Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
INILAH fakta mutakhir mengenai media sosial.
Instagram di-hit 500 juta pemakai.
Fakta lain, sebanyak 95 juta foto dan video di-posting di Facebook setiap hari.
Berapa banyak dari fakta itu netizen-nya orang Indonesia?
Seorang penulis buku menjawabnya dengan perbandingan yang amat kontras.
Katanya, Jakarta merupakan kota paling banyak orang ngetweet di dunia.
Sekitar 64 juta orang Indonesia memakai Facebook, yaitu lebih dari jumlah penduduk Inggris Raya.
Akan tetapi, 80 juta penduduk Indonesia hidup tanpa listrik (sebanyak semua orang Jerman), dan 110 juta hidup kurang dari 2 dolar AS per hari (sebanyak semua penduduk Meksiko).
Semua yang kontras itu saya ambil dari buku berjudul Indonesia Etc karya Elizabeth Pisani yang diterbitkan Yayasan Lontar pada 2014.
Elizabeth, koresponden Reuters dan The Economist (1988-1991), kembali lagi ke Indonesia setelah menyelesaikan studi epidemiologi.
Ia bekerja dengan Kementerian Kesehatan (2001-2005) dalam urusan HIV di kalangan pekerja seks, pemakai narkoba jarum suntik, serta gay di kota-kota besar.
Buku itu hasil 13 bulan perjalanan di negeri ini, yaitu menempuh 21.000 kilometer dengan sepeda motor, bus, dan kapal; serta perjalanan lainnya 20.000 kilometer dengan pesawat udara.
Hasilnya? Sebuah buku setebal 404 halaman yang mengeksplorasi Indonesia sebagai improbable nation, bangsa lengkara.
Lengkara artinya mustahil, sesuatu yang tidak mungkin ada.
Atas semua lengkara/mustahil itu, jurnalis perempuan yang menjadi epidemiolog itu kerap mempertanyakannya, dan mendapat jawaban, "Ya, begitulah Indonesia, Bu!"
Angka pengguna Facebook itu menunjukkan betapa 'terdepannya' orang Indonesia.
Betapa 'begitulah orang Indonesia'.
Salah satu yang hebat dalam pemakaian media sosial itu, meluasnya gejala selfie, memotret diri sendiri, lalu menyebarluaskannya ke ruang publik.
Penting benar cinta diri dan pamer diri.
Sudah tentu elite Indonesia termasuk yang 'pandai' bermedia sosial.
Salah satunya Wakil Ketua DPR Fadli Zon, yang memberikan klarifikasi melalui akun Twitter perihal anaknya, Shafa Sabila Fadli, yang minta dilayani Konsulat Jenderal RI selama berkunjung ke New York.
Tak hanya sampai di situ.
Pada 30 Juni 2016, pukul 12.05, Fadli Zon mem-posting video, "Putri saya Shafa Sabila Fadli menyanyikan lagu Tanah Airku."
Apa tujuannya?
Saya tidak tahu.
Saya hanya teringat buku Elizabeth Pisani, ingin meniru dan memodifikasi jawaban yang sering diperolehnya, "Ya, begitulah elite Indonesia."
Yang paling 'menggugat' dari buku itu ialah digunakannya kata 'etc', yang berarti 'dan lain-lain' (dll) sebagai judul buku, Indonesia Etc.
Elizabeth mengambilnya dari teks proklamasi yang ditandatangani Soekarno-Hatta, yang berbunyi, "Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya." Dalam teks asli, tulisan tangan, yang dipakai memang singkatannya, 'dll', alias 'etc.'
Tulis Elizabeth, "Indonesia has been working on that 'etc' ever since."
Sejak proklamasi 70 tahun lebih, Indonesia memang masih berurusan dengan berjibun perkara 'dan lain-lain' yang ternyata tidak dapat diselesaikan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Dalam konteks itu, pedih mengatakan, begitulah Indonesia, begitulah elite Indonesia, begitulah dll, dan lain-lain.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved