Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA yang mengamsalkan mudik di Indonesia serupa tawaf raksasa.
Ada yang mempersamakan mudik seperti wisata mahakolosal.
Ada pula yang mengatakan mudik ialah migrasi manusia terbesar di dunia.
Dari yang menempuh ratusan hingga ribuan kilometer.
Perjalanan panjang yang kerap menantang maut. Mudik pun menjadi urusan semua orang.
Namun, apa pun perumpamaan itu, para pemberi istilah ingin mengatakan betapa besar arus pergerakan manusia, utamanya dari kota ke desa.
Ada yang memperkirakan sekitar 20-25 juta manusia melakukan migrasi musiman Idul Fitri kali ini.
Jumlah yang luar biasa, setara dengan jumlah penduduk Malaysia.
Almarhum Umar Kayam sampai tak tahu pasti melihat fenomena mudik yang kian menjadi kebutuhan dan karenanya kian 'mentradisi' itu.
Menurut sosiolog itu, mudik Lebaran serupa menjalani ritus yang tidak jelas apakah suatu keajaiban fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya.
Keunikan itu justru tak terjadi di Timur Tengah.
Di saat Idul Fitri, kampung halaman serupa ibu yang memanggil anak-anaknya di mana pun untuk segara pulang.
Saya kira, mudik gabungan dari berbagai kemungkinan fenomena yang disebutkan Kayam itu, plus fenomena ekonomi.
Membaiknya perekonomian masyarakat secara umum menjadikan mudik kian menjadi kebutuhan.
Bahkan, mencermati pemudik dengan perlengkapannya, mudik seperti gaya hidup juga.
Idul Fitri tanpa mudik serupa manusia tak berasal usul, alias tercerabut dari lokus kulturalnya.
Udik menjadi tempat yang harus didekati. Ia keren!
Wajarlah jika ada sebuah perkiraan sekitar Rp125 triliun fulus dibelanjakan untuk urusan mudik dan Idul Fitri 2016.
Angka yang fantastis, setara seluruh uang yang dibelanjakan berkaitan hajatan politik bernama Pemilu 2014.
Tak kurang, 158 ribu petugas dari kepolisian, tentara, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, dikerahkan agar mudik aman dan nyaman, dalam kemasan 'Operasi Ramadniya'.
Tak berlebihan jika Google pun turut merayakan tradisi mudik. Senin (4/7) ia memajang doodle khusus di laman pencariannya tentang mudik.
Doodle ini berupa gambar ilustrasi beberapa orang yang bersiap untuk melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman.
Mereka membawa kotak berhuruf G, O, O, G, L, E.
Mudik pun menjadi salah satu parameter penting mengukur kinerja pemerintah.
Mudik yang kacau, infrastruktur yang tak memadai, kemacetan yang terus terjadi, dan tingginya angka kecelakaan akan menjadi catatan buruk kinerja pemerintah.
Memang secara umum, ada perbaikan manajemen mudik kali ini.
Presiden Jokowi beberapa kali terjun ke lapangan memastikan mudik kali ini benar-benar aman.
Karena itu, kemacetan berjam-jam di Brebes Timur, masyarakat menamainya 'Brexit' (Brebes exit), menjadi noda dari seluruh keseriusan pemerintah.
Bayangkan, untuk Jakarta-Wangon, Banyumas, yang berjarak 400 km, pemudik harus menempuh lebih dari 40 jam.
Kemacetan itu menjadi ironi justru ketika Tol Cipali telah diresmikan dan menyusul peresmian Tol Pejagan-Brebes Timur pertengahan bulan lalu.
Brebes Timur kali ini menjadi momok bagi para pemudik lintas tengah dan pantura.
Padahal, itu sesuatu yang bisa diprediksi dan diantisipasi, yakni bertemunya jalur tol dan ruas pantura dengan kondisi jalan yang lebih sempit.
Mudik aman dan nyaman ialah hak masyarakat. Kewajiban pemerintah menyediakan infrastruktur dan penjagaan memadai.
Tanpa mengurangi penghargaan pada pemerintah yang berupaya maksimal melayani mudik, kemacetan di Brebes jauh dari rasa nyaman itu.
Tidak hanya waktu habis di jalan, tapi juga fisik, psikis, dan dana.
Kemacetan di Brebes, sungguh, sebuah gerak mundur kehendak perbaikan pelayanan mudik.
Ia luput dari seluruh kalkulasi antisipasi.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved