Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
'MASJID adalah barak kami. Kubah adalah penutup kami. Menara adalah bayonet kami. Orang-orang beriman adalah tentara kami. Tentara ini yang akan menjaga agama kami'.
Sepenggal sajak penyair Turki, Ziya Gokalp, dulu konon kerap dibacakan Recep Tayyip Erdogan.
Itu merupakan sajak sindiran, dan tentara justru menjadi pihak yang paling tersindir.
Mereka naik pitam, menuduh pria pemberani itu memprovokasi.
Pada 1998, Erdogan pun dibui.
Tentara lalu menyatakan menyesal.
Ketika Erdogan menjadi perdana menteri, tentara dibereskan, ditertibkan, agar tak lagi ikut serta dalam politik praktis.
Akan tetapi, bagi tentara, sejarah rupanya telanjur jadi inspirasi.
Hubungan tentara dan Erdogan memang relasi yang penuh syak wasangka. Keduanya saling 'mengintai', saling 'menundukkan'.
Tak ada loyalitas penuh militer atas sipil, sebab tentara menyimpan memori kemenangan dalam menentukan kekuasaan.
Karena itu, tak ada yang mengejutkan di Turki hari ini.
Tentu saja termasuk soal kudeta militer yang gagal, Jumat lalu.
Di Turki, kudeta memang bukan peristiwa tanpa sebab, tanpa sejarah.
Sejarah di negeri itu mengajarkan tentang ketidakpuasaan terhadap rezim berkuasa ditunjukkan dengan bedil.
Berkali-kali. Bedil yang menyalak dalam kudeta tempo hari sedikitnya mencabut nyawa 260 manusia.
Tentara negeri itu selalu merasa menjadi penentu setiap ada yang mereka anggap keliru.
Mereka menganggap suksesi bukanlah seperti dalam demokrasi pada galibnya.
Militer menganggap suksesi yang tertib hanya ada dalam kitab-kitab demokrasi sebagai teori. Bukan demokrasi dalam praktik!
Sejarah mencatat sejak 1960 telah terjadi lima kali kudeta di negeri yang didirikan Kemal Pasha Ataturk itu.
Dukungan publik yang padu waktu awalnya, sejak Jenderal Cemal Gursel merebut kursi Perdana Menteri Menderes, 27 Mei 1960, seperti jadi 'candu' tentara melakukan suksesi.
Di masa lalu, kudeta memang seperti menjadi hobi negeri-negeri berkembang pada umumnya.
Sebuah cara yang kini jadi olok-olok para pecinta demokrasi.
Untunglah kudeta gagal.
Untunglah rakyat Turki tak lagi punya nostalgia dengan kudeta.
Rakyat justru antipati.
Marah!
Mereka melawan tentara makar itu.
Rakyat mengikuti seruan Presiden Erdogan turun ke jalan. Mendukung penuh pemerintah yang sah.
Tak kurang dari 6.000 ribu tentara dan pelaku makar diburu dan ditangkap.
Pastilah penjara bakal menanti mereka.
Kita tahu Erdogan memang bukan pemimpin yang sempurna.
Bagi Turki, ia harapan, tetapi belakangan menjadi kecemasan juga.
Sejak terpilih menjadi presiden pada 2014, sang harapan itu memberangus musuh-musuh politiknya tanpa ampun.
Pers kritis, oposisi, dan para penegak demokrasi mengalami mimpi buruk.
Beberapa wartawan dipenjarakan karena dituduh berkomplot dengan oposisi.
Mereka dituduh berada di barisan Fethullah Gulen, ulama yang dulu jadi karib Erdogan.
Kebencian Erdogan kepada Gulen memang telah berada di titik didih.
Kini dalam soal kudeta, telunjuk pemerintah pun diarahkan kepada Gulen yang bermukim di Amerika.
Erdogan yakin ulama yang juga pengusaha itu menjadi sang dalang makar.
Turki, setelah beberapa kali dihajar bom bunuh diri, problem pengungsi, dan kudeta, akan menghadapi hari-hari mereka yang kian penuh syak wasangka kepada tentara, kepada seluruh lawan politik.
Keberhasilan Erdogan memajukan ekonomi ialah satu hal yang membuat rakyat masih mencintainya.
Namun, cara-cara yang kian represif agaknya tak akan berhenti.
Itulah dilema demokrasi di Turki hari ini.
Indonesia mesti mengambil pelajaran yang amat berharga itu.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved