Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Arah Angin

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
14/7/2016 05:31
Arah Angin
(AFP PHOTO / Tasos KATOPODIS)

PERDAGANGAN bebas terancam runtuh bila Marine Le Pin memimpin Prancis dan Donald Trump memimpin Amerika Serikat. Keduanya penganut garis keras nasionalisme ekonomi. Keduanya cocok betul dengan take control yang diusung pendukung ‘Brexit’.

Trump menilai NAFTA, perjanjian perdagangan bebas AS-Meksiko-Kanada, sebagai kesalahan terbesar dalam sejarah. AS bakal cabut dari NAFTA. Bahkan, bila ‘Brexit’ cuma keluar dari Uni Eropa, ‘Amexit’ tak hanya keluar dari NAFTA, tapi juga hengkang dari TPP (Trans-Pacifi c Partnership) yang diperjuangkan Barack Obama. Di tangan Trump, TPP yang diikuti 12 negara dan tengah berproses dipastikan ‘dibuang ke laut’.

Trump mengkritik tajam WTO. Dalam bahasanya yang dramatis, masuknya Tiongkok ke WTO merupakan pencurian lapangan kerja terdahsyat dalam sejarah. Apakah WTO punya taring bila tanpa AS dan Inggris? Jawabnya, WTO bukan cuma tak bertaring, melainkan ompong, bila juga Marine Le Pin memimpin Prancis. Trio AS-Inggris-Prancis kiranya trio nasionalisme ekonomi yang keras hati ingin membalikkan arah angin dunia bahwa dunia sebaiknya putar arah. Meminjam bahasa dramatis Trump, dunia tanpa batas kesalahan terbesar dalam sejarah!

Marine Le Pin, presiden Partai Front Nasional, sudah lama berkeinginan Prancis keluar dari Uni Eropa, yang katanya merupakan penjara bagi 28 negara anggotanya. Uni Eropa merupakan institusi supernasional, yang telah merenggut kedaulatan negara, yang menentukan hukum berlaku tanpa diinginkan rakyat negara yang bersangkutan, yang membuka perbatasan negara tanpa diinginkan negara yang bersangkutan. Atas nama homogenitas, dengan satu mata uang, negara kehilangan hak bujet. Katanya, ‘Brexit’ telah menyuarakan suara rakyat yang takkan terbendung.

Trump bakal menjungkirbalikkan kebijakan pendahulunya, Barack Obama. Demikian juga Le Pin, menjungkirbalikkan kebijakan Presiden Francois Hollande. Agaknya sebuah keniscayaan, pemimpin kemudian berpisah jalan dengan pendahulunya.

PM Kanada Justin Trudeau pun mengambil kebijakan berseberangan dengan pendahulunya, Stephen Harper, yang memperketat visa bagi warga Meksiko. Trudeau mengatakan, mulai 1 Desember 2016, tak perlu lagi visa bagi warga Meksiko untuk masuk ke negaranya. Trudeau tidak hanya berbeda dengan pendahulunya, tapi juga berseberangan dengan tetangganya, AS, bila dipimpin Trump.

Meksiko menanggapi Trudeau lebih cepat. Mulai 1 Oktober 2016, Meksiko mengakhiri pembatasan impor daging dari Kanada. Di tengah skeptisisme terhadap perdagangan bebas yang disuarakan Trump, tetangga dekatnya malah kembali memercayainya.

Ketika berkuasa, PM Stephen Harper mengambil kebijakan represif untuk menghentikan klaim bohong para pendatang asal Meksiko yang mengaku mencari suaka politik di Kanada. Sejak berlakunya NAFTA (1994), pemohon suaka membeludak dari hanya 250 orang pada 2005, naik 15 kali lipat (3.350 orang) pada 2005, melompat jauh 36 kali lipat (9.000 orang) pada 2009.

Dalam menghadapi kenyataan buruk itu, PM Harper mengambil langkah keras. Ia memberlakukan syarat visa yang ruwet, rumit, dan mahal sehingga tak terjangkau kebanyakan warga Meksiko. Namun penggantinya, PM Trudeau, kini meliberalkan kembali, justru di tengah fenomena bangkitnya nasionalisme ekonomi yang digelorakan ‘Brexit’.

PM Trudeau tidak khawatir dengan masalah migrasi. Padahal, masalah migrasi itulah yang dijadikan mantan PM Inggris Cameron kambing hitam kenapa pemilih bertahan di Uni Eropa kalah dalam referendum. Masalah migrasi itulah pula yang membuat Trump kepingin membangun tembok di perbatasan AS dengan Meksiko. Apa pun sang kambing hitam, dunia tinggal menunggu, apakah Donald Trump menjadi presiden AS dan Marine Le Pen menjadi presiden Prancis.

Tiap pemimpin negara menyetir negara sesuai arah angin yang dipilihnya, tepatnya, yang dianutnya. Sekali pemimpin negara dipilih rakyat, sekali kemudi negara diserahkan kepada sang pemimpin, jangan tanya ke mana angin bertiup. Negara demokrasi ataupun otoriter, sepertinya sama saja, arah angin didikte sang pemimpin. Betapa sialnya sebuah negara bila salah pilih pemimpin.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.