Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Level of Confidence

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
18/7/2016 06:00
Level of Confidence
(AFP/JUSTIN TALLIS)

INGGRIS punya pemimpin negara yang baru, Theresa May. Lagi, negara itu dipimpin perdana menteri perempuan, setelah Margaret Thatcher.

PM May menghadapi masalah besar setelah negaranya keluar dari Uni Eropa.

Taktis, belum tentu strategis, ia mengangkat Boris Johnson, mantan Wali Kota London, pendukung utama dan juru kampanye Brexit, menjadi menteri luar negeri.

Mampukah pemerintahan baru mengatasi persoalan besar yang dihadapi? Sebagian besar jawaban kiranya ditentukan seberapa tinggi level of confidence PM May.

Ia pendukung Inggris tetap bertahan dalam Uni Eropa, tetapi kini bertanggung jawab memimpin negaranya membereskan tata hubungan baru ekonomi dan politik dengan Uni Eropa, bahkan dunia, setelah keluar dari Uni Eropa.

Salah satu pertanyaan besar misalnya menyangkut eksistensi NATO.

Nyonya May berpengalaman sebagai menteri dalam negeri.

Ia dinilai sebagai seorang pemimpin yang lebih didorong moralitas, perihal benar dan salah, daripada ideologi.

Contohnya, ia berani menghajar korupsi di kepolisian Inggris.

Setelah Brexit, apakah moralitas lebih diperlukan daripada ideologi?

Pertanyaan lain, berapa tahun Inggris dapat membereskan dirinya? Seberapa hebat level of confidence PM May, sebagai pemimpin yang baru, menjadi faktor yang signifikan.

Dalam hal level of confidence pemimpin negara itu, kiranya Republik ini telah melewati tahap skeptisisme.

Belum genap dua tahun Presiden Joko Widodo memimpin Republik ini, publik telah dapat melihat, merasakan, dan diyakinkan bahwa Presiden Jokowi memiliki level of confidence yang sangat tinggi.

Level yang sangat tinggi itu terutama tecermin dari keputusan mengenai isu-isu kepublikan yang kontroversial, yang diselesaikan dengan kalem, tapi tegas.

Isu kepublikan yang mutakhir ialah perihal pengangkatan Kapolri.

Presiden tidak memilih perwira tinggi bintang tiga senior, tetapi justru yang termuda, Jenderal Tito Karnavian.

Level of confidence Presiden sangat tinggi, berani mengambil keputusan tanpa menimbang faktor urut kacang.

Senioritas tentu saja faktor penting, tetapi bukan segalanya.

Presiden memilih berbasiskan merit system serta faktor personalitas Jenderal Tito, yang dalam konteks senior-junior, tahu menempatkan diri, serta respek.

Memilih yang termuda, yang mumpuni, merupakan keputusan berjangka panjang, sampai akhir pemerintahan Jokowi jilid 1, Oktober 2019.

Mengangkat yang senior, yang sebentar lagi pensiun, lebih merupakan keputusan memberi penghargaan.

Bukan keputusan seorang pemimpin yang negarawan.

Keputusan memberi promosi cuma bikin senang dan adem dari serangan kontroversi, kiranya hanya diambil pemimpin yang level of confidence-nya rendah-menengah.

Kapolri baru telah dilantik dan semua kontroversi, termasuk mengenai posisi Jenderal Budi Gunawan, selesai dengan bijak berkat keputusan yang multidimensional yang diambil dengan level of confidence yang tinggi.

Ujian lain level of confidence Presiden Jokowi diperlihatkan dalam pengambilan keputusan politik pengampunan pajak, yang kemudian diikat melalui proses legislasi, menjadi undang-undang.

Level of confidence Presiden Jokowi yang tinggi itu kiranya memberi rasa adem, ayem, dan trust kepada pemilik uang untuk memboyong kembali aset mereka ke negeri tercinta.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.