Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Bulu Hitam

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
25/8/2016 05:31
Bulu Hitam
(Ilustrasi Tiyok)

KPK menolak revisi peraturan pemerintah mengenai pengurangan hukuman untuk koruptor. KPK bersikap konsisten. KPK bahkan walk out ketika peraturan itu dibicarakan. Sedikit atau banyak, dalam hal itu, KPK berubah menjadi seperti kelompok penekan. Mengapa pemerintah, yaitu Kementerian Hukum dan HAM, perlu merevisi PP No 99/2012 mengenai remisi itu? Alasannya untuk mengurangi isi penjara karena penjara penuh.

Alasan itu membuat KPK meradang. Kalau penjara kurang, solusinya bangunlah penjara, bukan mengurangi hukuman koruptor karena hal itu berpengaruh buruk terhadap efek jera. Kalau pimpinan KPK kurang tidur, apakah solusinya tidur lagi? Kalau pimpinan KPK kurang kenyang, apakah solusinya makan lagi? Maaf, analogi itu hanya mau menunjukkan solusi tidak selalu cespleng linier terhadap persoalan, seperti yang dipikirkan KPK.

Kenyataan buruk ialah tren pertambahan narapidana tidak seiring dengan pertambahan kamar penjara. Tren itu harus dibelokkan pemerintah, yang bertanggung jawab meng urus penjara. Caranya? Antara lain, dengan remisi yang tanpa pandang bulu. Akan tetapi, dalam pandangan KPK, bulu itu justru harus dipandang berbeda-beda. Bulu yang hitam kelam sekali tiada terperi, alias kejahatan luar biasa seperti korupsi, terorisme, dan narkoba, tidak boleh diberikan remisi walau cuma sehari.

Apalagi lima bulan, seperti yang diterima M Nazaruddin, mantan Bendahara Partai Demokrat. Revisi peraturan itu antara lain mempermudah memberi remisi, dari semula setelah menjalani dua pertiga masa pidana, dipersingkat separuhnya, hanya menjalani masa hukuman sepertiga. Tak hanya itu. Draf revisi tersebut juga menghilangkan justice collaborator sebagai salah satu syarat untuk mendapat remisi.

Semua itu membuat KPK menolak revisi. Saya pernah menulis di forum ini, menjadi justice collaborator di KPK justru membuat orang berani korupsi beramai-ramai. ‘Nyanyia n’ di hadapan penyidik KPK itu diharapkan lebih memudahkan KPK membongkar korupsi. Imbalannya justice collaborator bakal mendapat keringanan hukuman. Korup silah sebanyak-banyaknya lalu jadilah justice collaborator.

Kini ada persoalan lain. Apakah status justice collaborator masih berlaku setelah penjahat berbulu hitam pekat yang kooperatif itu mendapat keputusan hukum tetap? Kementerian Hukum dan HAM berpandangan dengan sendirinya masih berlaku sehingga menjadikannya salah satu alasan memberi remisi kepada Naza ruddin. Hal itu membuat KPK berang.

KPK rupanya berpandangan status justice collaborator itu tidak otomatis masih berlaku. Pemberian remisi itu hendaknya dikonsultasikan dulu kepada KPK. KPK bertambah berang karena Kementerian Hukum dan HAM yang membawahkan penjara hendak merevisi PP No 99/2012, bukan hanya untuk mempermudah pemberian remisi, melainkan juga menghapus justice collaborator dengan alasan penjara penuh.

Padahal, menurut KPK, jumlah koruptor hanya 1% dari seluruh isi pen jara. Cobalah semua narapidana korupsi di satukan di sebuah penjara, sebutlah LP Sukamiskin. Tidakkah penjara yang diisi koruptor beken itu kekurangan space? Sepenuhnya mengikuti sistem hukum pidana kita, penjara tidak pernah cukup. Karena itu, polisi perlu berkearifan agar pencuri sekelas mangga tetangga tidak dipidanakan, tetapi didamaikan.

Mereka bukan penjahat yang perlu dibina di penjara. Pemakai narkoba pun jangan dipidana. Mereka bukan penjahat, apa lagi penjahat bulu hitam. Mereka pasien, tempat mereka bukan di penjara, melainkan rumah sakit. Untuk mereka, lebih cepat remisi diberikan lebih baik. Membuat penjara patut dihuni manusia mestinya juga keprihatinan KPK. Terlepas dari bulunya, apakah hitam halus pencuri mangga tetangga atau hitam pekat banget pencuri uang negara.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.