Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM pengaturan kesehatan dan pengendalian penyakit, dunia mengenal dua organisasi, yaitu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Mengapa hewan mendapat perhatian yang sama dengan manusia? Karena ada penyakit hewan yang bisa menular kepada manusia atau disebut zoonosis. Pada masa perang, banyak penyakit hewan yang dipergunakan untuk menyerang lawan.
Kita mengenal penyakit anthrax. Bakteri bacillus anthracis itu bisa membuat orang tersiksa kalau sampai tertular dan bahkan mematikan. Oleh karena sifatnya yang menular, dunia membuat pengaturan perdagangan produk asal ternak. Pengaturan dibuat sangat ketat karena jangan sampai manusia menjadi korban.
OIE mendata penyakit-penyakit hewan yang ada di setiap negara dan memberikan peringatan kepada semua negara untuk berhati-hati apabila ingin melakukan importasi. Amerika Serikat, misalnya, dikategorikan sebagai negara yang tidak bebas penyakit sapi gila atau mad cow.
Negara lain boleh saja melakukan importasi daging dari Amerika Serikat, asal sadar akan konsekuensinya. Jika virus itu masuk ke manusia, sistem saraf otak akan diserang dan menyebabkan penyakit Creutzfeldt-Jakob. Karena begitu menakutkannya penularan penyakit hewan ke manusia dan juga hewan, semua negara di dunia memiliki badan kesehatan hewan.
Badan itulah yang bertanggung jawab merekomendasikan importasi ternak dan produk ternak agar tidak ada dampak merugikan. Aturan importasi dibuat ketat karena semua negara tidak ada yang mau mengambil risiko. Jangan sampai kita asal melakukan importasi dan sekadar mencari harga yang murah, tetapi akibat jangka panjangnya akan jauh lebih mahal.
Kita pernah punya pengalaman buruk ketika penyakit mulut dan kuku menyerang sapi di Indonesia. Kita membutuhkan waktu 100 tahun untuk mengeradikasi penyakit itu. Sekarang Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang terbebas dari penyakit mulut dan kuku. Terus terang kita kaget dengan kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk membuka keran impor daging sapi dan jeroan.
Hanya karena terpukul janjinya untuk menjual harga daging sapi Rp80 ribu per kilogram pada saat Lebaran lalu tidak tercapai, pemerintah lalu memperbolehkan siapa pun untuk mengimpor daging sapi dan jeroan. Bahkan, importir tidak perlu lagi mendapatkan rekomendasi Direktorat Kesehatan Hewan untuk memasukkan daging dan jeroan ke Indonesia.
Peraturan Menteri Pertanian yang dianggap menghambat dan menyebabkan harga daging mahal diputuskan untuk dicabut. Sungguh mengerikan kebijakan yang dilakukan pemerintah itu. Padahal mahalnya harga daging sapi bukan disebabkan peraturan tentang importasi, melainkan karena kita tidak pernah menangani secara benar sistem produksinya.
Kebijakan itu tidak hanya membuat Indonesia akan dianggap aneh oleh OIE, tetapi juga bisa-bisa harga yang kelak harus dibayar akan lebih mahal lagi. Kita tidak bisa bayangkan kalau kasus sapi gila sampai muncul di Indonesia, atau penyakit mulut dan kuku merebak kembali di Tanah Air.
Kita bukan hanya akan menghadapi larangan ekspor ke negara lain, para turis pun akan ketakutan mengonsumsi produk peternakan karena tidak melewati prosedur pengawasan yang seharusnya. Pepatah Minang mengatakan 'Tak pandai menari dikatakan lantai berjungkit'.
Jangan sampai karena ketidakmampuan kita mengelola sistem peternakan secara benar sehingga harga daging mahal, kesalahannya dilimpahkan kepada sistem penanganan kesehatan hewan. Kita ingin mengulangi, tugas negara bukanlah menciptakan harga daging murah, melainkan membuat harga daging wajar. Harga itu di satu sisi harus membuat konsumen mampu menjangkaunya, tetapi di sisi lain mesti mendorong peternak mau meningkatkan produksi.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved