakan ini menggembirakan. Namun, bersamaan dengan imbalan besar, bagaimana visi membangun olahraga yang tak setengah hati sungguh amat penting.

Program pemusatan latihan yang terburu-buru, dana terlambat cair, uang saku atlet yang minim, sistem pembinaan atlet jalan di tempat, ialah fakta-fakta yang selalu berulang. Mestinya tersambungnya tradisi emas di Olimpiade kali ini menjadi titik berangkat memperbaiki pembangunan olahraga di Indonesia.

Fakta membuktikan negara-negara maju berada di 10 terbaik perolehan medali emas Olimpiade kali ini. Kini kita berada di urusan ke-46, meningkat dibandingkan tahun lalu di urutan ke-63. Namun, mestinya Indonesia bisa meraih prestasi lebih baik daripada hari ini. Ini jika sejumlah ironi tak terjadi lagi.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.