Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SUATU siang seorang kepala daerah dengan wajah serius menerima telepon. Dari nada bicara nya, penelepon itu seperti punya kuasa. Ia pengusaha di Jakarta. Kepada sang kepala daerah, suara di seberang sana cukup memanggil namanya. Sang pengusaha yang kabarnya penyandang dana politik sang kepala daerah tentu merasa punya hak istimewa. Dari nada dan raut muka, siang itu sang kepala daerah menjawab agak kikuk.
Dalam peristiswa lain, suatu malam, beberapa politikus yang hendak maju sebagai calon legislator secara beramai-ramai sowan ke rumah seorang pengusaha. Pengusaha itu pernah tersandung kasus suap dan diganjar penjara beberapa tahun. Namun, di daerahnya, nama sang saudagar tetap mencorong. Ia tetap menjadi magnet, terlebih bagi para politikus. Rumahnya yang serupa istana, kata penduduk di situ, tak pernah sepi sejak ia bebas dari bui.
Para politikus datang silih berganti. Relasi yang tak mungkin saling menegasi. Sang pengusaha butuh pengakuan kembali, para politikus butuh fulus untuk membiayai (politik mereka). Di Indonesia realitas seperti itu sesungguhnya biasa terjadi menjelang atau saat pemilu tiba. Seperti hubungan patron-klien jadinya. Wajarlah setelah mereka menjadi pejabat publik, para politikus itu tak risi sowan kepada para pengusah a yang menjadi patron mereka. Mereka ‘bukan orang lain’.
Terlalu banyak jika dihimpun dan terlalu panjang jika direntangkan contoh relasi pengusaha politikus serupa itu. Terungkapnya kasus suap pengusaha Hartati Murdaya kepada Bupati Buol Amran Batalipu beberapa tahun lalu hanyalah satu contoh. Terlalu banyak relasi seperti itu yang tak tercium oleh radar penegak hukum. Hubungan seperti itulah yang sesungguhnya menyuburkan oligarki dan pada akhirnya kleptokrasi.
Karena itu, tak mengherankan dan tak aneh jika Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi sering berkonsultasi dengan pemilik Agung Sedayu Grup, Sugianto Kusuma alias Aguan. Tak usah bingung pula jika Prasetio mengatakan pertemuan itu bertujuan konsultasi pembahasan dua rancangan perda tentang tata ruang lahan reklamasi di pantai utara Jakarta. Sebagai konsultan, Aguan diposisikan sebagai orang yang memberi petunjuk, nasihat, dan pertimbangan.
Karena itu, tak merasa menjadi beban pula Prasetio, dan beberapa anggota dewan DKI Jakarta, yakni M Taufi k, Ongen Sangadji, Selamat Nurdin, dan M Sanusi, berkunjung ke Aguan di rumah sang pengusaha itu. “Saya dan Pak Aguan bukan seperti orang lain sebab saya dulu pernah bekerja di salah satu perusahaan milik beliau. Saya mantan karyawan beliau,” kata Edi dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta dengan terdakwa mantan Direktur Utama PT Agung Podomoro Land (Tbk) Ariesman Widjaja, Rabu (20/7) lalu.
Tak peduli etis atau tidak etis, Prasetio Edi sebagai pejabat negara konsultasi dengan Aguan, sang pengusaha itu, yang menurut jaksa M Takdir Suhan, punya kepentingan dalam soal reklamasi. Tak peduli pantas atau tidak para pejabat negara itu sowan, yakni menghadap kepada orang yang lebih dihormati itu. Terlebih lagi, Prasetio berte rus terang Aguan bukanlah orang lain. Karena ‘bukan orang lain’, kita bisa bayangkan ‘hubung an tanpa batas’ penguasapengusaha ini.
Dalam relasi ‘bukan orang lain’ ada cerita, seorang pejabat publik itu bisa kapan saja dipanggil menghadap sang patron. Sang patron, pengusaha besar yang uangnya ‘tak berseri’ itu, rupanya ‘menggaji’ secara rutin sang pejabat publik itu. Tak ada yang tabu dalam relasi itu. Semuanya dikemas jadi pantas belaka. Mereka bukan orang lain. Dalam relasi ‘bukan orang lain’, batas urusan privat dan urusan publik jadi membaur, melebur. Terlalu banyak hubungan terlarang ini terjadi. Mereka tak peduli negara jadi tunawibawa.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved