Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA bangsa pendoa. Kelahiran, kematian, kesakitan, dan kegembiraan perlu lafal doa. Menjelang masuk dan ujian sekolah, hajatan politik, naik pangkat, pertandingan olahraga, doa jadi tumpuan. Bagi bangsa religius seperti kita, tak tamam rasanya sebuah acara sekecil apa pun tanpa doa. Seperti ada perasaan khianat pada Sang Pencipta jika meminggirkan doa.
Ada perasaan Tuhan akan menjauh dan tak memberi berkah. Doa tak hanya permohonan, pujian, pengharapan; juga kepasrahan, mengingatkan, dan penghiburan. Kita bangsa pendoa. Tempat-tempat ibadah kian banyak dibangun; kian penuh dengan umat yang berdoa. Televisi kian kerap pula menyiarkan doa bersama, lengkap dengan para pendoa yang bercucur air mata.
Di sebuah penahbisan peserta dianjurkan merekonstruksi perjalanan panjang hidupnya yang berliku dan 'berdebu'. Mereka diminta mengingat 'jalan-jalan yang bersimpang' untuk kemudian merefleksi diri, memohon ampunan Ilahi. Mungkin jemawa, mungkin banal, mungkin kikir, mungkin korup, mungkin syirik. Bukankah, seperti difirmankan dalam Alquran, sesungguhnya salat, yang penuh doa itu, mencegah perbuatan keji dan mungkar?
Kita bangsa pendoa. Wajar salah seorang penyiar TVRI, Sambas, dulu, selalu meminta para pemirsa Tanah Air memanjatkan doa setiap pertandingan penting atlet kita melawan atlet luar negeri. Beberapa tahun lalu menjelang pertandingan kejuaraan tingkat ASEAN, pemain timnas sepak bola kita berkunjung ke sebuah pesantren di Jakarta. Para pemain dan para santri menggelar doa bersama agar menang.
Sayang, timnas kita jadi pecundang. Penyair juga banyak menulis sajak doa. Bahkan, Chairil Anwar, seniman paling jalang, berdoa dalam sajak. Sajak 'Doa' yang ditujukan 'kepada pemeluk teguh', menunjukkan kerendahhatian 'aku lirik' yang 'hilang bentuk' dan 'remuk'. Baris terakhirnya: "Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling."
Kita bangsa pendoa. Namun, doa politikus Partai Gerindra, Raden Muhammad Syafii dari Komisi III DPR, pada acara sidang paripurna yang dihadiri Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta para pejabat tinggi negara, 16 Agustus lalu, menjadi doa tak biasa. Doa yang berisi teguran keras kepada penguasa.
Demokrasi tak menjadikan sang pendoa jadi subversi. Doa itu menjadi viral di media sosial. Lewat Youtube, doa yang diberi judul Doa yang Menggemparkan, segera menyebar. Penggusuran, brutalitas aparat negara di Medan, pemimpin-pemimpin yang khianat, dan ekonomi kita yang dikuasai asing, terkandung dalam doa itu. Saya melihat ada raut ketegangan, gelisah, cemas, dan tak suka saat doa dipanjatkan.
Meski kemudian tepuk tangan membahana. Mungkin baru kali ini doa ditepuktangani. Respons pro-kontra meruah.
Sang pendoanya banjir pesan pendek. Di grup medsos, seorang kawan berkomentar, "Negeri ini selalu menggetarkan hati kalau berdoa, tetapi menghancurkan harapan kalau bertindak." Komentar yang banyak pula mendapat tanda sepakat.
Dalam artikel Revolusi Doa, Sindhunata menulis, "Mengapa doa tidak berefek bagi kebaikan moral bangsa? Dari penjelajahan singkat mengenai tradisi doa di atas, kita bisa menjawab: doa kita mandul karena terpisah dari masalah-masalah etika, sosial, dan moral yang dihadapi bangsa. Doa melulu menjadi praktik formal-ritual yang tidak bersentuhan dengan permasalahan masyarakat. Doa hanya menjadi kesalehan yang steril terhadap masalah sosial."
Saya setuju Sindhunata. Doa mestinya tak hanya untuk doa. Doa mestinya tak hanya praktik formal-ritual yang menjauh dari masalah sosial. Saya sepakat sang kawan. Doa mestinya tak hanya menggetarkan hati, tetapi mengobarkan pikiran untuk bertindak mewujudkan harapan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved