Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Jalan Setapak Jenderal Tito

Djadjat Sudradjat
15/7/2016 07:02
Jalan Setapak Jenderal Tito
(MI/ARYA MANGGALA)

"HARAPAN itu ibarat jalan setapak di dalam hutan. Di sana tak pernah ada jalan. Namun, jika kita berusaha menelusurinya, pasti jalan itu akan terbuka."

Peribahasa Tiongkok itulah yang kerap diperdengarkan kepada para amtenar di 'Negeri Tirai Bambu' itu agar mereka tak mudah patah arang setiap menghadapi aral, bahkan musibah.

'Jalan setapak' atau harapan itulah yang kini tengah dtempuh atau dialamatkan pada Kapolri baru Jenderal Tito Karnavian.

Selama ini kita tak tahu lewat jalan mana Polri melakukan reformasi mendasar, reformasi kultural.

Kita tak tahu lewat cara apa Polri menjadi institusi yang cemerlang, yang ketika publik berdiri lalu memandangnya dengan takzim.

Selama ini Polri serupa harapan yang pupus.

Simak survei-survei tentang indeks persepsi korupsi di tubuh Polri, kita belum mendapatkan hasil yang membuat sikap kita jadi penuh hormat.

Wajar jika seusai melantik Tito, Presiden Jokowi meminta Kapolri baru yang merupakan lulusan Akpol angkatan 1987 itu melakukan reformasi menyeluruh di tubuh Korps Bhayangkara.

Jokowi minta Tito memberantas mafia hukum dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Tito menyebut reformasi yang akan dilakukan ialah reformasi kultural, reformasi mendasar, refromasi menyangkut laku manusia.

Reformasi yang hanya permukaan tak akan punya manfaat.

Ia hanya aksi yang hanya menghabiskan energi.

Kita tahu harapan besar memang membuat segala yang muskil menjadi mungkin.

Tito agaknya harapan terakhir kita (?).

Artinya, jika sosok penuh prestasi dan menjadi pusat pengharapan di tubuh Polri itu ternyata melisut, sama saja dengan yang lain, sebaiknya panggung pengharapan ditutup.

Itu berarti tanda institusi penegak hukum itu berada di tubir jurang.

Namun, jika suara banyak pihak dicermati, rupanya Tito serupa oasis di tubuh Polri.

Predikat itu bukan datang dari langit, melainkan dari jejak jenderal polisi berusia 52 tahun itu.

Kita bukan hanya melihat bukti dari berbagai prestasi pria kelahiran Palembang, Sumatra Selatan, ini, melainkan juga ketika ia menjalani uji kelayakan dan kepatutan di hadapan Komisi III DPR, 23 Juni.

Ia dengan penuh kesungguhan bertekad menegakkan fungsi Polri sebagai penegak hukum profesional dan modern.

Komisi III pun setuju belaka akan calon Kapolri pilihan Jokowi itu.

Di DPR pula ia pertama kali bicara reformasi kultural di tubuh Polri.

Rekrutmen bersih, pendidikan berkualitas, pembinaan satuan, pengembangan soliditas internal, dan perbaikan kesejahteraan.

"Rekrutmen awal itu 70% menentukan kinerja. Kalau memilih orang yang tidak tepat, mereka bukan menjadi pelindung, melainkan malah menjadi pengganggu masyarakat," katanya.

Ia juga mengatakan pihaknya akan menanamkan budaya antikorupsi secara terus-menerus.

Itu sebabnya ia akan mewajibkan anggota Polri menyerahkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) kepada KPK.

Bukankah di waktu yang lalu pernah ada jenderal polisi, senior Tito, yang secara terang-terangan menantang KPK, tak mau menyerahkan LHKPN?

Itu artinya, Tito harus bekerja ekstra keras, menyolidkan internal Polri, khususnya para senior Tito, untuk bersatu mendukung kepemimpinan dirinya.

Kehadiran beberapa kapolda yang juga senior Tito sewaktu pelantikan mestinya jadi bukti soliditas Polri dalam mendukung Tito.

Bukan formalitas-simbolis.

Kita paham, tekad Tito melakukan reformasi kultural di tubuh Polri sesungguhnya bukan pekerjaan ringan.

Ia menghadapi barisan senior yang sebagian telah kena penyakit hedonis, korup, nepotis, dan kolutif.

Inilah sesungguhnya yang akan menentukan berhasil tidaknya Tito mereformasi Polri.

Tekad menghargai senior yang dikemukakan Tito semoga bukan berarti perlindungan atas kesalahan para seniornya.

Tito juga harus bisa menjamin dan menghentikan laku 'balas dendam' polisi jika mereka terlibat korupsi dan berurusan dengan KPK, seperti yang sudah-sudah.

Ah, sungguh 'jalan setapak' Tito, menghadapi rekan dan seniornya, bisa jadi berkelok dan terjal.

Namun, betul kata Albert Einstein, "Yang penting jangan pernah berhenti untuk berharap."

Selamat menelusuri 'jalan setapak, Jenderal Tito.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.