Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGUASA alim dan zalim selalu menarik diceritakan kembali. Terlebih mereka lama berkuasa. Mantan Presiden Soeharto salah satu contohnya. Bagaimana ia menghabisi lawannya dan siapa yang berpotensi menjadi seteru menjadi cerita tak pernah basi. Terlebih yang dihabisi justru para jenderal, pendukung utama ketika ia naik takhta dan berkuasa.
Menarik karena pertama ada drama, intrik politik militer yang penuh konflik; bagaimana orang-orang dekat Soeharto saling menjatuhkan, yang sesungguhnya itu bagian dari permainan Soeharto sendiri. Kedua, ia pelajaran berharga agar tak terulang bahwa sekuat apa pun tembok kekuasaan dibangun, saat ia harus roboh, tak ada yang bisa menjaganya.
Di mata Soeharto, kelompok yang berpotensi menjadi musuh terbesar, ya tentara sendiri. Karena itu, jenderal yang namanya mulai populer harus bisa dipastikan dibuat layu. Alasannya bisa masuk akal, pur basangka, hasil fitnah sesama jenderal, atau hasil nubuat juru ramal. Inilah yang diungkap Salim Haji Said dalam buku terbarunya, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, yang diluncurkan awal Agustus silam.
Ikrar Nusa Bakti, profesor riset LIPI, menyampaikan orasi ilmiah dengan judul lebih menantang, Babad Orde Baru: Dalang itu Bernama Soeharto. Selama 30 tahun berkuasa Soeharto memainkan wayangnya kapan ia suka, juga kapan harus masuk kotak. Setelah membereskan PKI, pengikut Soekarno, Islam politik target berikutnya. Ali Murtopo jenderal yang bertugas menggarap ini. Maka, Komando Jihad pun dilahirkan dan dihabisi.
Para jenderal korban pertama Soeharto ialah trio king maker Sarwo Edhi, HR Dharsono, dan Kemal Idris. Sarwo disingkirkan karena menurut juru ramal ia mendapat wahyu untuk naik takhta. Ketiga jenderal itu ke mudian ‘dibuang’. Kemal ke Yugoslavia, Sarwo ke Korea Selatan, dan HR Dharsono ke Kamboja. Dharsono lebih tragis lagi. Ia dipenjara dikaitkan dengan tindak kriminal.
Tanda jasanya dicabut, ditolak dimakamkan di taman pahlawan, ekonominya dipersulit. Jenderal Soemitro yang berani me nolak dan memilih ber bisnis. Ia pula yang berani mewacanakan perlunya pengganti Soeharto. Ia pun disingkirkan. Menurut Salim, Soeharto seorang Machiavelian yang mempraktikkan stick and carrot. Yang menguntungkan mendapat anugerah, yang berpotensi membahayakan ditumbangkan.
Para loyalis seperti Ali Murtopo dan Benny Moerdani akhirnya juga digergaji. Padahal, betapa dekatnya Soeharto-Benny. Tentara dibiarkan tak kompak karena kompak artinya berbahaya bagi Soeharto. Dengan kondisi seperti itu para jenderal tak bisa berontak. Soeharto aman-aman saja meski kian sibuk mengurus bisnis keluarganya. Para jenderal itulah yang oleh Salim disebut menderita ‘kesadaran pal su’, yakni mereka masih berteguh pendirian bahwa Soeharto masih ba gian dari tentara yang yang menjalankan roda pemerintahan sesuai yang dirancang tentara pada 1966.
Mereka menyadari Soeharto bersimpang jalan ketika perjalanannya sudah amat jauh. ‘Siapa yang merusak ABRI?’ Letjen (Purn) Harsudiono Hartas, mantan Kepala Staf Sosial Politik ABRI, menjawab dengan geram, ‘Soe harto’. Salim mengungkapkan intrik politik militer tanpa tedeng aling-aling. Ada beberapa cerita pernah kita dengar, tetapi banyak pula yang selama berpuluh tahun jadi informasi tersembunyi. Kita bersyukur Salim mengungkapkan bagaimana dalang Orde Baru memulai pekelirannya hing ga tancep kayon yang tragis itu. Ini penting dan sehat bagi kita.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved